pertemuan?

176 14 0
                                        

malam semakin larut, Dian semakin terhanyut dengan lamunannya. kilas balik masa lalu terus beputar dibenaknya bagaikan kaset rusak yang tak punya akhir.

dia mengingat kehancuran keluarganya saat dia terpaksa memainkan peran untuk mengalabui elina, dimana saat itu dia harus bermain peran dengan istrinya sendiri. dia harus berperan sebagai pria bajingan yang lebih mementingkan wanita lain daripada istrinya sendiri. agar musuh tak mengincar istrinya yang saat itu tengah hamil besar

tapi ternyata dia gagal, mereka tetap membunuh istrinya. dan dia tak berdaya untuk melawan. dia tak pernah membicarakan ini dengan putranya itu sebabnya dia tak mempunyai hubungan yang baik dengan bara dan keano, sebab mereka masih berpikir bahwa mereka mempunyai ayah badjingan. tapi tak apa, biarlah luka ini ia genggam sendiri, meski perlahan menghancurkan dirinya.

.

.

.

.

Bagaskara Dinata, pria yang memikul beban kekuasaan Dinata saat ini. menjadi satu satunya pewaris yang tersisa dari keluarga Dinata membuat kesunyian selalu menghampirinya. sepanjang hidup dia hanya menyaksikan kematian saudaranya lalu dilanjutkan dengan pelenyapan tragis kedua orang tuanya.

Bagaskara adalah pria tegas dengan masa lalu yang kelam, ia selalu berusaha agar keluarga kecilnya tak pernasib sama. tapi ternyata harapannya tak sejalan dengan kenyataan. 11 tahun lalu dia harus kehilangan darah dagingnya sendiri, putra bungsunya yang baru ia ketahui keberadaannya pagi ini.

ia menatap ranjang tempat istirnya terbaring lemah sejak 4 hari lalu. rasa sakit akan kematian dan kehilangan menghujam jantungnya. ia tak akan selamanya diam, ia tak akan membiarkan anak anaknya bernasib sama.

hari ini kehancuran akan menghampiri mereka yang menghendaki kehancuran keluarganya.

.

.

.

.

pagi ini seperti biasa, Gaviar tengah menikmati paginya sembari mematut diri di depan kaca seolah dirinya adalah laki laki tertampan di dunia ini.

tanganya dengan gesit meraih ransel hitam yang tergantung di sebelah lemari

"telat lagi dah gua" gumamnya pada dirinya sendiri

Gavier menuruni tangga dengan gerakan ala slowmotion bak artis bolywood yang diananti nantikan kehadirannya

"gavier!"

suata tegas itu mengalun di telingan gavier, ia langusng menoleh pada Dian yang tengah menatapnya datar

"duduklah dan sarapan disini bersama kami"

gavier terdiam, ia menatap satu persatu orang yang ada disana. tapi ada satu hal yang membuatnya bingung, sergio bocah PPB yang ternyata adiknya jino itu tampak mengenakkan seragam yang sama dengannya.

"lo...kenapa lo-"

"gio akan melanjutkan studinya disini, kau tak terganggu dengan itu kan?" potong elina, nenek sihir berhati iblis yang tampak menatap sinis kearahnya

"bau bau bakalan tinggal disini selamanya nih" ucap gavier sembarj meraih segelas susu yang terletak di hadapan deon

"setelah mama pulang, gio akan kembali kok. jadi kak gavier tenang saja, aku ga akan lebih lama ngerepotinnya disini" ucap gio yang akhirnya buma suara

gavier menatap pemuda itu sekilas, ia tak tau harus bersikap seperti apa pada adik sahabatnya itu. pasalnya dia masih bingung dengan posisi pemuda ini yang entah mendukungnya atau malah berpihak pada elina.

"bagus dong kalau lo sadar" ucapnya dan berlalu pergi dari sana

"kak gavier"

gavier menoleh kebelakang saat pemuda itu kembali membuka suara.

gio bangkit dsri duduknya "aku boleh nebeng sama kamu kan hari ini, soalnya aku-"

"katanya lo ga akan ngerepotin gue" potong gavier sebelum gio menyelesaikan ucapannya

"anak sialan! kamu pikir kamu siapa hah?!"

teriakan elina terdengar nyaring di meja makan. Dian menatap elna tajam sekilas lalu menatap lekat netra putranya.

"kak gavier jangan marah, kalau kaka ga mau ga papa kok, aku-"

"kata siapa gue ga mau? buruan nanti telat lagi gara gara lo" potong gavier dan berlalu dari sana

gio sempag terdiam beberapa saat, namun dia langsung mengambil ranselnya dan pergk dari sana.

sementara Dian dan deon yang ada di meja makan menatap cengo interaksi itu. apa apaan barusan? pikir meraka.

" huh, putramu itu harus diajari tata krama, bisa bisa gio terkena pengaruh buruknnya nanti" ucap elina sebelum pergi dari sana.

.

.

.

.

sepanjang perjalanan, gavier dilanda bimbang karna dia tak tahu harus memulai penyelidikannya tentang pemuda ini dari mana.

dia takut jika ternyata elina menanam orang untuk mengawasi gerak gerim gio. kalau terus begini dia jadi kehabisan akal unruk mempertemukan gio dengan jino.

setelah sampai di sekolah, gavier hendak meninggalkan gio sendirian, namun kedatangan jino dan jayden membuat langkahnya terhenti

jino menatap gio lekat, langkah kakinya membawa dirinya mendekati gio. namun gavier langsung  mengejntikan tindakan gegabah jino

"kita ga tau siapa yang lagi ngawasin kita" bisiknya tepat di telinga jino

jino menatap gavier sekilas, lalu menatap lekat pada gio yang di depannya.

pemuda yang di tatap selekat itu tentunya jadi salang tingkah. dia juga terkejut dengan pertemuannya dengan jino saudara kembaranga setelah hampir 11 tahun terpisah.

"lu berdua mau sampai kapan disini?!" tanya jeyden heran dia masih tak mengerti dengan apa yang terjadi

"ye si coek, ga tau keadaan banget lu orang gila" delik gavier sembari meninggalkan mereka berdua

"heh! lo mau bengong disini sampe malam apa gimane si?!" sentak jayden saat jino masih dalam lamunannya

"eh tunggu!"

suata gio menghentikan langkah ketika pemuda itu

"aku boleh minta tolong anter aku keliling sekolah ini ga?"

gavier menatap gio penuh selidik. dia mengangguk pada jino seolah mengizinkannya mengambil alih

"gue bisa bantu lo" ucap jino yang tentunya  mendapag anggukan kaku dari gio

mereka bertiga berjalan beriringan menuju area belakang sekolah.

gio sendiri heran dengan rute yang mereka lewati karna semakin lama semakin sepi

gio hendak menghentikan langkah mereka namun mereka lebih dulu berhenti dan berbalik kearah gio

"emm kita mau kemana?"

gio mendongkol dalam hati, ia terdengar bodoh sekarang. kalau bukan ulah perempuan gila yang memintanya melakukan ini dia mana mau.

ia harus menjadi korban perundungan gavier dan kawan kawannya hari ini. itu rencana yang telah di susun elina

"sebelum kenal lingkungan sekolah, sebaiknya lo lebih mengenal kita dulu" ucap jino dengan tatapan datarnya

lalu gavier dan jayden yang ada di belakang jino langsung menarik pemuda itu ke dalam ruang alat yang telah lama ditinggalkan

.

.

.

tbc

Alexander Story' { GAVIER}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang