JUDUL KEDUA DALAM SERI JENAKA
The Wolf I Love - On Going
Mon, Wed, Fri - 20.30 WIB
--------------------------------------------------------------
Sudah lama Jenaka mengubur impiannya untuk memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Seisi Kota Sidikar...
Hi, readers! Klimaks makin seru di bab ini, apalagi Jena bener bener tak berdaya selama di garasi Blacktula. Penasaran? Baca langsung yuuuk! Happy reading 📚
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selain dari denting ponsel Blo yang sesekali terdengar, garasi kembali sunyi setelah Farel dan teman-temannya kembali ke luar. Menit demi menit berlalu. Sejak mencatat waktu yang disebutkan salah satu Blacktula tadi, Jena berhasil menghitung hingga mencapai tiga puluh menit. Setelahnya, ia mulai kehilangan ritme—waktu bergulir tanpa bisa ia genggam lagi.
Yang jelas kini tengah malam telah lewat. Tenggorokan Jena benar-benar kering—ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia minum. Rasanya ia rela menukar apa pun demi segelas air sekarang. Sementara lapar di perutnya telah lama hilang, berganti dengan mual yang menandakan lambungnya telah meneriakkan alarm bahaya.
Jena juga merasa sangat pegal terutama di bagian lehernya yang terkulai aneh ke sisi sandaran bangku. Apakah manusia dapat bergerak dalam pingsan, seperti orang yang hanya sedang tertidur lelap? Ia tidak tahu—juga enggan mengambil resiko.
Tiba-tiba dorongan untuk batuk terasa di kerongkongannya. Sebelum ia berpikir lebih lama, batuk itu lolos tanpa bisa dicegah.
Bunyi berderit terdengar, menandakan Blo bangkit dari tempat duduknya sejak tadi. Langkah kakinya yang mendekat berhenti saat hanya tersisa beberapa langkah. Hening sesaat. Jena tidak bisa lagi menahan leher dan pundaknya untuk sedikit bergerak mencari posisi nyaman.
Lalu, "Kak Jena udah bangun ya?"
Apa yang akan terjadi jika Jena menjawab dan Blo memberitahu teman-temannya? Mungkin Farel dan yang lain akan masuk untuk memastikan Jena tidak membuat keributan. Atau malah, mereka akan mempermainkan Jena, memperlakukannya begitu buruk karena tahu dirinya tak berdaya.
Sementara otaknya sibuk mempertimbangkan segala kemungkinan, haus yang teramat sangat dan kaku di otot lehernya semakin mendesak.
Masa bodohlah.
Jenamengangkat lehernya perlahan ke posisi tegak. Bergerak sepelan mungkin saja rasanya sakit luar biasa, membuatnya meringis pelan. Kemudian, ia membuka mulut untuk berbicara. Namun, tidak ada suara yang keluar. Jena berdeham, menelan ludah, dan mencoba sekali lagi.
"Kamu siapa?" Bisikan itu parau dan nyaris tak terdengar. Itu saja sudah membuat tenggorokan Jena terasa ditusuk seribu paku. "Ini di mana?" tambahnya, agar aksi baru sadar dari pingsannya semakin meyakinkan.
Blo semakin mendekat. Jena dapat merasakan lututnya bersentuhan dengan celana lelaki itu. "Saya Irwin," bisiknya. Sepertinya pemuda itu membungkuk agar sejajar dengan Jena, karena suaranya terdengar dekat dari telinga. "Adik kelas Kak Jena di sekolah," tambahnya.
Irwin! Kini Jena mengingatnya. Seorang siswa kelas sepuluh yang saat masa orientasi sekolah dulu pernah memberinya surat cinta, juga mendekatinya untuk mengajak berkenalan secara langsung. Pantas saja Jena tidak dapat mengasosiasikan suaranya dengan nama Blo. Lagipula dari mana panggilan itu berasal? Menyesatkan! Kini bayangan adik kelas kurus berambut ikal yang dulu gugup mengajaknya bicara terbentuk jelas di benaknya.