20. ERLANGGA [MATI]

373 13 1
                                        

Jangan lupa vote + komen.
Sekecil apapun jejak yang kalian tinggalkan sangat berarti 👣

Happy Reading!!

••••••••••••••••••••
Di sebuah gedung terbengkalai terlihat seorang perempuan yang dirantai dengan tubuhnya yang di penuhi luka cambukan. Perempuan itu terlihat merintih memohon pertolongan dari seorang laki laki yang duduk di sebuah kursi dengan sebatang nikotin yang bertengger indah di bibirnya.

Mata elang laki laki itu memandang remeh pada perempuan yang berada di bawah kakinya. Ia kembali menghisap rokoknya sebelum menempelkan puntung rokok itu pada luka tawanannya.

"Arghh, sakit Erlan! Kumohon lepaskan aku!" Jerit perempuan itu tak kuasa lagi menerima penyiksaan yang bertubi tubi dari Erlan.

"Ah, Reva.. suara teriakan kesakitan sangat merdu di telingaku. Bukankah sangat disayangkan jika aku melepaskanmu?" Erlan kembali duduk menyila di kursinya.

"KAU IBLIS!".

Devan yang berdiri di belakang Erlan melotot mendengar umpatan Reva pada tuannya. Ia maju dan menendang perempuan itu hingga tersungkur "Jaga bicaramu pada tuanku".

Erlan mengibaskan tangannya meminta Devan untuk sedikit menjauh dari Reba, kemudian dia bangun mendekat kearah Reva

Langkah tegap dengan raut datar milik Erlan membuat Reva merasa terancam, laki laki itu memandangnya seolah ia adalah santapan lezat.

Erlan menundukkan badannya mendekat mulutnya kearah telinga Reva yang masih tersungkur "kau berkata jika aku iblis? Ya, aku adalah iblis yang akan mengirinmu ke neraka" desis Erlan.

DEG

Jantung Reva berdetak dua kali lebih cepat, apalagi melihat senyuman Erlan yang amat menyeramkan "ampuni a-aku" ujarnya lirih.

"Mengampuni katamu?" Tanya Erlan remeh.

"TANGAN INI TELAH LANCANG MENDORONG ISTRIKU!" Suara teriakan Erlan terdengar menggelegar memenuhi gedung. Ia menginjak tangan kanan Reva dengan kuat hingga perempuan itu memekik keras.

"Devan ambilkan gergaji"

"Baik tuan"

Erlan menerima gergaji yang di berikan oleh Devan, ia memotong tangan kanan Reva. Darah perempuan menyiprat pada wajah dan kemeja putih Erlan. Ia tertawa keras saat mendengar teriakan kesakitan dari tawanannya.

"Arghhh, sakit sekali. Kumohon bunuh saja aku!"

"Teriak lagi, lagi. Teriaklah lebih keras jalang! Aku sangat menyukai teriakan kesakitanmu"

"Cukup, bunuh saja aku!" Lirih Reva dengan setengah kesadaran yang masih tersisa. Ia sudah tidak kuat lagi menerima penyiksaan tak manusiawi dari Erlan.

Penyesalan terbesar dalam hidupnya adalah jatuh cinta pada sesosok iblis di hadapannya itu. Rasa cinta itu membuatnya merenggang nyawa dengan tragis.

Namun Reva hanya bisa meratapi penyesalan itu, sudah tidak ada gunanya.

Nyawanya terlanjur berakhir ditangan Erlan.

"Sesuai permintaan mu" Erlan mengambil katana tajam miliknya. Ia menebas leher Reva hingga membuat kepala perempuan itu menggelinding dibawah kakinya.

"Itu akibatnya jika mengusik rumah tanggaku" tanpa belas kasihan ia menendang kepala Reva hingga kepojok ruangan.

"Bereskan mayat jalang ini" Titah Erlan membuat Devan menganggukkan kepalanya.

Setelah itu Erlan keluar dari gedung terbengkalai itu dan pulang untuk kembali ke mansion miliknya.

Tiga puluh menit kemudian Erlan sudah sampai di mansionnya. Ia mengetuk pintu depan sambil melirik kearah jam tangannya. Sudah jam Sebelas malam, harusnya Bella sudah tertidur jam segini. Ia menghela nafas pelan, tidak perlu takut dengan Bella yang akan melihat penampilannya yang penuh darah.

Wanita itu pasti akan pingsan.

Ceklek

Pintu terbuka, tebakan Erlan salah. Ternyata istrinya yang membuka pintu, Bella menatap Erlan dengan tangannya yana menutup mulut terkejut.

"A-apa yang kau lakukan Erlan?"

Erlan menatap istrinya yang terlihat ketakutan melihatnya. Ia tidak bisa memegang Bella, karena akan mengotori perempuan itu dengan darah.

"Membereskan seekor hama" jawab laki laki itu singkat.

Mendengar jawaban Erlan, Bella terduduk. Kakinya terasa sangat lemas, ia memandang suaminya denga tubuh gemetaran dan air mata yang mengalir di kedua belah mata cantiknya.

Tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Bella tidak bodoh untuk mengetahui apa arti dari kata "hama" yang suaminya katakan.

Itu adalah manusia, suaminya membunuh manusia!

Seumur hidupnya, Bella hanya tau jika pembunuh itu ada di film. Namun ternyata pembunuh itu benar benar ada.

Dan itu adalah suaminya.

Bella menatap kearah Erlan dengan pandangan sayu "kau seorang monster" lirihnya sebelum pandangan Bella menggelap.

Ia sempat mencium bau anyir darah dari suaminya saat laki laki itu menggedongnya ke kamar mereka.

Erlan sudah tidak peduli lagi jika ia mengotori badan Bella. Istrinya pingsan dan harus ia obati.

"Kelinci manisku lemah sekali. Ia pingsan hanya dengan melihatku penuh darah" Ujar Erlan sambil menaiki tangga dengan Bella dalam gendongannya.

Erlan yakin jika besok saat Bella bangun gadis itu akan trauma dengan darah.
__________________

Slow update

ERLANGGA [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang