12

28.3K 2.1K 232
                                        

Asap menguar dari belah bibir tebal sang dominan, bulan terlihat cantik memancarkan cahayanya, entah sudah berapa menit San duduk termenung menatap bulan di balkon dengan sebatang rokok. Saat ini bahkan ia hanya memakai celana pendek saja dan membiarkan telanjang dada, terlalu tenggelam akan tenangnya malam sampai ia abai dengan udara dingin yang menusuk.

Diliriknya sang kekasih yang terlelap sejak beberapa menit lalu, San menghela napas. Bohong jika ia tak merasa bersalah, bahkan saat ini rasa itu menggerogoti hatinya. San begitu menjaga Arvi bahkan ia enggan mencium kekasihnya sejak dulu tapi malam ini ialah bajingan ulung itu, ialah bajingan yang sudah merusak kekasihnya.

Sebatang rokok sudah habis, lagi ia membakar sebatang nikotin hanya untuk sekedar meredakan pikiran yang rumit.

Namun tak lama dari itu San beranjak saat mendengar ringisan kecil, ia mematikan rokoknya yang baru saja disesap. San membenarkan selimut Arvi, ia mengelus kepala sang submisif lembut lalu memberikan kecupan ringan di sana.

Arvi kembali tenang, ia terlelap kembali. Arvi sempat pingsan lalu sadar dan berontak, tapi San berhasil menenangkan si submisif sampai terlelap.

Helaian anak rambut San mainkan, senyuman tipis terbit diwajahnya.

"Aku mencintaimu Vi, sangat." San berucap lirih, seolah kalimat itu enggan di dengar oleh siapapun. Kalimat yang jarang sekali bahkan nyaris tak pernah ia katakan.

Arvi selalu bertanya siapa yang ia pilih antara ia dan Elio, San bisa saja menjawab dengan lantang jika ia memilih Arvi hanya saja terkadang San sadar diri, dihidup Arvi ia hanyalah luka. Jika suatu saat ada pria yang memang mampu bersanding dan membuat Arvi bahagia San akan melepasnya.

San tak begitu pandai mengatur waktu dan keadilan, ia tak begitu tahu cara bagaimana memperlakukan segalanya dengan seimbang. Ia juga sering memikirkan Elio dan Arvi secara bersamaan, San menyayangi Arvi sungguh. Ia tak mau kehilangan kekasih manisnya, tapi ia sadar diri ia tak pandai memberikan kebahagiaan, San tak sanggup melakukan itu. Seharusnya sejak awal ia tak membiarkan Arvi masuk dalam kehidupannya dan membuat semua rumit, ia hanya membuat Arvi terluka. Dulu prioritas dalam hidupnya Elio tapi saat Arvi datang San seharusnya bisa membagi waktu, tapi ia terlalu bodoh.

Memikirkan itu membuat San sesak, tak tahu harus melakukan apa. Di sisi lain Elio adalah teman pertama yang melindunginya, teringat dulu saat bagaimana ia tak memiliki teman di anggap anak sombong karena pendiam maka Elio lah yang menjadi tamengnya,  San hanya ingin membalas segala kebaikan Elio di masa lalu, ia tahu bagaimana sepi dan sakitnya tak ada seorang teman saat di masa kesulitan. Tapi perbuatannya justru melukai Arvi, San merasa serba salah dalam segala hal, jika bisa raga dibelah dua dengan jiwa yang sama San rela membaginya, memberikan waktu dan tenaga pada keduanya.

Dunia boleh mengatainya bajingan, brengsek atau bedebah ulung  San akan menerima semuanya tapi dunia tak ber-hak menuduhnya tak mencintai Arvi karena terlihat tak acuh pada sang kekasih. San mencintai Arvi walau ia terlihat abai.

"Bagaimana aku bisa menebus semuanya?" ucap San lirih.

Ia mengusap setiap bekas luka fisik yang ia berikan pada Arvi, tangannya bergetar melihat hal serupa yang Nadev lakukan pada Elio, bukankah sekarang ia satu sekelompok dengan Nadev?

San membersihkan seluruh tubuh Arvi, mengobati luka-luka yang ia berikan. Melihat orang yang dicintai terluka itu menyakitkan terlebih diri sendirilah yang menjadi sumber luka.

Tak pernah sekalipun San menangis di usianya yang sekarang, tapi malam ini air mata tanpa permisi terjun membasahi pipi, melihat kondisi sang kekasih yang begitu mengkhawatirkan.

Hanya air mata, tak ada suara atau bahkan isakan. San mengecupi tiap jengkal tubuh Arvi, berharap kecupannya menjadi obat ampuh yang bisa menghilangkan semua rasa sakit Arvi.

"Seharusnya kita tak pernah bertemu jika aku menjadi luka bagimu, aku tak tahu harus bagaimana setelah ini. Kau tahu? Aku San yang bodoh, tapi aku mencintaimu. Gengsiku begitu tinggi sampai aku menjadi pecundang yang tak berani menyatakan cintanya, aku pemalu, aku pendiam yang tak tahu harus melakukan apa, aku pria yang terkadang takut salah dalam melakukan sesuatu tapi hari ini, aku tahu ... jika semua yang aku lakukan salah. Jangan pernah meninggalkanku," tutur San sendu.

Hal yang paling ia takutkan dalam hidup akhirnya terjadi, ia tak akan berhasil dalam hubungan asmara karena nyatanya ia tak hebat dalam hal itu. Alasan San tak pernah menerima perasaan orang yang menyukainya karena ia takut menyakiti mereka, tapi Arvi, submisif ini menjadi korban atas perasaannya yang tak bertanggung jawab. Andai saja ia tak menyukai Arvi juga mungkin San bisa menolak cinta Arvi. San sulit untuk jatuh cinta tapi sekali jatuh cinta ia menjadi orang gila dan tak waras sampai tak memikirkan akibatnya, Bawen dan Hia pernah menyuruh untuk menjadikan Elio sebagai kekasihnya saja tapi San menentang hal itu, karena Elio sudah ia anggap sebagai adik, kasih sayangnya terhadap Elio dan Arvi berbeda. Mungkin sering kali ia mendahulukan Elio tapi jika boleh jujur tetap saja dunianya Arvi. San tanpa Arvi, hancur.

"Bencilah aku setelah ini, aku penjahat Vi." San memeluk Arvi bergabung dalam selimut tebal yang menghangatkan. "Aku mencintaimu, sangat. Aku akan hancur jika tanpamu, aku bersungguh-sungguh atas ucapanku," sambungnya.

_____

Uhuy

Udah ah hujat San nya nanti nyesel😝🤣

SECOND [lengkap]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang