JUDUL KEDUA DALAM SERI JENAKA
The Wolf I Love - On Going
Mon, Wed, Fri - 20.30 WIB
--------------------------------------------------------------
Sudah lama Jenaka mengubur impiannya untuk memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Seisi Kota Sidikar...
Hi, readers! Udah nyampe bagian yg lagi seru-serunya nih! Dijamin jantung dag dig dug deh baca chapter ini. Hit aku dengan vote dan komen yg banyak yaa sebelum mulai baca 🤗 Happy reading 📚
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Wah, wah, Jenaka." Farel berdecak pelan, lalu mengulas senyum tipis yang membuat bergidik. "Siapa sangka ternyata pacar kamu yang sok jago ini anak Kawani?"
Meski kalimat itu ditujukan pada Jena, tatapan Farel tidak bergeser satu senti pun dari Arai. Seperti macan yang telah menandai buruannya. Arai balas menatap tajam. Rahangnya terlihat mengeras, keningnya berkerut dalam.
Sementara, di belakang Arai, Jena sibuk merutuki pemuda itu dalam hati. Jena tidak habis pikir apa yang ada di dalam pikirannya. Jika kini ia dan Farel telah saling mengenali sejak perang antar geng beberapa hari lalu, bagaimana bisa ia melenggang penuh percaya diri ke area Sidikara Barat? Terlebih, ke sekolah yang pernah Jena sebut sebagai sarang laba-laba!
"Bukan Kawani biasa, Rel," timpal teman Farel yang berdiri di sebelah kiri, Iman. Atau, Imam? Jena tidak terlalu mengingatnya. "Dia ini si panglima tempur baru yang seneng main api dankembang api."
Jena menyadari adanya penekanan pada setiap kata api, walau tidak mengerti maksudnya. Ia melirik ke arah Arai, yang tidak mengubah ekspresinya sedikit pun atas penekanan kata itu.
Kemudian, akhirnya Arai membuka mulut, sembari meraih lengan Jena dan menariknya menjauh. "Saya di sini gak berniat cari ribut. Permi—"
Namun, pamit itu terpotong oleh suatu gerakan tiba-tiba—diikuti oleh suara benturan keras yang membuat Jena refleks terkesiap. Selama sepersekian detik ia begitu terkejut hingga tidak memahami apa yang baru saja terjadi. Barulah ketika Arai melepaskan genggaman dari tangannya lalu mundur terhuyung sambil memegang sebelah pipi, ia menyadari bahwa Farel baru saja meninju pemuda itu dengan kekuatan penuh.
"Sia wani datang ka dieu ge geus piributeun, anjing!" Farel memaki sambil menunjuk Arai kuat-kuat.
Sebelum Arai sempat menimpali umpatan itu, Jena melingsak maju. Matanya membelalak, suaranya melengking tinggi karena disertai panik. "Farel! Kalian yang jangan bikin ribut! Arai ke sini cuma mau nemuin aku!"
Akhirnya, pandangan Farel jatuh pada Jena. Ia menunduk untuk menyamai tinggi badan Jena, lalu dengan lantang berteriak tepat di depan wajahnya. "Gak ada serigala yang boleh datang ke sini! Apalagi, buat nemuin kamu, Jen!"
Suara Farel yang menggelegar mengundang perhatian para siswa yang tengah berjalan pulang. Beberapa berhenti sambil berbisik-bisik, banyak pula yang malah kembali masuk ke dalam gerbang untuk menghindari keributan geng motor penguasa sekolah. Jena sendiri mengerahkan setiap tetes keberanian yang dimilikinya untuk tetap berdiri tegap. Tetap dibalasnya tatapan Farel tanpa sedikit pun mundur atau tertunduk.
Melihat itu, sepertinya Farel memutuskan untuk memakai cara lain agar berhasil mengintimidasi Jena. Diraihnya sejumput rambut gadis itu. Sebuah gerakan yang segera saja terasa seperti penghinaan, karena beberapa bulan lalu Jena dengan kesadaran penuh membiarkannya terbiasa melakukan hal serupa—memilin rambut Jena dengan gerak menggoda hampir di setiap saat mereka bersama. Sentuhan yang sama kini terasa menjijikan, membuat Jena mual dan memicingkan mata.