SEMBILAN BELAS

4.9K 370 67
                                        

بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

(Allahumma sholli ala sayyidina muhammad wa ala ali sayyidina muhammad)

🦋🦋🦋🦋

"Mas, umi bilang apa katanya?" Tanya Meera sembari melangkah ke arah Azzam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Mas, umi bilang apa katanya?" Tanya Meera sembari melangkah ke arah Azzam. "Umi udah tau, kan, kalo aku sama kamu mau ke pondok?"

Azzam menoleh, perhatiannya langsung fokus kepada Meera yang sedang sibuk membolak-balik sebuah buku dari rak koleksi di sudut ruangan. Tangan kanannya yang bebas Azzam gunakan untuk menggerakkan kursor laptop. Layar benda itu sedang menampilkan sebuah dokumen Powerpoint yang akan menjadi bahan mengajar hari ini di pondok.

Mereka sedang berada di ruang kerja Azzam pagi itu. Lelaki itu sengaja datang lebih awal ke kantor karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan, sekaligus merampungkan materi Powerpoint yang akan ia gunakan sebagai bahan mengajar di pondok.

Sebenarnya Azzam tidak berniat datang ke kantor hari ini. Namun, ada beberapa dokumen penting yang harus ditandatangani secara langsung sehingga ia memutuskan untuk mampir sebentar. Mangkannya Meera sekalian ia bawa ke kantor karena setelah ini mereka akan langsung ke pondok. Sementara Azzam sibuk di depan laptopnya, Meera mengisi waktu dengan berkeliling kecil di dalam ruangan, memperhatikan setiap sudut ruang kerja suaminya yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Iya, sayang. Umi tau."

Meera mengangguk, tapi perhatiannya belum juga lepas dari deretan buku yang tersusun rapi di rak. Jemarinya bahkan sempat menyusuri punggung beberapa buku, seolah sedang mencari judul yang menarik perhatiannya. "Aku baru tau kalo kamu ternyata suka baca buku juga. Romance ada, self-improvement ada, bisnis juga ada."

Azzam ikut menoleh ke arah rak buku itu, lalu tersenyum tipis. "Belum lengkap."

"Maksudnya?"

Azzam menyandarkan punggung pada kursi. Tatapannya jatuh pada sosok perempuan yang kini berdiri di depan rak buku. "Novel karya kamu nggak ada di situ."

Untuk sesaat, Meera hanya diam. Ucapan itu membuat pikirannya seperti berhenti bekerja. Ia bahkan sempat mengira dirinya salah dengar.

"Kamu..." bibirnya bergerak pelan, "tahu kalau aku nulis?"

Azzam mengangguk tanpa ragu. "Tahu."

ZAMEERA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang