JUDUL KEDUA DALAM SERI JENAKA
The Wolf I Love - On Going
Mon, Wed, Fri - 20.30 WIB
--------------------------------------------------------------
Sudah lama Jenaka mengubur impiannya untuk memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Seisi Kota Sidikar...
Hi, readers! Hit aku dengan vote dan komen yg banyak ya Karena di chapter ini, Jena sama Arai kencan lagi 🥰 dan kali ini jauh lebih romantis uhuuuy. Yuk ikutin ceritanya! Happy reading 📚
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Meski menanti-nanti Jumat seperti seorang bocah menanti hari lebaran, Jena berusaha keras untuk tidak berharap banyak. Maka, saat Jumat pagi datang dan ia telah selesai memakai seragam dan bersiap-siap, Jena menuruni tangga dengan menjaga langkahnya agar tetap setenang biasa. Padahal jika mengikuti isi hatinya yang berbunga, ia ingin berlarian sambil bersenandung karena hari itu akhirnya datang.
Kedua orang tua Jena telah duduk di ruang makan, dengan masing-masing semangkuk bubur ayam di hadapan mereka. Terlihat ayahnya telah siap berangkat ke balai kota, begitu juga ibunya yang setiap Jumat menghadiri rapat Dharma Wanita Kota Sidikara sebagai ketua. Mereka mengenakan pakaian dinas harian aparatur sipil negara, tidak seperti hari kemarin di mana keduanya memakai setelan rapi serba hitam untuk menghadiri prosesi pemakaman seorang tokoh masyarakat.
Sejak kejadian akhir pekan lalu, ayahnya tidak pernah lagi absen dari sesi makan pagi dan malam bersama. Malah giliran Jena yang selama satu minggu ini selalu mangkir. Padahal, satu mangkuk bubur ayam lain tersedia di meja kosong di samping ibunya, tempat gadis itu seharusnya duduk dan menyantap sarapan bersama.
"Pagi, Sayang," sapa ibu Jena. "Mamah udah pesenin yang gak pakai kecap manis tuh."
Jena memasang ekspresi menyesal. "Aduh, aku udah janjian mau sarapan di depan lagi sama Caca. Buburnya buat Mbak Imas aja ya?" Ia merujuk pada suatu area kaki lima di seberang perumahan Megahuni, tempatnya dan Caca menyantap sarapan bersama sejak Senin pagi.
"Kak..." Ibunya memulai. Jena tahu kali ini beliau tidak akan membiarkannya menghindar lagi. Satu dua kali mungkin bisa dimaklumi, tetapi berlanjut hingga lima hari sepertinya aksi Jena ini semakin sulit ditoleransi. "Ayo dong—"
Kalimat bujukan itu terpotong oleh suara Caca yang memanggil Jena nyaring di depan pagar. "Jenaaa!"
Jena bersorak dalam hati. Caca memang selalu bisa diandalkan. Setelah membahas drama keluarganya saat menginap Minggu malam lalu, mereka memang sepakat untuk pergi ke sekolah bersama sejak pagi buta agar Jena dapat sesedikit mungkin berinteraksi dengan ayah dan ibunya. Sedikit interaksi itu tetap Jena lakukan dengan sopan, tetapi untuk kembali hangat seperti dulu ia belum mampu.
"Tuh, Caca udah dateng! Udah ya, aku pergi dulu."
Baik Pak Wali maupun istrinya hanya bisa menghela napas dan membiarkan putri mereka pergi. Entah sampai kapan Jena akan terus bersikap seperti ini, ia hanya berharap waktu akan membuat lukanya kelak pulih sendiri.
***
Jena telah berjanji tidak akan terlalu kecewa jikalaupun Arai kembali membatalkan janji mereka. Meski begitu, saat tiba di Kapow sore harinya dan tidak mendapati Arai ada di sana hingga kelas dimulai, tetap saja Jena merasa hatinya seperti dijatuhi batu es yang besar dan dingin.