Si Pendatang Baru

62 3 5
                                        

Hi, readers!
Makasih udah mampir lagi di The Wolf I Love.
Sebelum mulai baca, absen dulu yuuuk!
Kalian tau cerita ini dari mana?
Sudah baca judul pertamanya belum?
Sudah kasih tau temennya belum, bahwa di Wattpad ada cerita sekeren ini? 😁
Selamat membaca yaa, Chapter 4 masih ngikutin cerita Jena sama 'si Jangkung' sepulang dari KutuBuku. Gemesss banget deh!

.

.

.

.

.

Jangan lupa vote dulu sebelum scroll lagi! 😆
Happy reading!


Bus nomor 02 melaju di keramaian sore hari Kota Sidikara. Jena duduk di bangku samping jendela sambil sesekali berusaha menengok ke arah belakang bus, memastikan Farel sudah berhenti membuntuti. Pemuda itu pastilah harus kembali lagi ke KutuBuku untuk membawa motor yang tadi ditinggalkannya di sana. Kemungkinan besar, setelahnya ia akan langsung menuju rumah Jena.

Jena memperhatikan jalanan yang cukup padat. Mungkinkah bus ini akan tiba lebih cepat dibanding motor sport Farel? Jika lampu merah di depan tidak-

Sebuah bunyi klakson menghentikan pemikiran Jena, membuat gadis itu begitu terkejut hingga otomatis menutup mata rapat-rapat dan nyaris terperanjat. Setelah beberapa detik berlalu, barulah Jena menyadari bahwa tidak ada hal buruk yang akan terjadi padanya. Bahwa ia telah aman, di dalam bus kota yang akan membawanya pulang. Bahwa bahkan jika Farel tiba lebih dulu, ia tidak perlu merasa takut karena security yang ditugaskan ayahnya di rumah tidak akan membiarkan Jena jatuh ke dalam bahaya.

Rasa sesak di dada membuat Jena sadar bahwa sedari tadi ia bernapas dengan helaan-helaan pendek yang memburu. Jantungnya belum juga kembali ke ritme normal, dan peluh bercucuran dari dahinya. Jena menyentuh dadanya, menarik napas panjang lalu mengeluarkannya pelan-pelan.

Aku aman, aku aman, aku aman, ulang gadis itu terus dalam hati, memaksa dirinya merasa tenang.

Jena berusaha memusatkan perhatian pada hal-hal lain di jalan, agar pikiran-pikiran negatif yang bergumul di benaknya hilang. Matanya tertuju pada sebuah kedai martabak besar di pinggir jalan. Dulu, ketika ayahnya belum terjun ke dalam dunia politik, beliau sering mengajak Jena mampir membeli martabak keju di sana sepulang dari menjemputnya di sekolah dasar. Jena tersenyum mengenang saat-saat yang indah itu, saat di mana hidupnya masih damai sebagai seseorang yang biasa-biasa saja, tanpa semrawutnya drama sebuah popularitas.

Terlihat seorang gadis berseragam yang sepertinya seusia dengan Jena keluar dari kedai martabak itu dengan bungkusan plastik di tangan. Ia terlihat tengah bercakap-cakap dengan seorang teman lelakinya, lalu mereka berdua terpingkal-pingkal. Gadis itu terlihat begitu ceria, tertawa lepas tanpa beban. Pemuda yang kini tengah memakaikan helm ke kepalanya pastilah tulus menyukainya, tanpa suatu agenda tersembunyi.

Pandangan yang buram menyadarkan Jena bahwa sedari tadi air matanya telah mengalir membasahi wajah. Jena bukan merasa iri pada hubungan romantis yang mungkin dimiliki gadis asing di kedai martabak itu dengan pemuda di sampingnya. Bukan itu. Ia iri pada kebebasan yang gadis itu miliki. Ia iri pada ketulusan yang bisa gadis itu dapatkan, tidak seperti dirinya yang harus selalu menerka-nerka motif di balik setiap orang yang mendekatinya.

Ditusuknya Jena dari belakang oleh orang yang telah ia percaya bukanlah hal baru. Farel bukan yang pertama, dan sepertinya terlalu optimis untuk berpikir bahwa ia akan menjadi yang terakhir. Sejak pertama kali mengenal rasa untuk lawan jenis, Jena telah berkali-kali menelan kecewa. Itulah hal yang harus dibayar untuk menjadi seorang Jenaka.

The Wolf I LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang