Sane Enesta adalah seorang siswa SMA biasa. Ia tidak populer, tidak pula mencolok. Satu-satunya kelebihan yang ia miliki adalah selalu mendapatkan nilai bagus. Namun, bagi Sane yang pesimis, apalagi fakta bahwa SMA Pelajar Nasional adalah sekolah el...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ulangan di hari Senin itu berbeda.
Setelah mengerjakan ulangan dalam satu jam setengah, setengah jam berikutnya adalah sesi mengoreksi bersama hasil ulangan.
Selama mengoreksi jawaban milik orang lain, hati Sane gundah.
Setiap kali jawaban satu nomor soal dibacakan, sesuatu seperti menusuk hati Sane. Remaja itu mengingat-ingat jawaban yang ia berikan dengan dada sesak.
Tiga puluh menit berlalu, tibalah saatnya mengumumkan nilai.
Alih-alih mengembalikan lembar jawaban ke pemiliknya, pengoreksi soal membacakan nilai dari siswa yang dia koreksi.
Guru membacakan satu per satu nama siswa mulai dari nomor absensi pertama.
"Caca Clarissa!"
"Delapan puluh!"
Caca, siswi berambut hitam panjang yang duduk di depan Sane itu berseru riang.
"Dio Putra!"
"Tujuh puluh lima!"
Tak lama kemudian, tibalah giliran Sane.
"Sane Enesta!"
Dari sudut kelas yang jauh, terdengar seseorang berseru, "Sembilan puluh!"
Sane merosot di bangkunya.
Jelek, pikirnya.
Namun, entah kenapa remaja itu tak merasa begitu kecewa.
-
Jam istirahat pertama.
Sane, Dio, dan Udin makan di kantin, di kursi biasa yang menghadap ke balkon.
Sane dan Udin membeli nasi goreng. Dio membuka bekalnya yang lagi-lagi berisi nasi nugget.
Saat trio sahabat itu tengah asyik menyantap makan masing-masing, Caca menghampiri mereka.
Brakk
Gadis itu menepuk meja dengan dua tangan.
Meja dan kursi bergetar. Piring-piring terlempar. Butir nasi berceceran ke atas meja.
"Apa coba!" protes Dio.
Dengan wajah cemberut dan mata melotot, Caca berkata, "Tugas sejarah kita gimana?! Belum selesai, loh!"
Mendengarnya, Dio tak acuh kembali menyuap makanan.
Sane dan Udin terdiam.
"Jawab woy!" teriak Caca.
Teriakan itu tak hanya tertuju pada Dio, tetapi juga Sane.
"Mau kerja kelompok lagi nanti pulang sekolah?" tanya Sane dengan suara kecil.
"Ayolah!" Caca menimpali.
"Ah males." Dio memasukkan nugget bulat-bulat ke mulutnya.
"Deadline dah dekat, loh!" Caca kembali berteriak. Sane mengangguk setuju dengan gadis itu.