JUDUL KEDUA DALAM SERI JENAKA
The Wolf I Love - On Going
Mon, Wed, Fri - 20.30 WIB
--------------------------------------------------------------
Sudah lama Jenaka mengubur impiannya untuk memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Seisi Kota Sidikar...
Hi, readers! Satu chapter menjelang finale 🥺 Tense-nya makin naikkkk. Vote dulu ya sebelum baca 🖤 Happy reading 📚
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ternyata Mazda ibu Jena tidak perlu berbalik arah sampai ke markas Blacktula. Arai dan Felix ditemukan mengambang beberapa kilometer ke arah Timur dari perbukitan. Kabarnya, evakuasi akan dilakukan langsung di titik tersebut melalui dinding jurang, menggunakan tali pengangkat. Ke puncak tebing itulah ibu Jena meminta supir membawa mereka. Di mana unit penyelamat dan tim paramedis, juga ayah Jena, akan menunggu.
Perjalanan tiga kilometer itu terasa seperti ratusan kilo bagi Jena. Tidak lagi bersandar, kini ia duduk tegak dan mencondongkan badan ke depan. Matanya yang tadi mulai berat kini kembali terbuka lebar, berharap segera menangkap keramaian yang dimaksud di tengah sepi dan gelapnya penghujung malam.
Jika proses evakuasi berjalan lancar, tak lama lagi ia akan melihat Arai. Pemuda itu akan ada dalam jangkauan gapai tangannya lagi. Jena menunduk, menatap kedua tangannya di atas pangkuan. Sang ibu tengah merangkul dan meremas pundaknya erat. Namun, saat melihat telapak yang tampak dingin dan kesepian itu, sesuatu tiba-tiba mengetuk dadanya. Sebentuk rindu yang tajam dan mendadak, membuat napasnya tercekat.
Ia ingat bagaimana rasanya saat jemarinya dan Arai saling bertaut selama berayun di ketinggian beratap langit senja. Bagaimana sentuhan itu seolah mengirim gelenyar listrik langsung ke dadanya, membuat desir halus yang ada di sana berubah menjadi debar kencang.
Dan kali selanjutnya Arai meremas jemari Jena adalah sore tadi di teras belakang klinik Jalan Merak, ketika ia melepaskan sentuhan itu dengan marah. Jena tidak percaya baru dua belas jam berlalu sejak saat itu. Begitu banyak hal yang telah terjadi, dan satu hal penting telah berubah dalam hatinya.
Seluruh kecewa yang sempat membuat Jena menyerah ternyata tidak sebanding dengan besarnya rasa yang ia miliki. Ketakutan yang teramat sangat akan kehilangan pemuda itu membuktikannya. Dan dalam rasa yang besar itu, akan selalu ada ruang untuk maaf.
Lalu lintas yang sepenuhnya kosong membuat waktu tempuh terpangkas lebih dari setengahnya. Saat mereka tiba di lokasi, terlihat dua buah ambulans dan beberapa orang paramedis telah siaga. Juga satu mobil pemadam kebakaran dan sekitar sepuluh orang petugas yang telah memakai helm dan pakaian penyelamatan.
Ayah Jena berdiri tak jauh dari ambulans, terlihat tengah terlibat pembicaraan dengan sepasang suami istri paruh baya yang sepertinya adalah orang tua dari Felix. Melihat itu, ingatan Jena melayang pada sosok ayah Arai yang telah pamit pulang ke Surabaya. Apakah sudah ada yang memberitahu beliau bahwa putranya baru saja mengalami kecelakaan hebat? Mengingat sifat Arai yang tertutup, Jena ragu.
Gadis itu menghambur turun dan menghampiri ayahnya begitu mobil selesai diparkir. Angin dini hari segera menyergap, membuat Jena mengencangkan jaketnya rapat-rapat.
Setelah obrolan beliau dengan sepasang suami istri tadi selesai, Jena bertanya. "Belum mulai diangkat, Pah?" Di tepi jurang, memang terlihat tali-tali panjang yang menjuntai, juga sebuah lampu sorot portabel yang mengarah ke bawah. Empat orang tim penarik sibuk mengatur posisi dan jarak.