2. RAPAT OSIS

948 26 14
                                        

Dilemparkannya handuk sembarangan di kasur. Chia masih sangat kesal mengingat tawa Bima sebelum akhirnya dia di keluarkan dari kelas karena ... ketahuan.

Beruntung ponselnya tidak ikut disita, tapi nilai di kurangi lima puluh persen dari hasil benar yang di dapatkan. Bayangkan saja, Chia cuma mengisi 5 soal artinya hanya mendapat nilai 50  saja dan dibagi lagi? Hah! Chia super dongkol pokoknya, serta merta kaki dihentak-hentak.

"Chia?" Suara Darmini---Neneknya memanggil dari luar. "Kamu lagi ngapain di dalem?"

Chia berhenti, lalu mengembuskan napas gusar. "Lagi mau belajar, Nek," balasnya, tapi tidak berniat membuka pintu.

"Yaudah lanjutin. Nenek mau ke rumah Bibi Nana, ya. Nanti malem mereka mau yasinan."

"Oke!"

Alih-alih benar-benar belajar. Chia malah menyambar HP-nya di atas tumpukan buku, lalu kembali menghubungi Bima. Amarahnya masih menggebu-gebu, dan ingin segera disalurkan pada si pelaku.

"Chiaaaa!"

Suara Dita  melengking bersamaan dengan pintu kamar yang didobrak paksa. Membuat sang pemilik kamar melompat saking terkejutnya.

"Sopan dikit, Mba. Sopaaaaan!" Chia berteriak, lantas mendekati Dita menjitak kuat kening gadis berpiyama hello kitty tersebut.

Bukannya marah, Dita justru tertawa ngakak.

"Lagian. Dari depan dipanggilin nggak denger. Yaudah langsung masuk aja," ujar Dita santai sambil berjalan ke arah meja belajar yang terdapat pisang goreng  beberapa iris di piring.

Chia mengantongi handphone-nya. Ikut nimbrung bareng Dita yang duduk di karpet polos samping ranjang.

"Kamu nggak ikut ke rumah Bibimu?" Dita bertanya sambil makan. 

"Nggak, ah!" Chia bersedekap dada. "Lagi males banget akutuh! Aku capek! Aku lelah! Aku binguuuuung!"

Dita tidak ingin menanggapi. Dia menggeleng saja.

"Kamu tau nggak sih?" Chia membuka obrolan baru.

Tampak Dita menghentikan kunyahannya, menatap Chia serius.

"Tadi aku ketahuan nyontek sama Pak Abraham!" Diujung kalimat, Chia merengek seraya menutup muka dengan dua telapak tangannya. Sementara Dita sama sekali tidak ada rasa simpati ataupun iba. Dia malah terpingkal-pingkal sangking senangnya.

"Gila!" Chia menghempaskan tangannya, memandang Dita penuh kebencian. "Jahat banget sih! Akutuh lagi ancur sehancur-hancurnya, Ditaaaaa. Kalau aja Bubun sama Ayah tau, pasti ilang sudah uang jajan aku. Ibaratnya tuh kaya aku kehilangan dia. Kan jadi hampa." Panjang lebar Chia berdrama.

Tawa Dita lenyap, berubah rasa muak. "Kayanya kamu tumbuhnya kecepetan nggak, sih?" pikirnya.

"Maksud kamu?" Chia tidak paham.

"Chia! Bayangin coba. Kita ini masih kelas tiga SMP!" seru Dita lantang. "Masih 15 tahun, dan kamu?" Teluntuknya melayang ke depan wajah Chia. "Astagaaaaa!" Frustasi Dita. "Bukannya belajar mati-matian malah mikirin cinta-cintaan!" geram Dita tak tertahan, lantas menarik rambut Chia tanpa segan.

Tentu saja Chia memekik kesakitan. "Anak kucing! Anak kambing! Anak sapi! Anak kobra! Anak-anakan ayam yang dijual di pasar malem! Lepaaaas!" Badannya meronta-ronta sembari berbicara secepat kilat berusaha melarikan diri dari siksaan Dita yang memang sering diterimanya.

"Ditaaaaa!" sentaknya sebelum terlerai antara helaian rambut Chia dan jari-jari Dita yang kurang ajar.

"Lagian!" Tanpa dosa Dita berdiri, lantas merebahkan badan di kasur.

MY CUTE CHIA (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang