JUDUL KEDUA DALAM SERI JENAKA
The Wolf I Love - On Going
Mon, Wed, Fri - 20.30 WIB
--------------------------------------------------------------
Sudah lama Jenaka mengubur impiannya untuk memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Seisi Kota Sidikar...
Apa kabar? Maaf ya kemarin hiatus lama banget karena kesibukan kantor :')
Seneng banget akhirnya bisa lanjut lagi cerita ini :3 Cerita Arai dan Jena kesayangannya aku, yang bikin belum mau move on ke cerita lain dan malah bikin plot yang sama dengan POV berbeda HAHAHA ISENGGG!
Semoga kalian juga suka ya sama cerita mereka (walaupun di chapter ini Arai belum muncul sih, hehe), selamat membaca dan jangan lupa vote dulu!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kok belajar di ruang tamu lagi, Kak? Emang bisa fokus?"
Jena yang tengah larut dalam latihan soal matematikanya tidak mengangkat kepala. Namun, ujung matanya menangkap sosok wanita bertubuh tinggi yang adalah ibunya tengah menuruni anak tangga.
"Mau ada Farel, Mah," jawab Jena. Saat melihat ibunya telah memakai kerudung, ia melanjutkan, "Mamah mau ke mana?"
"Nyimpen mobil sebentar ke bengkel depan." Ibu Jena mengenakan midi dress berbahan katun dan celana kulot, kerudungnya pun dililit dengan rapi. Sedikit terlalu rapi sebagai pakaian yang dikenakan hanya untuk pergi ke bengkel terdekat.
Herlina Tjokroamono Sustandi memang tidak pernah tampak tidak rapi kecuali di kamar tidurnya. Namun, pesona beliau yang sesungguhnya bukanlah kecantikan fisik apalagi pakaian yang dikenakan, melainkan perangai dan perilakunya yang nyaris tanpa cela. Aura elegan dan cerdas memancar begitu kuat dari wanita itu, membuat kagum siapa pun yang pernah berdekatan dengannya.
Wanita berdarah biru. Begitulah terkadang beliau disebut-sebut. Jauh sebelum menikahi Eddi Sustandi, ayah Jena yang kelak menjadi Wali Kota Sidikara, ibu Jena sudah terlahir dari keluarga terpandang yang berpendidikan.
Ayahnya, Witarsa Tjokroamono, adalah pendiri sekaligus ketua umum Partai Indonesia Merdeka Makmur, partai politik tertua dan terbesar di Indonesia. Kakek Witarsa juga merupakan putra dari tokoh proklamator Jendral Untara Tjokroamono, salah satu anggota PPKI yang terlibat dalam penyusunan naskah proklamasi di kediaman Laksamana Maeda.
Ya, Jena adalah pelajar beruntung yang dapat dengan bangga berkata bahwa salah satu pahlawan yang sering disebut-sebut dalam buku pelajaran adalah kakek buyutnya.
"Anak itu sering di sini sampai malem," cetus ibu Jena. "Emang gak ganggu belajar kamu?"
Jena menggeleng untuk menjawab pertanyaan tadi. "Enggak kok, Mah. Malah Farel suka bantuin."
Sebenarnya, Farel tidak banyak membantu. Belajar bukan merupakan hal yang lelaki itu sukai. Tetapi, ia lumayan menghibur Jena dengan guyonannya sehingga dapat mengurangi rasa penat. Ia juga cukup berguna untuk mengetes hapalan Jena, dengan bantuan buku tentunya.
"Ya udah. Asal prestasi sekolah dan lomba-lomba tetep aman sih, gak apa-apa." Berbeda dengan sang ayah yang kerap kali lebih bersantai dan memanjakannya, ibu Jena memang merupakan sosok yang selalu menerapkan disiplin keras sedari kecil.