Keysha kembali duduk dengan dua cup minuman dingin ditangannya. Aira menatapnya. Masih bertanya-tanya atas sikap Keysha yang tiba-tiba.
Asal kalian tahu, sekarang Keysha mentraktirnya.
"Jangan heran gitu. Gue tahu kok suami lo tajir. Tapi gue cuma mau traktir aja," ujar Keysha tiba-tiba. Aira yang masih menatapnya sontak terkejut.
"Aku nggak heran soal itu," sahut Aira. Ia mulai sibuk menuangkan sambal pada baksonya.
Terdiam sejenak. Kemudian Keysha menoleh. "Gimana kabar kamu?" tanyanya. Kembali merubah panggilannya.
Aira menoleh sekilas seraya tersenyum. "Alhamdulillaah. Aku baik-baik aja. Kamu sendiri?"
"Alhamdulillaah, baik juga."
Keysha meletakkan kembali sendoknya. Menghela napas, berusaha menyusun kata-kata.
"Aku ... minta maaf, ya, Ra?" lanjutnya tiba-tiba. Aira yang sedang mengunyah itu langsung berhenti dan menatap Keysha.
"Untuk?"
Keysha memutar tubuhnya benar-benar menghadap Aira. "Seharusnya sebagai sahabat, aku selalu support dan dukung kamu saat masa-masa terpurukmu. Tapi aku malah ikut-ikutan menjauhimu dan diam saja ketika kamu di kata-katain sama mereka. Aku minta maaf," papar Keysha dengan nada penuh penyesalan. Matanya mulai berkaca-kaca.
Mendengar perkataan Keysha, Aira tersenyum kecil. "Gapapa, Key. Aku maklum. Berita yang beredar itu memang terlihat benar. Tapi sebenarnya nggak seperti yang terlihat."
Keysha mengangguk. "Meski awalnya sempat kecewa juga dan berpikir memang begitu adanya, tapi aku selalu merasa bahwa kamu nggak mungkin gitu. Kamu bahkan awalnya nggak tahu menahu soal Kak Indra 'kan? Selama beberapa bulan ini sejak aku jauhin kamu, aku selalu kepikiran. Tiap kali lihat kamu di kelas sendirian entah kenapa aku merasa sedih. Aku pengen nyapa tapi masih kecewa." Setitik air mata sudah menetes bersamaan ketika Keysha menyelesaikan perkataanya.
Aira tersenyum. Keysha memang selalu begini. Ia hanya terlihat galak, tetapi sebenarnya begitu sensitif jika sudah mengenai perasaan.
"Aku juga dengar dari Kak Iqbal kalau kamu diculik sama Regan dan Acha. Aku langsung nangis dengar itu, Ra. Padahal yang aku tahu Regan itu-"
"Sudah. Jangan dilanjutkan, Key. Jangan bahas soal itu. Tapi Kak Iqbal? Kamu ngobrol sama dia?" Aira menyela. Tidak ingin membiarkan mereka berdua membicarakan orang lain.
Keysha mengangguk sekali. "Iya sebentar. Pas aku ke kafe. Waktu kamu absen kuliah selama beberapa hari. Aku tanya. Trus Kak Iqbal cerita tapi sebentar aja," jawabnya.
Aira terdiam sejenak. Kemudian kembali mengaduk baksonya. "Jangan dibahas lagi, ya, Key? Itu udah berlalu. Ayo kita makan dulu, keburu dingin. Kapan lagi di traktir gini." Aira berusaha bergurau. Ia kembali menyuapkan sepotong bakso.
"Aku harus ketemu sama Kak Iqbal."
***
Pukul dua siang, Aira langsung menuju kafe. Begitu memasuki kafe, ia melihat Iqbal yang masih mengenakan seragamnya sedang duduk dengan mata yang fokus menatap laptop.
Aira segera menghampirinya. "Assalamu'alaikum, Kak Iqbal."
Iqbal sedikit terkejut dengan kehadiran Aira yang tiba-tiba. "Wa'alaikumussalam. Loh Ai? Tiba-tiba?" Sedikit melirik kearah samping Aira. "Indra mana?"
"Kak Indra masih sibuk di kantor Ayah. Mulai hari ini sudah bekerja disana."
Iqbal mengangkat kedua alisnya. "Oh ya? Dia nggak ada ngabarin kalau mulai kerja. Yaudah, duduk dulu sini. Mau minum apa? Atau mau makan juga?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Indra Aira
Romance"Saya terima nikah dan kawinnya Aira Humaira Azzahra binti Ahmad Hidayat dengan maskawin tersebut dibayar tunai!" Pernikahan didasari dengan keterpaksaan. Kedua insan yang awalnya tak saling mengenal menyatu dalam ikatan suci. Indra Fadil Dirgantara...
