JUDUL KEDUA DALAM SERI JENAKA
The Wolf I Love - On Going
Mon, Wed, Fri - 20.30 WIB
--------------------------------------------------------------
Sudah lama Jenaka mengubur impiannya untuk memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Seisi Kota Sidikar...
Hi, readers! Masih darderdor konflik keluarganya Jena nih. Tapi, ada Arai juga nanti di ujung bab 😌 Yuk lanjut baca, semoga pada suka yaaa! Happy reading 📚
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jena yakin ada yang salah dengan pendengarannya. Gadis itu tahu perihal ayah dan ibunya yang dulu pertama kali bertemu saat berkuliah di tempat yang sama. Ia juga tahu bahwa ayahnya adalah menantu kesayangan Kakek. Namun, ia sama sekali tidak pernah mendengar cerita bahwa kedua orang tuanya adalah pasangan hasil perjodohan. Bagaimana mungkin tidak pernah ada yang mengungkit soal ini pada Jena sebelumnya?
"Maksudnya?" tanya Jena dengan kening berkerut dalam. "Kok perjodohan sih? Kenapa Kakek tiba-tiba jodohin Mamah sama Papah?"
Herlina terkekeh datar. "Bukan tiba-tiba, Sayang. Saat itu memang belum. Tapi ternyata, saat itu selain himpunan fakultas, papahmu baru aja mulai aktif di organisasi eksternal kampus yang dinaungi partainya Kakek."
Walaupun tumbuh dalam keluarga yang berkarir politik, sebagai seorang murid SMA biasa Jena tidak mengerti akan hal-hal semacam itu. Tapi lalu ibunya menjelaskan bahwa sangat lumrah bagi sebuah partai politik untuk menaungi organisasi kemahasiswaan. Bahkan hingga saat ini, Partai Indonesia Merdeka Makmur, partai yang didirikan kakek buyut Jena dulu, masih memiliki beberapa organisasi kemahasiswaan yang tersebar di kampus-kampus besar di seantero negeri.
"Sama kayak banyak orang, Bapak juga langsung kagum sama papahmu. Kata Bapak, ngeliat energi dan kecakapan Eddi yang luar biasa dalam berorganisasi bikin beliau ingat dirinya di masa muda. Apalagi, ketiga kakak Mamah udah punya rencana sendiri-sendiri soal karir mereka. Bapak pengen bantu karir Eddi untuk ke depannya di dunia politik." Herlina lalu berhenti sejenak dan menunduk sembari memainkan jemarinya. "Dan... yah, ditambah Bapak juga tahu Eddi satu kampus dan kenal sama Mamah—"
"Jadi terus, Kakek bantu Papah sukses di politik tapi dibarter dengan nikahin anaknya?" Jena memotong kalimat ibunya, menyimpulkan dengan lantang.
Ia tidak tahu mengapa dirinya tiba-tiba merasa marah. Ia kesal pada ibunya yang membicarakan hal ini secara tenang dan biasa-biasa saja.
Herlina tampak terkejut karena respons Jena itu. Ia menggeleng. "Gak sesederhana itu, Nak."
"Terus Papah mau aja gitu dijodohin padahal udah pacaran bertahun-tahun sama si Jal—" Beruntung Jena sempat menahan lidahnya dan meralat julukan kasar itu. "—sama Yeni? Demi karir politik?"
"Gak gitu, Sayang.... Mamah yakin bukan cuma itu alasannya."
"Terus apa dong? Mamah juga kenapa mau dijodohin kayak begitu sama orang yang..." tukas Jena dengan suara tercekat. "...yang selama ini cintanya sama orang lain?"
Jena menyaksikan perubahan ekspresi di wajah ibunya. Kedua mata itu sedikit berkedut dan memicing, seolah menahan rasa sakit. Jena tahu kalimat tudingan tadi telah menyakiti beliau. Tapi ia tidak bisa berhenti—dirinya pun telah menahan sakit itu terlalu lama.