Hi, readers!
Akhirnya sampai juga di chapter terakhir. Makasih ya buat yang udh baca sampai sini 🥲 Semoga kalian menikmati akhir dari cerita ini yaa.
Happy reading 📚

Jena tiba di rumah sakit satu jam kemudian. Dalam pesan tadi, Gege juga memberitahu nomor kamar tempat Arai mendapatkan rawat inap, karena pagi tadi saat Jena pamit pulang pemuda itu masih berada di instalasi gawat darurat. Saat melangkah ke sana dengan sekeranjang buah-buahan di tangan, jantung Jena sibuk berdebar-debar. Kalimat terakhir yang ia lontarkan pada Arai adalah rangkaian kata yang paling dalam, paling jujur, sekaligus paling memalukan yang pernah ia ungkapkan.
Keberaniannya saat itu didorong oleh keadaan yang tidak biasa. Ketegangan yang terus meningkat hingga akhirnya membentuk sebuah klimaks. Bahkan saat mengucapkannya Jena tidak memedulikan adanya beberapa anggota tim penyelamat yang baru saja selesai melepaskan tali-tali dari badan Arai. Kini wajah gadis itu terasa menghangat. Kemungkinan para petugas itu ikut mendengar pernyataan cintanya.
Argh!
Dan Arai... bagaimana ia akan bereaksi? Tentu pemuda itu tidak akan menolak perasaan Jena, bukan? Jena tidak bodoh. Ia tahu perasaan yang dimilikinya tidak bertepuk sebelah tangan. Bahkan dengan terkuaknya rahasia besar sebagai Kawani, Arai telah memperdaya Jena dalam segala hal kecuali hati. Ia tahu, segala hal yang telah mereka lalui bersama memang berarti. Hati, tidak bisa dibohongi.
Tapi, bagaimana Arai akan menanggapi pengakuan Jena?
Perut Jena mendadak terasa mulas dan wajahnya kian memanas. Jena merutuki diri sendiri, lalu mencoba mengalihkan pikiran. Ia tidak mau masuk ke kamar Arai dengan wajah semerah apel dalam keranjangnya.
"Eh, Jenaka."
Gadis itu terlalu larut dalam pemikirannya sendiri hingga tak sadar telah berhadapan dengan Gege dan seorang kawannya di lorong tempat kamar Arai berada.
"Eh, Kak," sapanya. "Udah mau pulang?"
"Iya. Masih capek banget, Jen." Gege mengangguk. "Itu Arai tadi lagi baru mau makan."
Jena mengangguk-angguk. "Dia... gimana, Kak?"
"Aman, aman. Udah bisa bercanda juga bahkan. Ya kan, Yan?" tanya Gege pada kawan di sampingnya.
Kawannya mengiyakan. "Cuma masih agak linglung aja sih. Masih kurang fokus kalau ngobrol."
"Oh? Tapi wajar kali ya, Kak?" Jena mendadak kembali merasa khawatir.
"Wajar banget atuh, Jen. Uyuhan weh sakitu ge. Udah kuat banget dia." Gege yang menjawab.
"Ya udah, aku ke Arai dulu ya, Kak," pamit Jena. "Kak Gege makasih banyak ya udah nungguin Arai di sini, udah ngabarin aku juga."
"Santai, Jen. Aman. Kita duluan ya." Gege dan kawannya pun berlalu.
Jena tiba di depan kamar Arai, lalu membuka pelan pintunya. Di atas ranjang, pemuda yang tadinya tengah berbaring membelakangi Jena itu berbalik dengan sisa tawa di mata dan bibirnya, seolah baru menertawakan sesuatu yang menggelikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Wolf I Love
Novela JuvenilJUDUL KEDUA DALAM SERI JENAKA The Wolf I Love - On Going Mon, Wed, Fri - 20.30 WIB -------------------------------------------------------------- Sudah lama Jenaka mengubur impiannya untuk memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Seisi Kota Sidikar...
