JUDUL KEDUA DALAM SERI JENAKA
The Wolf I Love - On Going
Mon, Wed, Fri - 20.30 WIB
--------------------------------------------------------------
Sudah lama Jenaka mengubur impiannya untuk memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Seisi Kota Sidikar...
Hi, readers! Masih chapter dag dig dug nih. Bener gak sih, Arai berhenti napas, alias.......? Buat yang mau tau, yuk gas langsung baca aja! Happy reading 📚
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sekarang, apa?
Jena masih menunduk sambil terus terisak—tetes-tetes air terkumpul di ujung hidung dan rambutnya sebelum jatuh ke wajah Arai yang tak bergerak—saat pemuda itu tiba-tiba saja membuka mata dan meneguk napas dengan rakus.
Isak tangis Jena seketika terhenti, berganti tergagap dengan mata membelalak. "A-arai? Aku kira..." Ia hanya membuka mulut lalu mengatupkannya lagi. Apa yang ada di depan matanya terlalu mencengangkan untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Arai bangkit ke posisi duduk, menahan tubuhnya dengan siku ditekuk di aspal. "Hei, jangan nangis." Ia mengusap wajah Jena yang basah.
Gestur lembut dari tangan yang sobek dan berlumuran darah itu membuat air mata Jena malah semakin sulit berhenti. "K-kamu tadi... kamu—"
Mati.
Untungnya Arai cepat merengkuh tubuh Jena ke dalam pelukan erat, sehingga kata yang tidak sanggup Jena ucapkan keras-keras ke udara itu ikut terbenam di dadanya.
"Sssh, saya gak apa-apa." Arai mengusap punggung Jena dengan sebelah tangan.
Pelukan singkat di bawah guyuran air hujan itu terhenti ketika terdengar derap-derap langkah berlari yang mendekat. Jena melihat ke sekitar dan menyadari bahwa gerbang sekolah perlahan kembali ramai. Beberapa teman sekolahnya menghampiri dengan payung-payung di tangan mereka, mungkin tahu para pembuat onar yang mereka takuti sudah menghilang. Sebagai pengaruh dari syoknya yang belum benar-benar pulih, lutut Jena terasa lemas dan gemetar saat berdiri. Gadis dari kelas sepuluh IPS yang tidak Jena ketahui namanya pun memapahnya ke kios kecil tak jauh dari sana.
"Kak Jena ini minum dulu, Kak." Adik kelas IPS itu menyodorkan sebotol air mineral yang baru dibelinya dari kios. "Kakak gemetaran banget."
Jena menerimanya sambil membisikkan terima kasih. Sesaat kemudian ia tersedak hebat padahal baru minum seteguk kecil saja. Sepertinya napasnya yang masih terlalu memburu belum siap menerima asupan air.
Selama itu, pandangan Jena tak lepas dari Arai. Tadi pemuda itu juga dipapah oleh dua orang siswa. Namun sesampainya di kios, ia tidak duduk barang satu detik pun. Malah sibuk melongok ke kanan-kiri jalan lalu sekarang membuka bagasi motornya dengan jalan yang tertatih. Melihat itu semua, Jena masih merasa seperti bermimpi. Momen di mana pemuda itu terkulai pucat dan tak bernapas terasa seperti waktu panjang yang menyiksa bagi Jena, meski dalam realita mungkin hanya berlangsung satu-dua menit saja.
Sepertinya bukan hanya Jena yang keheranan dengan tindak-tanduk Arai yang terlampau normal mengingat apa yang baru saja terjadi. Karena salah seorang siswa yang tadi memapahnya kemudian bertanya, "Kamu gak apa-apa? Tadi kami denger teriakan anak Blacktula, kami kira—"