JUDUL KEDUA DALAM SERI JENAKA
The Wolf I Love - On Going
Mon, Wed, Fri - 20.30 WIB
--------------------------------------------------------------
Sudah lama Jenaka mengubur impiannya untuk memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Seisi Kota Sidikar...
Hi, readers! Ini adalah... chapter paling menyayat hati menurutku selama nulis TWIL. Bagian ini di Jenaka juga sedihhh, tp di TWIL jauuuh lebih sedih lg huhuhu Siap patah hati bareng Jena? Happy reading 📚
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jena telah menangkap kehadiran Arai sebelum pemuda itu menemukan dirinya. Ia dapat mendengar pintu ruang tindakan yang dibuka. Kemudian, entah bagaimana, Jena tahu bahwa langkah kaki hilir mudik yang terdengar tergesa-gesa setelahnya adalah Arai tengah mencari dirinya. Bagaimana ia bisa tahu? Entahlah. Yang jelas, bahkan sebelum mendengar suara Arai yang bertanya tentang dirinya pada petugas administrasi, Jena merasa yakin suara langkah kaki yang didengarnya adalah milik pemuda itu.
Akhirnya sudut mata Jena menangkap Arai keluar dari area dalam klinik dan berjalan ke arah bangku besi tempatnya duduk.
"Jena, saya kira kamu pergi." Arai duduk di samping Jena.
Jena menoleh. Arai terlihat lebih baik dengan perban baru di pelipis dan ujung bibirnya. Luka-luka lain di wajahnya juga telah dibersihkan dan diolesi obat. Selain di buku jari, lengan kanannya pun kini dilapisi perban baru. Sisanya tersembunyi di balik seragam, entah berapa banyak.
"Udah selesai?" tanya Jena tanpa melihat langsung ke mata Arai.
Pemuda itu mengangguk.
Jena menyerahkan kantong plastik putih yang tadi menjadi saksi kerapuhan mentalnya. "Jangan lupa minum obatnya. Semoga cepat sembuh." Gadis itu lalu berdiri dan berjalan melewati Arai.
Arai segera meraih lengannya. "Kamu mau ke mana?"
"Pulang," jawab Jena lugas sambil mengguncangkan lengannya agar dapat lepas dari cekalan tangan Arai.
"Jena—"
"Aku bilang akan tunggu sampai kamu selesai," potong Jena. "Sekarang udah, kan?"
"Iya, tapi kamu harus dengar apa yang mau saya sampaikan dulu."
Jujur saja, Jena mulai muak dengan kata harus itu. Ia mendesah, berhenti menggerakkan lengannya, lalu akhirnya mendongak untuk menatap mata Arai tajam. "Kenapa harus?" Jena melihat Arai telah membuka mulut, tetapi sebelum kata apa pun keluar dari sana, ia cepat menambahkan, "Kamu gak punya kewajiban buat ngejelasin apa pun, Arai. Aku juga sama, gak harus denger kamu."
Setelah mengutarakan kalimat itu dengan penuh penekanan, Jena menunduk untuk mencoba lagi melepaskan cekalan tangan Arai di lengannya, dengan bantuan tangannya yang lain kali ini. Namun, lengannya tetap tak bisa lepas karena tampaknya Arai bertekad untuk benar-benar menahannya tetap tinggal.
Sekonyong-konyong Jena teringat akan adegan yang hampir sama di toko buku beberapa bulan lalu. Saat rahasia keanggotaan Blacktula Farel baru terbongkar, dan lelaki itu mencekal lengan Jena dengan cara yang sama. Bedanya, kala itu hati Jena tidak sesakit sekarang. Terang saja—rasa yang telah ia pupuk untuk Arai jauh lebih besar.