Dasar Dingin Jurang Tinggi

3 1 0
                                        

Hi, readers!

Sesuatu yg sangat buruk terbongkar di chapter ini. Siap terjun ke jurang tinggi bareng Jena? 🥲 Yuk gas
Happy reading 📚

Jena tidak tahu bagaimana bisa malam yang begitu indah berakhir dengan sangat buruk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jena tidak tahu bagaimana bisa malam yang begitu indah berakhir dengan sangat buruk.

Bohong.

Tentu saja ia tahu. Ia hanya tidak tahu mengapa hal itu harus terjadi pada dirinya. Kalau tahu akan begini, rasanya Jena ingin menghentikan waktu di gazebo Taman Langit, saat ia dan Arai saling mendekap di bawah langit bertabur bintang. Sayangnya sekitar tiga puluh menit setelah mengecup kening Jena, Arai membangunkannya. Jena tidak benar-benar tertidur, tentu saja. Hanya bersikap seolah-olah seperti itu. Arai lalu mengajaknya pulang karena waktu telah menunjukan pukul sepuluh malam.

Semua masih manis dan aman-aman saja dalam perjalanan pulang. Untuk pertama kalinya Jena melingkarkan tangannya ke pinggang Arai dari jok belakang motor klasik hitamnya. Arai berkendara pelan menyusuri jalanan Kota Sidikara di malam hari menuju rumah Jena di Megahuni.

Di sanalah mimpi buruk itu terjadi.

Mereka tiba di depan pagar bersamaan dengan ayah Jena. "Itu Papah!" seru Jena saat mobil ayahnya tengah memasuki carport.

Gadis yang sedang dalam keadaan berbunga-bunga itu ingin memperkenalkan Arai pada sang ayah. Yang mana adalah sebuah hal baru bagi dirinya—sebelumnya ia tidak pernah tergerak untuk secara khusus memperkenalkan seorang teman lelaki spesial pada beliau.

Jena ingat bagaimana Arai sempat menahan geraknya ketika ia menarik lengan pemuda itu untuk masuk ke dalam pagar. "Jena, ada sesuatu yang harus saya jelasin. Bisa kita—"

"Nanti aja." Saat itu Jena mengira Arai hanya gugup karena harus menghadapi ayah dari gadis yang baru saja ia ajak pergi hingga malam telah larut. "Sini, kamu kenalan dulu sama Papah."

Jena dan Arai tiba di teras rumah tepat ketika ajudan sang ayah membuka pintu penumpang. Beliau turun dan tersenyum melihat Jena yang tengah menantinya. "Baru pulang Kakak?"

"Iya," jawab Jena. Lalu, "Pah, kenalin ini—"

"Loh? Arai?"

Ia dan ayahnya berbicara bersamaan.

Sesaat otak Jena belum dapat memproses apa yang sebenarnya tengah terjadi. Bolak-balik ditatapnya Arai dan ayahnya dengan tatapan bertanya. Bagaimana bisa mereka saling mengenal? Sejak kapan? Di mana? Banyak pertanyaan lainnya, namun yang terucap dari mulut Jena hanya, "Kok?"

Baik Arai maupun ayahnya tampak tidak menggubris kebingungan Jena.

Beliau malah mengulurkan tangan pada Arai. Bukan jabat tangan untuk berkenalan, melainkan mengucapkan kalimat belasungkawa. "Saya turut berduka cita atas kepergian Taka yang sangat mendadak. Kemarin kita gak sempat ketemu di pemakaman."

The Wolf I LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang