Teka-Teki Buket Bunga

33 3 15
                                        

Hi, readers!
Di chapter 14 ini, ada kiriman tak terduga ke rumahnya Jena, yang berhasil bikin Jena mikir keras—plus sedikit kegeeran. Apa tuh? Yuk baca! Semoga pada sukaaa
Happy reading 📚

Meski hari ini adalah Sabtu, Jena tetap pergi ke sekolah demi keperluan ekskul English Club-nya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Meski hari ini adalah Sabtu, Jena tetap pergi ke sekolah demi keperluan ekskul English Club-nya. Sebenarnya gadis itu sungguh malas bersiap-siap di pagi buta padahal seharusnya ia memiliki jatah bersantai seharian. Beruntung Caca juga diharuskan menghadiri rapat wajib OSIS selaku pengurus bidang seni. Setidaknya jika ada Caca, semangat Jena sedikit timbul karena ia bisa menceritakan momen manis yang dilaluinya bersama Arai semalam.

Setelah selesai dengan kegiatan ekstrakurikuler masing-masing, kedua sahabat itu sepakat untuk menyantap makan siang di kantin terlebih dulu sebelum pulang. Agenda makan siang itu tentu saja dibarengi dengan sesi cerita Jena.

Caca berjalan dengan dua mangkuk mie bakso di tangan. Di salah satu meja kantin, Jena duduk menunggunya dengan setia.

"Spesial ekstra sambal dan daun seledri untuk sahabatku yang lagi sakit," ucap Caca sambil menyodorkan satu mangkuk.

"Thank you, bestie!" timpal Jena sambil menerima mangkuk itu.

Sebenarnya, 'lagi sakit' merupakan keterangan yang sedikit berlebihan. Jena memang masih mengenakan perban di pergelangan kakinya dan berjalan dengan bantuan kruk demi menuruti anjuran Bu Dahlia. Padahal, sebenarnya kakinya sudah tidak terasa terlalu sakit.

Caca memang terkadang terlalu lebay. Apalagi, sejak Jena menceritakan perselingkuhan sang ayah yang berulang. Caca tidak pernah mengungkit topik yang sensitif itu kecuali Jena sendiri yang memulai, tapi tindak tanduknya pada Jena terasa berubah. Ia jadi terlalu memanjakan Jena. Jena sering mengatainya konyol dan lebay, tetapi di dalam hati sebenarnya Jena sungguh berterima kasih atas ketulusan sahabatnya itu.

"Anything for you¹, Jen, anything for you." Caca menempelkan jempol dan telunjuknya membentuk simbol hati kecil. "Terus gimana? Pas pulang si Arai—"

"Nomor dua belas, es susu cokelat!" Bibi penjual es meneriakkan nomor antrian pesanan Jena, memotong kalimat Caca.

"Punya kamu ya?" tanya Caca.

Jena memasang cengiran lebar. "Hehe, iya, Ca..."

Caca memajukan bibirnya beberapa senti, berpura-pura sebal. "Hadeuh, padahal aing udah penasaran gimana kelanjutan cerita si ganteng kalem!" Berkebalikan dengan ekspresi dan kalimatnya, tubuhnya bersiap bangkit.

Jena terbahak dan segera menahan tangan sahabatnya itu. "Gak usah, Ca! Aku bisa sendiri, kalau cuma gelas es." Tangannya lalu menumpu ke meja untuk membantu tubuhnya berdiri.

"Eit, eit, eit!" Giliran Caca menahan tangan Jena. "Udah, duduk aja! Lupa ya tadi aku ngomong apa? Anything for you, bestie!" Ia segera melesat.

The Wolf I LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang