JUDUL KEDUA DALAM SERI JENAKA
The Wolf I Love - On Going
Mon, Wed, Fri - 20.30 WIB
--------------------------------------------------------------
Sudah lama Jenaka mengubur impiannya untuk memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Seisi Kota Sidikar...
Hi, readers! Siapa yang udah nunggu-nunggu chapter ini? 😌😌😌 Semua pembaca Jenaka pasti dehhh masih inget sama kencan Arai & Jena di X yang nantinya berujung... Ah sudahlah langsung baca aja yuk 🤣 Happy reading 📚
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satu jam kemudian, akhirnya Jena dan Arai tiba di tempat tujuan mereka. Tempat yang dalam perjalanan tadi telah Arai tanyakan dua kali, tapi masih Jena rahasiakan demi efek kejutan. Dari luar, gedung itu tampak seperti gedung pencakar langit yang merupakan perkantoran atau apartemen biasa. Menurut info, tempatnya ada di lantai paling atas. Maka, mereka langsung menuju ke lift dan naik ke sana.
Lift berdenting dan terbuka, menampakkan sebuah pintu berbentuk huruf X besar berwarna biru dan jingga. Pintu itu merupakan bagian dari nama tempat tersebut yang tertulis di kiri dan kanannya—The X Breaks. Namun, netizen lebih banyak menyebutnya dengan sebutan X, yang merupakan singkatan dari expression.
Semangatnya kembali naik, ia mulai merasa tak sabar. Mereka pun berjalan memasuki huruf X besar itu, menuju loket penjualan. Mata Jena menyapu seisi lobi dan berpikir siapa pun desainer interior yang The X Breaks sewa jasanya untuk mempercantik tempat ini patut diacungi jempol. Dindingnya dihias panel-panel abstrak besar beragam warna, lantainya sendiri merupakan layar LED interaktif yang membentuk bercak warna acak setiap kali sebuah kaki berpijak. Alih-alih sofa dan meja, para pengunjung duduk di lusinan bean bag biru dan jingga besar yang tersebar di area lobi. Meski bernuansa warna-warni, sama sekali tidak ada kesan norak yang merusak estetika di ruangan besar ini.
Mereka tiba di meja loket. "Tiket full package-nya dua ya, Kak," pesan Jena pada penjaganya.
Rupanya, harga dua tiket itu mencapai lebih dari lima ratus ribu rupiah. Yang mana sebenarnya bukan sebuah masalah bagi Jena. Uang saku bulanannya hampir selalu tersisa, membuatnya memiliki tabungan yang jumlahnya lumayan, tersimpan dalam sebuah rekening e-money. Namun, saat ia sedang membuka aplikasi dompet elektronik itu di ponsel, Arai lebih dulu menyerahkan kartu hitamnya pada si penjaga loket.
"Ih!" tukas Jena sambil menoleh ke belakang. "Kan, aku yang ajak ke sini!"
Arai sendiri tampak berpura-pura tidak mendengar dan sibuk melakukan pembayaran. Jena mendelik. Sebenarnya ia bukan penganut paham feminis yang anti menerima traktiran dari lawan jenis. Hanya saja, karena telah berkali-kali ditolong sejak pertama kali mengenal Arai, Jena selalu merasa ia berutang budi pada pemuda itu. Ia enggan merasa lebih banyak lagi berutang. Apalagi...
Pemikiran Jena terhenti dengan sendirinya. Ia bahkan tidak nyaman untuk memikirkannya sendiri dalam hati. Tapi, terkadang Jena bertanya-tanya seperti apakah kondisi kehidupan Arai yang tinggal sendirian di sebuah kamar kos di kota yang terbilang benar-benar baru dan asing baginya. Jika Mbak Imas dan Mamah menyiapkan banyak makanan di rumah, seringkali Jena teringat pada Arai. Pada bagaimana ia selalu lahap setiap kali mereka makan berdua sepulang kelas Aikido. Ingin sekali Jena membawakan beberapa masakan siap makan untuk Arai bawa pulang ke kamar kos.