JUDUL KEDUA DALAM SERI JENAKA
The Wolf I Love - On Going
Mon, Wed, Fri - 20.30 WIB
--------------------------------------------------------------
Sudah lama Jenaka mengubur impiannya untuk memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Seisi Kota Sidikar...
Hi, readers! Makasih ya udah mampir lagi. Udah setengah jalan menuju tamat nih, gak kerasa 🥲 Sejauh ini kalian lebih suka mana, Jenaka atau The Wolf I Love? Atau malah, kalian belum baca Jenaka? Kalau belum tau, itu cerita yang sama tapi dari PoV Arai, seru jugaaa! Semoga pada suka sama Chapter 15 ini yaa. Di sini, rahasia pengagum rahasia Jena terungkap loh! Sipa coba kira-kira? Ada yang udah bisa nebak? Happy reading 📚
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tidak. Tidak mungkin.
Ada denyut aneh di telapak tangan Jena yang mengepal, seirama dengan degup jantungnya yang mendadak terasa lebih berdentam. Jena beberapa kali mengerjap, berusaha memastikan apa yang ada di depan matanya. Barangkali ia hanya salah melihat. Namun, tulisan tangan di sampul sebuah jurnal yang menyedot perhatian Jena sejak beberapa detik yang lalu itu tetap tidak berubah.
Tulisan tangan yang rapi dan klasik, seperti diukir oleh cendekiawan sastra. Yang setelah dua malam berturut-turut Jena pandangi dan teliti dengan begitu seksama, ia hafal betul setiap liku dan sudutnya.
Tapi mengapa justru di tempat ini? Pasti ada suatu penjelasan yang masuk akal. Atau, seseorang mungkin baru saja memberinya sebuah lelucon yang sangat buruk.
Dingin mulai merayapi tengkuk Jena saat ia menyadari tidak ada satu pun orang di dunia yang akan mengerjainya soal hal ini. Jena bahkan belum sempat bercerita pada Caca perihal si pengagum rahasia yang selama dua hari berturut-turut mengirimnya bunga. Selain daripada orang-orang rumahnya, tidak ada yang tahu.
Terdengar sebuah suara memanggil namanya, tapi rasanya seperti datang dari ujung koridor yang sangat jauh. Otak Jena sepenuhnya mengabaikan panggilan itu. Dengan lengan yang sedikit gemetar, Jena meraih jurnal hitam yang sedari tadi dipandanginya dari atas meja.
Jena nyaris melompat ketika sebuah tepukan mendarat di pundaknya. Jurnal yang baru saja digenggamnya pun jatuh ke lantai.
"Kak Jena? Berkasnya yang ini."
Kesadaran membawa Jena kembali ke ruangan sekre OSIS. Ia menoleh dan mendapati seorang pengurus OSIS tengah menyodorkan sebuah map. Butuh beberapa detik bagi Jena untuk mengingat bahwa isi dari map itu adalah alasan sebenarnya ia mampir ke sekre OSIS.
Seperti biasa, pagi tadi Jena tetap datang ke sekolah karena enggan melewatkan jam pelajaran. Ternyata kali ini, kebiasaannya yang seringkali Caca sebut sebagai terlalu rajin itu ada untungnya juga. LO-nya untuk lomba Nusa Cendekia mengalami kecelakaan motor sehingga terpaksa harus Jena sendiri yang mengambil berkas administrasi lomba.
Caca menawarkan diri untuk mengantar, tetapi Jena dengan tegas menolak. Hari ini adalah hari terakhir Caca masuk sekolah sebelum besok akan absen untuk berangkat ke kampung, Jena tahu ia pasti ingin menghabiskan waktunya dengan Pete. Maka, selepas jam pelajaran kedua, Jena pun segera melesat dan disambut si pengurus OSIS yang kini tengah mengacungkan map di hadapannya.