TUJUH BELAS

5K 398 67
                                        

ِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Setelah insiden sakit kemarin, Azzam benar-benar tidak mengizinkan Meera melakukan kegiatan berat yang membutuhkan banyak tenaga

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah insiden sakit kemarin, Azzam benar-benar tidak mengizinkan Meera melakukan kegiatan berat yang membutuhkan banyak tenaga. Pasalnya, meski perempuan itu berkali-kali mengatakan dirinya sudah sehat, tubuhnya masih terasa hangat, bahkan demamnya belum sepenuhnya turun.

"Makan dulu, ini buburnya dibuatin langsung sama Umi. Katanya, menantu kesayangannya nggak boleh sakit. Masa Umi terus-terusan menuduh saya yang bikin kamu sakit begini? Emang iya?" tanya Azzam.

Meera menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menatap Azzam lekat. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum jahil. "Kayaknya iya deh, Mas" jawabnya lalu terkekeh pelan.

Azzam mengernyit. "Kok gitu sih?"

"Soalnya habis nikah sama kamu, aku jadi sering deg-degan. Mungkin itu penyebabnya," godanya.

Meera kembali tertawa kecil sebelum menggeleng pelan. "Nggak, bercanda. Aku nggak apa-apa, kok. Lihat, sekarang udah sehat begini."

Azzam menghembuskan napas pelan. "Obat yang saya beli udah di minum, kan? Kalau panasnya belum turun juga, kita ke rumah sakit, ya?"

"Udah aku minum. Badanku juga udah jauh lebih enakan." Meera tersenyum tipis. "Kamu juga katanya kepalanya pusing. Jangan cuma mikirin aku, tapi pikirin diri kamu juga. Kamu juga harus minum obat." Meera berusaha membantu Azzam duduk dengan benar. Lelaki itu masih berlutut di sisi sofa, kedua lengan kekarnya melingkari pinggang ramping Meera yang duduk di atas sofa, membuat perempuan itu nyaris tak memiliki ruang untuk bergerak.

"Saya sudah menemukan cara paling mujarab buat bikin saya cepat sembuh tanpa obat," jawab Azzam dengan senyum kecil yang menggantung di sudut bibirnya.

Meera mengernyit penasaran. "Memang ada yang begitu?"

Azzam terkekeh pelan. Bukannya menjawab, lelaki itu justru merebahkan kepalanya di atas paha Meera. Ia mengusap-usapkan pipinya pelan, seolah sedang mencari tempat paling nyaman untuk beristirahat. "Ada, kamu." Suaranya terdengar lirih. "Begini aja saya udah ngerasa jauh lebih baik. Apalagi kalau ditambah peluk."

Bersamaan dengan kalimat itu, kedua lengan Azzam semakin mengerat memeluk pinggang Meera.

Senyum tipis merekah di wajah Meera. Perlahan, ia mengangkat tangannya, lalu menyelipkan jemarinya di antara helai rambut hitam legam Azzam. Ujung-ujung jarinya mengusap lembut rambut lelaki itu dengan penuh kasih sayang, berharap sentuhan sederhana tersebut mampu menghadirkan rasa nyaman bagi Azzam yang masih bersimpuh di hadapannya.

ZAMEERA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang