Dua Pertanyaan Jujur

38 3 3
                                        

Hi, readers!
Welcome back to The Wolf I Love ❤Chapter 13 ini dijamin bakal sukses bikin kalian senyum-senyum sendiri 😝
Semoga pada suka yaaa
Happy reading 📚

Hi, readers!Welcome back to The Wolf I Love ❤Chapter 13 ini dijamin bakal sukses bikin kalian senyum-senyum sendiri 😝Semoga pada suka yaaaHappy reading 📚

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Nah, sudah cukup kebal." Bu Dahlia, perawat wanita di ruang medis Kapow, mengangkat kompres gel dingin yang telah melekat di pergelangan kaki kanan Jena selama lima belas menit. Ia kemudian memberikan sebuah bantal pada gadis itu. "Jena boleh pegang ini."

Jena yang duduk bersandar di ranjang pasien menerima bantal itu meski merasa sedikit heran. Pergelangan kakinya yang terkilir saat jatuh tertindih Arai tadi terasa benar-benar sakit. Meski telah menjadi aikidoka selama satu tahun, ini adalah cedera pertamanya yang cukup serius. Jena melirik Arai, yang tadi memapahnya ke ruang medis. Pemuda itu berdiri bersandar pada dinding, tak jauh dari ranjang. Baru saja Jena akan membuka mulut untuk memberitahu Arai bahwa ia tidak perlu ditunggui dan pemuda itu dapat kembali ke aula, Bu Dahlia telah kembali menghampiri ranjangnya.

"Tahan ya? Bakal sedikit gak nyaman," ucap Bu Dahlia sambil mulai menyentuh bagian yang terlihat kemerahan di pergelangan kaki Jena dengan kedua tangannya.

Jena mengangguk.

Satu detik kemudian, kedua mata gadis itu membelalak karena nyeri yang teramat sangat menyeruak di bawah sentuhan Bu Dahlia. Sedikit gak nyaman benar-benar suatu ungkapan yang meremehkan. Kini Jena mengerti apa maksud perawat itu memberinya bantal tadi—secara refleks ia meremas dan menggigit bantal itu sekeras-kerasnya untuk menahan rasa sakit. Meski begitu, gigitan pada bantal tidak dapat sepenuhnya meredam teriakan Jena. Suara geraman dan pekikan tertahan terus terdengar setiap kali tangan Bu Dahlia bergerak di atas permukaan kulit gadis itu.

Setelah beberapa menit yang bagi Jena terasa seperti waktu yang tak berujung, Bu Dahlia menghentikan aksinya. "Sudah, Sayang, sudah." Ia menepuk lembut lutut Jena lalu mengoleskan salep ke atas pergelangan kaki yang baru saja selesai ditanganinya.

Jena melepaskan bantal yang sedari tadi menjadi pelampiasannya. Napas gadis itu masih memburu, bersaut-sautan dengan sisa isak tangisnya. Wajahnya pun dibanjiri keringat dingin bercampur air mata. Ia kemudian menyadari keberadaan sepasang tangan yang sedari tadi meremas pundaknya. Jena menoleh dan mendapati Arai ternyata tengah berdiri di samping kepala ranjang—tangannyalah yang meremas bahu Jena.

Arai menatapnya dengan sorot mata gelap dan kening sedikit berkerut. Jena juga menyadari rahang pemuda itu mengeras, seolah baru saja menahan sakit yang sama. Kemudian, remasan tangannya di pundak Jena mulai melemas dan pemuda itu mengusapnya pelan sebelum melepaskan tangan. Jika keadaannya berbeda, mungkin tatapan dan sentuhan tadi akan mampu membuat Jena melayang. Sayang, Jena belum sepenuhnya pulih dari sakit luar biasa yang baru saja ia rasakan.

Bu Dahlia kembali lagi membawa sebuah perban tebal. Dipasangkannya kain berbahan lentur itu erat-erat di pergelangan kaki Jena. Jena meringis karena meskipun tidak seberapa dibanding pijatan tadi, pemakaian perban lentur itu pun terasa sedikit menyakitkan.

The Wolf I LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang