Si Gadis Emas

168 14 6
                                        

Hi, readers,

Terima kasih sudah mampir di Chapter 1 TWIL ❤

Karya yang dibuat sepenuh hati dan sebaik mungkin ini, bisa kamu nikmati dengan gratis loh!

Asal...

Sebelum lanjut baca, jangan lupa vote dulu ya! 

Happy reading 👌

29 November 2022

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

29 November 2022

Sudah lama Jenaka mengubur impiannya untuk memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Di mana ia bisa berjalan di lorong sekolah tanpa menyadari beberapa orang saling berbisik-bisik saat melihatnya, berkenalan dengan orang-orang baru dan mendapati mereka mau berteman dengannya secara tulus—tanpa sebuah agenda tersembunyi—dan, yah, tahulah, menemukan cinta yang tidak disangka-sangka?

Seperti dalam novel-novel komedi romantis remaja yang sering ia baca, Jenaka ingin menjadi seorang gadis kebanyakan. Gadis yang menjalani hari-hari yang biasa-biasa saja, hingga sesuatu yang seru dan tidak terduga terjadi.

Sayang, tidak ada yang biasa-biasa saja dalam hidup Jenaka. Pagi ini saja, lima orang berdiri diam di lorong sekolah hanya untuk menatap Jena lewat. Dua dari mereka bahkan saling bertabrakan karena berhenti tanpa memperhatikan jalan dengan benar—pandangan mereka hanya terfokus pada Jena. Sepertinya mereka selalu berpikir bahwa tindak-tanduk itu tidak kentara. Jena sendiri pun tidak pernah menunjukan gelagat seperti menyadari ada yang salah. Padahal, ia menyadari semuanya dengan jelas—seperti ada spotlight yang selalu menyinari dirinya, tanpa pernah bisa ia hindari.

Segalanya akan menjadi mudah ditebak jika hampir seluruh penduduk kota tahu siapa dirimu dan memperlakukanmu dengan sangat... berlebihan. Seolah-olah kau ini Taylor Swift atau siapalah, dan bukannya seorang anak SMA biasa.

Sesuatu yang seru dan tidak terduga? Cinta yang tidak disangka-sangka? Jena mendengus. Mimpi saja, deh.

Jam besar yang menempel di dinding lorong menunjukan masih ada lima belas menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Gadis itu berbelok menuju ruang tata usaha sekolah, alih-alih terus lurus menuju kelasnya di gedung bagian IPA. Pintu ruangan itu terbuka, dan seorang petugas muda duduk di salah satu meja di dalamnya. Bukan orang yang dicari Jena, tetapi mungkin ia bisa membantu.

"Pagi, Pak," sapa Jena sambil mengetuk pelan daun pintu. "Saya diminta menemui Bu Vita hari ini."

Petugas lelaki itu mengangkat kepalanya dari kertas yang sedang ia amati di atas meja, lalu tersenyum saat mendapati siapa yang berdiri di ambang pintu. "Pagi, Jenaka. Terlalu pagi, sebenarnya. Bu Vita nanti datangnya agak siang. Mungkin kamu bisa ke sini lagi pas jam istirahat?"

The Wolf I LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang