KAMPUNG DUKU TEMPAT JATUH CINTA

198 31 9
                                        

Kayara memutuskan tinggal dengen nenek Shilla. Menurutnya, lebih aman dan tentu saja irit. Daripada sekedar bayar apartemen atau kontakan, lebih baik terima saja niat baik orang. Sebenarnya tidak enak tinggal di rumah orang lain--meski rumah tersebut milik keluarga Shilla. Tapi apa boleh buat, daripada mencari kontrakan sekitar sana, yang belum tentu dapat kontrakan aman.

"Yaya kalau mau ngapain aja bebas kok."

"Iya Ambu."

"Pokoknya silahkan saja mau masak atau misal pengen makan yang lain, bebas."

"Siap Ambu, terimakasih ya." Kayara memberikan senyum tulus pada Ambu. Setelah basa basi, Kayara memutuskan lebih baik keluar. Niatnya ingin melihat pemandangan pagi-pagi yang biasanya sejuk dan adem. Namun ketika Kayara membuka pintu luar, senyuman yang mengembang tergantikan oleh dengan kerutan di dahi.

Bukan pemandangan yang sejuk.

Juga bukan suasana yang adem

Atau mungkin embun-embun masih tertinggal di rumput.

Melainkan sekumpulan manusia yang tak lain adalah orang yang ingin sekali Kayara telan hidup-hidup.

Kayara menghela napas berat, lalu berjalan ke arah pos satpam. Katanya sih, pos tersebut tepat gibah para ibu-ibu. Begitu kata Shilla.

Dan ternyata ada benarnya pos satpam di jadikan tempat untuk mencari bahan gosip.

"Serius bang?"

"Elah mpok, yakali gue sebagai RT bohong. Lima rius, cukup kagak?" Kata Rasyid dengan Wajah yang terlihat serius. Kali ini memang Rasyid membawa info yang mengejutkan Mpok Nina dan mpok Hindun.

"Omongan bang Rasyid kadang ke timur, taunya ada di barat. Nah, makanya Mpok Hindun memastikan." Sahut mpok Nina dengan di angguki setuju oleh mpok Hindun.

"Yakali gue bohong ini para mpok." Kayara masih diam mematung, melihat satu pria dan dua perempuan yang mungkin sudah akrab dengan Rasyid. "Gue minta Dokter Yaya nikahin gue, eh di tolak. Kurang apa dari gue? Kagak ada. Nyaris sempurna gini kok di tolak."

"Ada asam kagak?" Tanya mpok Nina yang terlihat jengkel. "Eneg gue denger RT berkicau."

"Udah pede, oon lagi. Mana ada pria minta di nikahi sama perempuan. Tolol tuh namanya" Ujar mpok Hindun terdengar kesal pada Rasyid.

"Ini kenapa gue sebagai RT malah kena bully? Kagak adil banget buat gue." Ujar Rasyid sembari ingin berdir. Sayangnya, Rasyid langsung kaget kala melihat wajah Kayara yang nampak sangat puas. "Ngapain lo di situ? Berdiri aja kayak hantu."

"Makanya punya nyali jangan kepedean, mantep lo kena julit ibu-ibu." Ujar Kayara seraya berjalan hendak duduk di pos satpam. Kali ini Kayara mendapatkan dukungan yang memuaskan.

"Lo melukai hati gue, Ay." Dan rambut Rasyid kena jambakan Kayara. "Jambakan cinta kayaknya ini, soalnya sakit banget."

Kayara acuh tak acuh, mengabaikan Rasyid mulai drama. Lalu Aya menyapa para ibu-ibu yang pernah dia lihat waktu di rumah sakit kala itu.

"Alhamdulillah di Puskesmas kita bakal ada Dokter muda, sepet kalau ke sana ketemu Dokter yang udah berumur. Mana judes." Suara mpok Hindun mulai mengabaikan keberadaan sosok Rasyid.

"Setuju gue sama mpok Hindun, mana galak lagi." Kata mpok Nina nampak terlihat ikut senang mendengar kabar baik tersebut.

"Kalau Dokter Kayara kan, mayan lah masih muda." Rasyid sudah hapal dengan lanjutan yang akan di lontarkan oleh mpok Hindun. "Bisa kita ajak gibah."

Benar kan? Mpok Hindun ketuanya kalau ajak-mengajak gibah. Buktinya Rasyid sampai tergoda untuk nongkrong bareng, terus gibah. Percayalah, Rasyid gampang terhasut. Apalagi mengenai pergibahan yang sesuai fakta.

RASYIDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang