JUDUL KEDUA DALAM SERI JENAKA
The Wolf I Love - On Going
Mon, Wed, Fri - 20.30 WIB
--------------------------------------------------------------
Sudah lama Jenaka mengubur impiannya untuk memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Seisi Kota Sidikar...
Hi, readers! Gak usah banyak ba bi bu karena pasti kalian lagi gak sabar pengen liat Arai akhirnya sampai di depan Jena kan??? Wkwkwk ayooo langsung gas! Happy reading! 📚
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jena tidak tahu mengapa Irwin hanya berdiri terpaku ketika akhirnya Arai tiba di ambang pintu. Mungkin ia terlalu takut meninggalkan posnya, atau hanya terkejut melihat sang serigala ternyata benar-benar berhasil mencapai garasi mereka. Walau telah menduganya, Jena tetap meringis ketika Arai meninju Irwin hingga pemuda yang sedari tadi sempat membantunya diam-diam itu terpelanting jatuh lalu lari menjauh.
Dengan kepergian Irwin, akhirnya Jena hanya berdua saja dengan Arai. Gadis itu tidak tahu mengapa air matanya malah mengalir semakin deras, disertai getar napas tertahan yang tak bisa ia kendalikan. Tapi Arai yang mendekat padanya dengan langkah pelan dan tenang, padahal baru saja menerjang barikade puluhan tarantula, membuat tangis itu begitu sukar dihentikan. Arai yang mengulas senyum lembut untuk menenangkannya, meski keningnya berkerut dalam.
Kedua mata Jena bergerak cepat, menyapu sosok Arai dari atas ke bawah. Syukurlah helm full-face melindungi wajah pemuda itu dengan baik. Selain dari perban dan goresan-goresan yang sejak sore telah ada, tidak ada satu pun bekas luka baru. Sementara, karena mengenakan jaket kulit tebal dan celana panjang, tidak tampak pula adanya luka di tubuhnya. Hanya bagian lengan kanan jaketnya yang terkoyak panjang, sobek dari pangkal bahu hingga melampaui siku.
Sekilas Arai tampak nyaris tak tersentuh. Namun, Jena menyadari pemuda itu berjalan dengan sebelah kaki diseret dan sedikit tertatih. Juga noda gelap yang terlihat basah pada tepi sobekan jaketnya—darah.
Arai akhirnya tiba di hadapan Jena. Ia berjongkok, lalu perlahan-lahan melepaskan lakban di mulutnya.
"A-arai..." isak Jena begitu mulutnya kembali bebas.
"Sssh." Arai mulai meraih simpul tambang yang mengikat tangan Jena di belakang kursi. "Sekarang saya—"
Jena memekik terkejut. Sebuah pintu kecil di samping garasi tiba-tiba terbuka lebar dan Farel melesat masuk lalu menendang Arai sekeras-kerasnya—membuat pemuda itu terhuyung menjauhi Jena.
Farel berteriak berang, "Aing bilang sendiri, anjing! Tadi sore sia berani, kenapa sekarang enggak?" Kemudian, ia menarik kursi kayu Jena mendekat, menimbulkan suara decit yang menusuk telinga.
Jena menahan napas saat wajahnya tiba-tiba dicapit dan didongakkan dari arah belakang. Lehernya terasa nyeri, tetapi kengeriannya lebih besar dari rasa sakit itu.
Farel lebih menekankan lagi jemarinya di pipi Jena, mencengkeramnya begitu keras hingga gadis itu yakin akan meninggalkan bekas. "Gak sanggup nyelametin dia tanpa bantuan?"
Jena memberontak hebat. Namun, sebelum mulutnya sempat terbuka untuk memaki Farel, Arai lebih dulu menerjang lelaki brengsek itu hingga keduanya melesat ke luar garasi. Jena sempat terhuyung, beruntung kaki kursinya hanya bergoyang sedikit lalu kembali berdiri tegak.