Detak jantung tidak karuan, badan tegang, jemari tangan gemeteran. Kurang menegangkan gimana lagi? Ini Rasyid, bukan Kayara. Membingungkan memang. Tapi bukan Rasyid namanya kalau tidak ada hal ajaib. Untuk selebihnya Kayara yang akan ngomong, bukan untuk keperluan Rasyid. Tapi entah mengapa justru Rasyid yang sibuk sendiri merapikan pakaiannya.
"Bisa diem engga?" Kepala Rasyid menoleh, dia menyengir bentuk malu. "Yang mau ketemu adik Mama kan, aku. Kenapa kamu yang cacingan?"
"Ets, mulut busuknya di filter dong cinta. Bagaimana pun juga aku ini calon ayah dari anak-anak kamu, wajar dong aku tegang. Apalagi mau ketemu Om kamu, harus terlihat wibawa."
"Udah wibawa ini. Amana kok." Rasyid terkekeh geli, padahal hatinya tidak karuan. "Tenang aja, kalau adik Mama engga restuin, kita bisa kawin lari."
"Allahuakbar, Astaghfirullah perempuan ini. Istighfar kata aku mah. Ngapain lari-lari, capek dong?"
"Pake mobil larinya, Syid."
"Kawin mobil itu bukan kawin lari."
Tergelak Kayara, matanya sudah tidak kuat menahan air mata saking ingin tertawa kencang. Pantas saja jodoh, hal yang di bahas kadang tidak di mengerti sebagian orang.
"Pokoknya tenang aja Syid, kita itu pejuang usaha. Jangan sampe perjuangan sia-sia."
"Habis itu bikin video clip, nyalain tuh lagu perjuangan sia-sia." Pecah lah tawa keduanya, sampai tidak menyadari sosok yang mereka tunggu sudah duduk di meja bersebrangan dengan dua mahluk yang asik dengan dunia mereka sendiri.
Yang lain ngontrak.
"Aya." Suara bas, serak basah, terdengar seksi. Itu di telinga Rasyid, berbeda di telinga Kayara. Mereka bisa melihat wajah orang tersebut. Andai saja Kayara tidak mengingat sosok ibunya, mungkin dia tidak akan begitu dalam menatap pria tersebut.
Semuanya, dari alis sampai dagu, terasa seperti ibunya.
Oke, Kayara harus terlihat tenang. Kata Rasyid juga, harus kokoh dan tegas. Menghadapi orang di masa lalu, memang harus santai. Berbeda dengan Rasyid, matanya sedikit menyipit. Dia tahu orang ini, tapi Rasyid tidak menyangka bahwa ternyata orang tersebut ada hubungannya dengan calon istrinya. Kalau tau begini, ngapain juga pakai terlihat keren.
Menyesal jadinya.
"Apa kabar bang Rasyid?"
"Baik gue, napa lo?" Kayara menoleh, wajahnya nampak kaget. Terdengar seperti sudah saling mengenal. Masa sih, tapi Rasyid tidak cerita. "Mas Gara namanya, teman mas Wahyu. Aku juga engga tahu loh sayang, kalau orangnya itu mas Gara."
"Boleh gue ngobrol sama Aya?" Rasyid mendelik. Gaya banget pake ijin, padahal dulu seneng isengin Rasyid. "Saya Sagara, adik dari ibu kamu. Ya, saya memang pengecut untuk sesuatu hal yang berurusan dengan keluarga. Termasuk menemui kamu."
"Senang mengenal, Mas Gara?" Kepala Rasyid mendengung, rasanya mau pecah saja. Ini apa juga sih pake begini takdir. Kurang mainstream apalagi ya ampun. Bingung Rasyid.
"Om, itu sebutan untuk kamu. Jangan ngikutin si cucunguk itu." Ujar Gara menatap ke arah Rasyid yang seperti ingin menelannya hidup-hidup. "Saya minta maaf."
"Untuk?"
"Baru berani menemui kamu." Kayara mengangguk paham. Sebenarnya ada rasa kekecewaan, hanya saja Kayara merasa tidak pantas untuk sebuah kecewa. Lagipula semua orang berhak atas kehidupannya. Termasuk Gara ini.
"Saya senang Om bisa mengakui kesalahan." Gara hanya mengangguk, dia masih betah menatap Kayara. Benar-benar jiplakan wajah kakak iparnya. "Ada hal yang ingin di bahas?"
KAMU SEDANG MEMBACA
RASYID
HumorDi tengah gempuran orang-orang yang banyak memilih menikah muda, Rasyid masih asik jadi RT. Masih senang main sama kucing yang di beri nama Jesica. Kenapa belum menikah? Baginya, belum waktunya untuk bertemu dengan orang yang tepat. Entah bagaima...
