JUDUL KEDUA DALAM SERI JENAKA
The Wolf I Love - On Going
Mon, Wed, Fri - 20.30 WIB
--------------------------------------------------------------
Sudah lama Jenaka mengubur impiannya untuk memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja. Seisi Kota Sidikar...
Hi, readers! Pembaca Jenaka pasti udah nunggu-nunggu banget tiga chapter yang akan aku update ke depan... yaitu chapter tentang Jena & Arai pas di Jakarta! Puncak momen romantis banget gak sih 🤗❤ Belum baca Jenaka? It's okaaay! Malah sebetulnya even better, karena kalian akan degdegserrr wawwww icikiwir saat pertama baca adegan-adegan super sweet-nya nanti! Hope you'll enjoy it. Happy reading 📚
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sekitar seratus orang aikidoka ditambah beberapa puluh pelatih memenuhi aula olahraga Universitas Trisakti pagi itu. Ruangan yang sangat luas itu dibagi menjadi sepuluh arena tarung—dengan masing-masing satu meja juri—yang dikelilingi oleh deretan tribun penonton.
Sangat tidak seperti Jenaka untuk tidak merasa tegang dan berdebar saat menghadapi ujian atau lomba. Namun, ini nyata adanya. Jena merasa sangat santai, padahal ia hanya sempat berlatih selama tiga puluh menit bersama Ira, temannya dari Kapow yang sama-sama aikidokakyu-5. Tidak ada beban tak kasatmata yang biasanya menekannya untuk selalu menjadi yang terbaik. Sampai-sampai, ia merasa heran dan merasa ada yang salah dengan dirinya sendiri. Setelah menganalisa diri, Jena sampai pada kesimpulan bahwa sepertinya konflik demi konflik yang sejak kemarin menerpa justru membuatnya lebih rileks saat dihadapkan pada persoalan hidupnya yang biasa.
Maka, saat terdengar pembawa acara memanggil namanya lewat pengeras suara, "Jenaka, Kapow dojo, arena tujuh!", gadis itu berjalan dengan tenang dan percaya diri menuju arena yang dimaksud.
Setelah membungkukkan badan pada lawan tarungnya dan para juri sebagai salam penghormatan, Jena memulai ujiannya. Tubuhnya bergerak ringan dari satu tes ke tes lain. Setiap gerakan mengalir mulus dari tangan dan kakinya, tanpa tekanan sama sekali. Dalam tes terakhir, gadis itu bahkan melakukan gerak nage wazadengan teramat lancar, padahal gerakan itu adalah salah satu yang tersulit baginya selama menggeluti bela diri Aikido.
Tepat setelah melakukan gerakan itulah Jena mendapati sosok Arai. Arena tarung tujuh berada di tengah aula, cukup jauh dari tribun penonton. Jena pun tengah memusatkan fokusnya pada ujian, sama sekali tidak berusaha mencari Arai. Namun, entah bagaimana matanya menangkap sosok pemuda itu di antara ratusan orang yang ada. Seolah ada magnet yang menarik perhatian Jena padanya.
Tes terakhir selesai, Jena dan lawannya kembali saling membungkukkan badan. Para juri membutuhkan waktu beberapa menit untuk menggabungkan penilaian, momen yang dipakai Jena untuk sejenak beristirahat di sisi arena dan meneguk sebotol air mineral dengan rakus. Saat kembali ke tengah arena, Jena menarik napas dalam-dalam, siap menerima apa pun hasil yang akan diberikan juri.
LOLOS - LOLOS.
Papan itu diacungkan, yang berarti baik Jena dan lawan tarungnya sama-sama telah lolos ke kyu-4. Senyum lebar serta merta merekah di wajah gadis itu. Hal pertama yang dilakukan Jena setelah memberi salam penghormatan terakhir pada para juri adalah menoleh ke tribun penonton, dan mengacungkan jempol pada Arai.