Menerka Kandang Tarantula

15 1 2
                                        

Hi, readers!
Setelah cek cok sama Arai dan berpisah di teras klinik, gmn keadaan Jena? Yuk langsung baca aja mendingan! Udah nyampe klimaks cerita nihhh
Happy reading 📚

Hi, readers! Setelah cek cok sama Arai dan berpisah di teras klinik, gmn keadaan Jena? Yuk langsung baca aja mendingan! Udah nyampe klimaks cerita nihhhHappy reading 📚

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tubuh Jena menggigil saat berjalan dalam balutan seragam yang masih setengah basah. Perutnya lapar, dan ia merasa sangat lemas setelah hari panjang yang berat tadi. Tak lama lagi sore akan berubah menjadi malam. Jena melangkah cepat di jalanan basah yang berkilap oranye—pantulan dari sinar lampu-lampu jalan yang mulai dinyalakan. Ia ingin cepat sampai di tikungan, tempat pangkalan taksi biru berada.

Jalan Merak masih sepi sebagai sisa hujan deras tadi. Selain Jena, tidak ada lagi pejalan kaki lain. Jena juga belum melihat motor Arai melintas. Bukan berarti Jena menunggunya, tentu saja tidak. Hanya saja, pemuda itu harus melewati jalan ini—jalan yang tengah Jena tapaki—untuk pulang ke kamar kontrakannya di Sidikara Utara. Mungkin ia masih termenung di teras klinik, atau mampir ke kedai nasi goreng kambing di dekat Kapow. Atau...

Jena, benaknya mendesis getir. Hentikan.

Itu bukan urusannya lagi.

Jena hampir tiba di tikungan, samar-samar telah terdengar suara lalu lintas dari jalan raya besar. Ia mempercepat langkahnya. Kemudian, di antara derap suara sepatunya yang menyentuh aspal, Jena mendengar sebuah suara lain yang datang dari dekat—deru halus mesin sepeda motor yang melaju pelan. Ia menoleh ke kanan, tapi tidak mendapati adanya motor yang melintas.

Berpikir ia salah dengar—mungkin suara itu datang dari arah jalan raya di depan—Jena tidak lagi menghiraukannya. Namun, tak sampai satu menit kemudian, ia menghentikan langkah. Deru mesin motor yang sama masih terdengar, dan Jena yakin betul sumber suara itu berada tak jauh darinya. Kepalanya menengok ke kanan dan kiri. Nihil, ia sepenuhnya sendiri di jalan yang lengang ini.

Cepat-cepat ia berbalik ke belakang. Namun ternyata, juga tidak ada siapa pun. Tadinya Jena sempat berpikir bahwa mungkin saja Arai mengikuti perlahan, tapi terlalu malu untuk memanggilnya. Jena memasang telinga baik-baik. Deru motor itu telah hilang, meski baru beberapa detik yang lalu ia yakin benar telah mendengarnya. Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, terlihat satu belokan kecil. Mungkinkah, motor yang tadi melaju pelan itu berada di sana?

Tengkuk Jena mulai meremang. Ia berdiri mematung selama beberapa detik, dengan mata tertuju ke belokan itu. Mendapati seseorang diam-diam mengikutinya bukan hal baru bagi Jena, tetapi itu tidak pernah terjadi saat ia sendirian di jalan sepi.

"Halo?" panggil Jena akhirnya.

Tidak tampak atau terdengar adanya pergerakan apa pun dari sana.

Mungkin seharusnya Jena kembali berbalik dan bergegas menuju pangkalan taksi. Tetapi ia enggan berjalan maju dalam ketidaktahuan, dengan perasaan tegang karena bisa saja seseorang ada di balik punggungnya. Memikirkannya saja, Jena bergidik. Lebih baik hadapi sekali jadi, daripada lari dan takut tak pasti.

The Wolf I LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang