Retak dalam Indah

30 4 2
                                        

Hi, readers!

Gimana hari Senin kalian? Semoga menyenangkan yaa. Nih, aku kasih Arai buat nutup Senin malam ini dengan manis ❤
Happy reading! 📚

 Nih, aku kasih Arai buat nutup Senin malam ini dengan manis ❤Happy reading! 📚

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Lebih dari satu minggu telah berlalu sejak hari yang menyiksa itu. Jena cukup bangga pada dirinya sendiri karena ternyata ia berhasil menjalani hidup dengan biasa-biasa saja hingga saat ini. Selain Caca, tidak ada satu pun yang tahu hatinya sempat hancur berkeping-keping dan susah payah direkatkan kembali. Rahasia busuk ayahnya itu, kembali Jena simpan rapat-rapat.

Setelah sekali lagi mematut bayangannya sendiri di cermin kamar ganti Kapow dan memastikan topeng kuatnya masih melekat dengan sempurna, Jena pun keluar.

Di kursi tunggu, Arai mendongak menatapnya dari buku yang tengah ia baca. Refleks, Jena merapikan kembali rambut setengah basahnya, padahal baru beberapa detik lalu rambut panjang itu disisir rapi.

"Kamu kok gak mandi, Arai?" tanya Jena, berbasa-basi.

"Udah kok tadi," jawab Arai sambil menunjuk kausnya yang setelah diperhatikan dari dekat ternyata memang telah berganti, dari hitam ke abu tua. Hanya itu itu sajalah warna yang pernah Jena lihat dipakai lelaki itu—hitam, putih, dan berbagai macam turunan abu-abu.

Kelas Aikido tadi terasa sedikit lebih berat dari biasa, karena Ramzi dan Dimas-sensei baru saja memperkenalkan beberapa gerakan baru. Jena yang biasanya hanya membersihkan diri sekadarnya sebelum pulang pun kali ini memutuskan untuk sekalian saja mandi dan mencuci rambut panjangnya yang juga lepek oleh keringat. Begitupun dengan Arai. Sebagai anggota yang baru mengikuti kelas sebanyak tiga kali, pemuda itu tampak benar-benar kelelahan setelah mengikuti latihan tadi.

"Ya udah yuk? Aku udah laper," ajak Jena.

Kini gadis itu memang tidak lagi merasa terlalu sungkan dan bersikap canggung di hadapan Arai. Apalagi, mereka biasanya menghabiskan satu sampai dua jam untuk menyantap makan malam bersama selepas latihan. Walau memang selalu berbicara seperlunya, Arai ternyata tidak sedingin yang mulanya Jena kira. Bercakap-cakap dengan pemuda itu terasa menyenangkan karena wawasannya yang luas dan sudut pandangnya yang cerdas.

Arai mengangguk dan mengikuti langkahnya. "Ke ramen?"

Jena berpikir sejenak, lalu, "Malem ini nasgor kambing yuk? Ada deket, ke arah kiri dari Kapow."

Arai tersenyum kecil. "Boleh."

Mereka pun keluar dari gedung Kapow. Sambil berjalan di trotoar, secara otomatis Jena mendongak menatap langit malam, mencari keberadaan bintang. Gadis itu lalu mengerucutkan bibir saat tidak satu bintang pun terlihat olehnya. Seolah menyamai isi hati Jena, sudah lebih dari satu.

Jena tahu ini konyol. Namun, kecintaannya pada bintang membuatnya merasa memiliki ikatan khusus dengan langit malam. Kadang ia berpikir, mungkinkah bintang-bintang akan selamanya lenyap dari pandangan Jena? Karena sungguh, ia merasa hatinya tidak akan pernah lagi kembali utuh sejak mendengar potongan percakapan mesra dan suara cumbuan hina itu di pendopo wali kota.

The Wolf I LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang