Jam Terakhir KutuBuku

26 3 3
                                        

Hi, readers!
Makasih udah mampir lagi di The Wolf I Love 🐺
Absen dulu yoook
Tau cerita ini dari mana?
Sejauh ini, tokoh favoritmu siapa?
Jena? Caca? Arai?
Hayooo udah vote dulu belum, sebelum mulai baca? Jangan lupa yaa biar author makin semangat!
Happy reading 📚

Hi, readers! Makasih udah mampir lagi di The Wolf I Love 🐺Absen dulu yoookTau cerita ini dari mana? Sejauh ini, tokoh favoritmu siapa? Jena? Caca? Arai?Hayooo udah vote dulu belum, sebelum mulai baca? Jangan lupa yaa biar author makin semangat! H...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ternyata patah hati yang Jena tahu selama ini tidak ada apa-apanya dibandingkan patah hatinya akan kehilangan Caca.

Oke, mungkin kehilangan Caca adalah ungkapan yang terlalu berlebihan. Baru satu hari Caca mengabaikan Jena. Tapi, Jena sudah merasa seperti kehilangan semangat hidup. Pagi tadi, bahkan sebelum mandi, Jena cepat-cepat berlari ke cluster rumah Caca. Ia sangat berharap dapat berbaikan sebelum sahabatnya itu terbang ke Sumatera.

Asisten rumah tangga keluarga Caca menyambut dan berkata bahwa Jena hanya terlambat beberapa menit saja—keluarga Caca telah pergi ke bandara. Jena berjalan pulang dengan lunglai, tahu hari-harinya ke depan akan menjadi sangat berat.

Seharian, setiap helaan napas Jena terasa sesak. Sekedar mengangkat sudut bibirnya untuk membalas senyum teman-teman yang menyapa saja rasanya sulit sekali. Melihat Yuni dan Zalwa mengobrol berdua di bangku depan, membuat Jena merasa jauh lebih sendirian. Saat Pak Asrul melontarkan guyon di jam pelajaran Biologi, ia hampir tertawa pada bangku di sebelahnya, lalu merasa sesak saat menyadari bangku itu kosong. Tak ada Caca di sana.

Semua hal yang berwarna dari sekolah seolah terserap habis oleh ketidakhadiran Caca, berganti dengan awan kelabu yang mengikuti Jena ke mana-mana.

Setelah memergoki Pete berlutut di hadapan Jena dengan buket bunga di tangan kemarin sore, Caca melesat tanpa mau mendengar sedikit pun penjelasan. Jena tidak tahu seberapa banyak yang ia dengar. Saat Jena mengejarnya, Caca hanya berseru, "Biarin aku sendiri!"

Satu hal yang Jena syukuri di hari ini adalah Pete ternyata menuruti permintaannya untuk tidak muncul di hadapannya sama sekali. Kalau sampai pemuda itu bertindak gila seperti Farel kemarin dulu, mungkin Jena sudah meledak oleh rasa frustasi.

Sepulang sekolah, Jena merebahkan tubuhnya di kasur tanpa berganti seragam. Detik berganti menit, dan menit berganti jam, Jena masih tidak bergerak. Bahkan membuka sepatu pun tidak.

Untuk pertama kalinya, Jena malas pergi ke Kapow. Padahal, sejak mengenal Arai, Selasa dan Jumat sebagai jadwal latihan Aikido adalah dua hari yang paling ditunggu-tunggu Jena. Tapi sore ini, bahkan pemikiran untuk bertemu Arai tidak cukup untuk membuat mood-nya membaik.

Terdengar bunyi deru mobil disusul oleh suara pagar yang dibuka, pertanda ibunya telah pulang. Alih-alih bangkit dan turun untuk menyambut beliau, Jena hanya sedikit beringsut dari posisinya lalu meringkuk dan memejamkan mata. Ia telah begitu rajin berlatih bela diri selama satu tahun terakhir—libur satu kali pun tak pernah. Sekali ini saja, Jena akan memperbolehkan dirinya sedikit melanggar aturan. Ia ingin membolos dan tidur sepuasnya. Barangkali saat bangun nanti, Caca telah merasa lebih baik dan mau bicara dengannya lagi.

The Wolf I LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang