Selembut Embusan Napas

9 1 2
                                        

Hi, readers!
Kalo chapter sebelumnya udh bikin kamu ikut kesengsem, tunggu sampai kamu baca chapter ini 🤣 Ikutan melayang sama Jena kayaknya kita semua malam ini 🤣
Happy reading 📚

Lutut Jena masih gemetar seolah tubuhnya belum selesai memantul meski telah keluar tabung atraksi. Wajahnya juga ditetesi peluh-peluh keringat sebagai sisa dari melompat ratusan kali. Ia meminta waktu untuk duduk sejenak sebelum melanjutkan ke ruangan berikutnya, yang mana sangat wajar menurut petugas yang berjaga. Ia dan Arai diberi sebotol air mineral dan handuk kecil dan dipersilakan untuk beristirahat di area bean bag tak jauh dari deretan tabung.

Anehnya, meski telah menangis dan berteriak meraung-raung selama kurang lebih tiga puluh menit, hati Jena terasa ringan dan sepenuhnya lega ketika keluar dari tabung trampolin itu. Seolah semua sedih dan sesaknya menguap tak bersisa di dalam sana. Suaranya sedikit parau dan matanya terasa sembab, namun kini ia dapat tersenyum tanpa terasa berat.

Jena melirik Arai dan segera memasang cengiran manis ketika mendapati pemuda itu ternyata tengah memperhatikan dirinya. "Capek ih!" komentarnya.

Arai mengangguk. "Tapi seru."

"Kamu suka?" Seperti biasa, Jena ingin memastikan Arai menikmati atraksinya.

Ada jeda satu detik yang digunakan Arai untuk menatap Jena lekat-lekat, sebelum menjawab, "Suka banget."

Tak ayal jeda satu detik tadi disandingkan dengan tajam cara Arai menatapnya membuat jawaban itu terasa ambigu. Jena tersipu dan tidak merespons apa pun selama beberapa detik, hanya menunduk dan merapikan kepang rambutnya dengan gerak kikuk. "Aku juga," cicitnya kemudian.

Apakah itu tadi hanya sebatas perasaannya saja? Atau memang benar Arai dengan sengaja menyelipkan maksud lain ke dalam jawabannya? Jena merasakan pipinya mulai menghangat lalu bergeleng-geleng untuk mengusir pemikiran gila itu. Pasti ia hanya sedang berkhayal seperti biasa. Rasanya tidak mungkin lelaki sedingin Arai tiba-tiba saja melontarkan kalimat gombal terselubung.

Setelah merasa cukup beristirahat, mereka memberitahu petugas lalu mulai berjalan menuju X-Room selanjutnya.

"Expression-Room yang terakhir apa?" tanya Arai saat mereka baru saja keluar dari pintu kuning tua.

"Ketagihan ya?" Jena balas bertanya dengan cengiran lebar. Diam-diam ia merasa bangga telah mengajak Arai ke tempat yang benar-benar seru dan membuat pemuda itu senang.

Arai balas menyengir sebagai jawaban.

Jarak antara ruangan ke dua ke ketiga ternyata lebih dekat dibandingkan dengan jarak dari ruangan pertama tadi. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit untuk mereka tiba di pintunya, yang kali ini berwarna nila. Petugas membuka pintu itu lalu Jena dan Arai memasuki sebuah ruangan semi outdoor yang tak kalah luas dengan ruangan sebelumnya. Seperti balkon raksasa tanpa pagar, dengan atap yang hanya menutupi setengah dari permukaan lantai. Terlihat beberapa petugas berpakaian seragam tebal dan helm di ujung atap yang menyambung pada sebuah panel rel besi itu, namun tidak ada satu pun pengunjung lain. Mungkin tidak banyak pengunjung yang membeli tiket atraksi terakhir, yang menurut review netizen termasuk cukup ekstrim.

The Wolf I LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang