DELAPAN BELAS

5K 389 60
                                        

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

(Allahumma sholli ala sayyidina muhammad wa ala ali sayyidina muhammad)

🦋🦋🦋🦋

Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul delapan ketika Azzam akhirnya kembali ke kamar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul delapan ketika Azzam akhirnya kembali ke kamar. Rasa lelah setelah seharian beraktivitas membuatnya langsung merebahkan tubuh di atas ranjang.

Di sampingnya, Meera masih bersandar pada kepala ranjang sambil menikmati sebuah novel romansa remaja yang sejak tadi tak lepas dari genggamannya. Azzam memiringkan tubuhnya menghadap sang istri. Tatapannya tak beralih sedikit pun dari wajah Meera, seolah ada sesuatu yang ingin disampaikan.

"Apa, Mas?" tanya Meera tanpa mengalihkan tatapan dari buku di tangannya

Azzam berdecak, tetapi lelaki itu tetap berusaha membuat Meera memusatkan atensi padanya. "Lihat sini sebentar," ucap Azzam. Meera mau tak mau menoleh untuk memberi perhatian sepenuhnya pada lelaki di sampingnya, mengesampingkan bacaannya dan menetap Azam dengan pandangan heran

"Kenapa sih?"

"Ada yang mau saya omongin sama kamu."

"Yaudah, mau ngomong apa?"

"Kalau ternyata bunga-bunga itu memang dari Kaatiya, kamu nggak apa-apa?" tanya Azzam hati-hati. Baginya, perasaan Meera tetap menjadi hal yang paling utama.

"Aku nggak masalah," ucap Meera dengan seulas senyum. "Mungkin aja dia memang belum tahu kalau sekarang kamu sudah menikah. Jadi, menurutku nggak ada yang salah." Tatapannya beralih pada Azzam. "Kamu mau ketemu sama dia?"

Azzam menggeleng pelan. "Belum tahu. Kalau nanti memang harus bertemu, saya nggak akan datang sendirian. Saya ingin kamu ikut, karena saya harus memperkenalkan istri saya kepada dia." Ujar Azzam sembari mengusap rambut Meera dengan lembut, tangannya menarik tubuh perempuan itu hingga berada dekat di sampingnya.

Meera harus mengakui, Azzam benar-benar memuliakannya sebagai seorang istri. Tak pernah sekalipun lelaki itu membuatnya merasa harus bersaing dengan masa lalunya. Justru, dalam setiap sikapnya, Azzam selalu berusaha meyakinkan bahwa kini Meera adalah perempuan yang ia utamakan.

"Iya, nanti aku temani." Ucapnya sembari tersenyum.

"Maaf, ya?" Ucap Azzam lirih. Tangan lelaki itu bergerak mengusap punggung Meera dengan hati-hati, seolah kalau salah gerakan sedikit saja, mampu membuat perempuan itu hancur lebur dalam hitungan detik. "Saya ingin meluruskan ucapan saya waktu itu kepada Kaatiya. Itu bukan pernyataan, apalagi janji. Saya hanya bergumam tanpa berpikir apapun. Tapi ternyata... dia menangkapnya sebagai sebuah janji."

ZAMEERA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang