Jangan lupa vote + komen.
Sekecil apapun jejak yang kalian tinggalkan sangat berarti 👣
Happy Reading!!
•••••••••••••••••
Hari demi hari berganti, bulan demi bulan pun telah berlalu dan tahun pun telah berubah. Evander dan Elio tumbuh menjadi laki laki yang sama sama hebat persis seperti ayahnya.
Namun sikap dan sorotan mata kedua putra kembar Erlan itu berbeda. Juga dengan hobi dan hal hal yang mereka suka juga berbanding terbalik.
Jika sorot mata Evander setajam mata ayahnya maka mata Elio seteduh ibunya.
Sikap dan fisik Evander juga persis seperti ayahnya, ia tumbuh menjadi laki laki dingin dan arogan. Bahkan senyumnya bisa dihitung jari, ia akan menunjukkan senyum itu pada orang yang ia sayang.
Berbanding terbalik dengan sikap adiknya yang hangat dan murah senyum, namun jangan salah. Elio juga akan menjadi jahat jika ia diusik, sebab laki laki itu menyukai ketenangan.
Sedari kecil Erlangga sudah mengajari banyak hal pada anaknya, Erlangga mengajarkan bagaimana anaknya dapat bertahan didunia ini jika nanti dirinya sudah tidak ada. Erlangga juga sudah membekali putra putranya cara bela diri dan memegang senjata.
Namun pada suatu hari saat Erlangga memberi tahu jika mereka harus menggantikan ia sebagai pemimpin perusahaan dan pemimpin dunia bawah juga perusahaan Raymond yang selama ini ia ambil alih setelah ayah dan ibu mertuanya meninggal beberapa tahun lalu akibat jatuh sakit.
Elio, putra bungsunya langsung menolak untuk mendapatkan peran tersebut. Sudah dibilang kan Elio lebih menyukai ketenangan dibandingkan harus memimpin itu semua yang pastinya akan membuat hidup tenangnya terganggu?
Ia menyukai melukis bukan memimpin..
Erlangga menghela nafas melihat kepergian Elio dari ruang kerjanya ia melihat putra tertuanya yang masih diam. Saat ia melihat Evander rasanya ia seperti berkaca "bagaimana denganmu Evander?"
"Tidak ada alasan untuk aku menolakmu" jawabnya.
Mendengar jawaban Evander ia tersenyum "terimakasih"
"Jangan pernah mengucapkan terimakasih padaku ayah, kau lupa? aku adalah bagian darimu"
"Kau benar, kau memang bagian dariku. Dan jika dilihat kau lebih mirip denganku daripada Elio kembaranmu sendiri" ujar Erlangga.
"Kami kembar tidak identik" jawab Evander mengingatkan ayahnya kembali.
Erlangga mengangguk "oh ya, satu lagi pesanku. Jika nanti aku sudah tidak ada aku titipkan ibu dan adikmu. Ya, mungkin adikmu bisa menjaga dirinya sendiri tapi tuntun dia"
Evander melirik ayahnya tidak suka saat mendengar kalimat yang baru saja laki laki itu lontarkan "aku pasti akan menjaga mereka dengan nyawaku ayah, tapi bisakah kau tarik kata kata awalmu? Kau tidak akan kemana mana!"
Erlangga tersenyum "ya aku tidak akan kemana mana"
Keesokan harinya terlihat Elio yang baru saja pulang dari luar. Laki laki itu tersenyum begitu lebar, ia membawa tas ranselnya menuju kearah dapur untuk menemui ibunya.
"Ibu! Ibu!" Panggil Elio.
"Disini sayang!" Sahut Bella.
Elio berlari dan memeluk ibunya yang disambut juga oleh Bella "ibu kau tahu? Lukisan yang aku jual dipameran seni semuanya habis terjual! Dan lihat aku membawa hadiah dari uang hasil aku menjual lukisan"
Elio membuka tasnya mengeluarkan kotak perhiasan berwarna merah "ini dariku untuk ibu"
Bella menutup mulutnya tidak percaya "Kau serius sayang? Ibu bangga sekali. Putra ibu memang hebat!" puji Bella, ia membuka kotak itu dan menemukan cincin batu ruby berwarna merah kesukaannya
"Ini indah sekali"
"Tidak seindah ibu tentunya" Elio tertawa mengambil cincin itu dan memakaikannya pada jari Bella.
"Terimakasih sayang"
"Anything for you my angel, aku juga membelikan hadiah untuk kakak dan ayah. Dimana mereka ibu? aku ingin memberikannya"
"Mereka ada ditaman sayang. Sepertinya mereka baru pulang dari kantor" beritahu Bella.
"Baiklah, aku akan kesana" Elio menjauh dari dapur menuju ke taman. Ia bisa melihat ayah dan kakanya yang sedang mengobrol.
"Hai ayah, kakak" sapa Elio menarik kursi yang ada disitu duduk ditengah tengah kakak dan ayahnya.
"Hai El bagaimana pameran seninya? Dan lukisanmu?" Tanya Erlangga saat melihat putra bungsunya.
Elio tersenyum "Ayah dan kakak tahu? Lukisanku habis terjual. Dan aku membawakan hadiah dari uang hasil aku menjual lukisan untuk ayah dan kakak"
Evander mengerutkan keningnya "apa yang kau bawa untukku dan ayah?"
"Iya, ayo tunjukkan ayah jadi tidak sabar" ujar Erlangga penasaran dengan hadiah yang akan diberikan oleh Elio.
Elio mengeluarkan tiga buah kotak jam mahal. Ia membuka dan memperlihatkan jam berwarna hitam dengan ukiran nama mereka masing masing disana.
Erlangga idak heran kenapa putranya bisa membeli jam mahal itu. Lukisan Elio itu sangat indah seakan akan terlihat nyata dan membuat siapapun tersihir saat melihatnya, pasti pecinta seni yang datang ke pameran mau menawar dengan harga fantastis untuk lukisan putranya.
"Bagaimana? ayah dan kakak suka? Aku membeli tiga, jadi kita bisa memiliki jam yang sama"
"Tentu Elio. Ayah sangat menyukainya, kau memang berbakat!" puji Erlangga sambil mengenakan jam itu ditangan kirinya.
"Aku tahu itu ayah, bagaimana denganmu kakak?" Tanya Elio pada Evander.
"Not bad" jawab Evander ikut mengenakan jam tangan.
"Ayah bisakah aku membuka museum seni sendiri?"
"Silahkan jika kau mau" ujar Erlangga mengizinkan membuat Elio tersenyum senang.
Evander melirik adik dan ayahnya sebentar sebelum meregangkan badannya dan bangun dari kursi "aku akan ke kamar"
Sebelum pergi Evander menepuk kepala adiknya pelan "kau hebat" ujarnya sebelum pergi dari taman menuju kamarnya.
"Tentu saja!" Balas Elio.
Setelah mengatakan itu Elio kembali menatap kearah ayahnya yang terlihat sedang membaca sebuah berkas "ayah" panggilnya.
"Yes son?"
"Untuk yang kemarin, aku minta maaf sudah menolak ayah"
"Tidak apa El, aku tidak akan marah ataupun memaksamu. Aku hanya menawarkan, tentang kau mau atau tidak itu terserah padamu" ujarErlangga menepuk pundak Elio.
"Aku ingin memilih jalan hidupku sendiri" Elio menunduk tidak enak.
Erlangga tersenyum ia mengangkat dagu anakanya "pilihlah apapun yang kau sukai Elio. Ayah, ibu dan kakak akan mendukung semua yang kau mau selagi itu tidak merugikan"
"Aku adalah orang yang jahat, dan aku tidak mau menjadi ayah yang jahat untukmu dan kakakmu" Erlangga mungkin jahat dimata orang lain namun ia tidak mau menjadi orang jahat dimata keluarganya sendiri.
Apalagi setelah kehadiran Evander dan Elio dihidupnya Erlangga merasa jauh lebih hidup, ia berpikir ternyata ada yang menerimanya selain Bella.
"Dimataku dan kakak, ayah itu sempurna" ujar Elio memeluk ayahnya.
"Kau terlalu berlebihan Elio" Erlangga tertawa menepuk pelan kepala Elio yang memeluknya.
________________
KAMU SEDANG MEMBACA
ERLANGGA [On Going]
RomanceErlangga Keanu Addison. Laki laki dingin tak tersentuh yang tidak pernah merasakan cinta dalam hidupnya. Dunia Erlan terlalu gelap untuk merasakan sebuah perasaan yang bernama cinta itu. Hingga suatu kejadian tidak sengaja mempertemukannya dengan A...
![ERLANGGA [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/312408295-64-k121550.jpg)