JUDUL KEDUA DALAM SERI JENAKA
The Wolf I Love - On Going
Mon, Wed, Fri - 20.30 WIB
--------------------------------------------------------------
Sudah lama Jenaka mengubur impiannya untuk memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Seisi Kota Sidikar...
Hi, readers! Telat posting karena kelupaan. Maafkan yaa 🙏 Semoga pada suka sama chapter ini, Happy reading 📚
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kali ini Jena benar-benar yakin sesuatu yang ada di antara dirinya dan Arai bukan hanya terjadi dalam pikirannya saja. Jena percaya Arai bukan tipe lelaki yang akan mencium bibir sembarang gadis tanpa maksud apa pun. Sebenarnya, ciuman itu hanya sebuah aksi penegas saja. Setiap interaksi antara dirinya dan Arai sepanjang hari kemarin memang sedikit demi sedikit telah menghapus keraguan Jena.
Yang perlu Jena khawatirkan sekarang adalah bentuk hubungan mereka ke depannya. Akan seperti apakah kira-kira? Satu hal yang pasti tentang Arai adalah ia tidak seperti para lelaki lainnya, tidak ada yang konvensional dalam caranya berhubungan dengan manusia lain. Jena tahu beberapa pasangan berhubungan tanpa adanya penegasan status di antara mereka. Namun, walaupun teramat menyukai Arai, Jena tak yakin ia sanggup menjalani hubungan yang tak pasti seperti itu.
Tiba-tiba pemuda yang sedari tadi memenuhi benak Jena itu menengok ke arahnya dari bangku seberang, lalu keduanya saling melempar senyum. Mereka tengah berada di dalam minibus, dalam perjalanan pulang ke Sidikara bersama rombongan Kapow. Meski tidak duduk bersebelahan, itu tadi sudah yang ketiga kalinya dalam satu jam terakhir pandangan mereka saling beradu.
Ponsel Jena berdenting, membuatnya mengalihkan pandangan dari Arai dan merogoh gawai itu dari tas tangannya.
[Udah masuk Sidikara? Papah berangkat jemput sekarang ya]
Sederet kalimat itu membuat Jena memutar mata. Sungguh, ia lebih memilih pulang dengan taksi online kalaupun Om Heru berhalangan menjemputnya di Kapow sore ini. Tapi, tentu saja pamannya itu tidak benar-benar berhalangan. Jena cukup pintar untuk mengetahui bahwa itu hanya akal-akalan ayahnya saja, yang ingin memiliki waktu berdua dengannya agar dapat membicarakan masalah kemarin. Bahkan, tadinya beliau bersikukuh agar Jena tidak perlu ikut pulang dengan rombongan Kapow, karena ingin pergi menjemput ke Trisakti. Jena dengan tegas menolak. Berduaan saja dengan ayahnya selama perjalanan dari Kapow ke rumah saja ia malas. Apalagi dari Jakarta ke Sidikara.
Perhitungan Eddi Sustandi tepat. Tak lama setelah pesan darinya masuk, minibus keluar dari gerbang tol Sidikara. Gadis itu menegakkan duduknya dan merapikan rambut yang sedikit kusut karena bersandar selama perjalanan. Tak butuh waktu lama untuk melaju menuju Kapow dari gerbang tol. Sepuluh menit kemudian, mereka pun tiba.
"Arai, aku duluan ya," pamit Jena begitu turun di pelataran parkir.
"Langsung?" tanya Arai dengan alis terangkat.
Jena mengangguk. Cherokee hitam ayahnya terlihat baru saja menepi di jalanan depan Kapow. "Aku udah dijemput."
"Oh, oke. Sekali lagi, selamat ya udah lulus."
Jena ingin membalas ucapan selamat itu, tapi sayang Arai tidak lulus dalam ujiannya pagi tadi. Biarpun begitu, hal itu tampaknya sama sekali tidak mempengaruhinya—ia sama sekali tidak tampak kecewa. Sepertinya apa yang ia katakan kemarin memang benar, ujian Aikido ini hanya sebuah formalitas saja baginya. Maka, Jena hanya menjawab, "Makasih!"