Satu Kelas
©2024
Jay memasuki perumahan Kayumanis sore itu. Ia membelokkan motornya ke rumah bercat oren mentereng yang menurut tebakannya, catnya masih baru.
Cowok itu melepas helm kemudian berkaca pada spion merapikan tatanan rambutnya. Kalau kata Taehyun waktu itu, "Sibuk banget benerin rambut, padahal yang berantakan hatinya."
Kakinya melangkah ringan menghampiri pintu kayu yang tertutup itu. Tangannya terangkat mulai mengetuk. Mendengar suara kunci yang diputar membuatnya mundur sejenak mempersiapkan diri.
Bukan sekali dua kali ia sambang kesini, tapi sensasi yang didapat tetap sama.
Jay akan selalu berdebar sekaligus tak sabar.
"Mas Jay?"
"Halo, dek Uwon..."
Jungwon menatap linglung sosok jangkung di depannya yang melambai riang seakan tak pernah jumpa.
"Mas Jay kesini kok gak bilang-bilang. Mau ngapain?" tanya bocah itu tampak tak minat, kelihatan dari wajahnya yang tidak semarak melihat Jay datang.
"Mau ngajak Uwon main," sahut Jay ceria.
Jungwon mendengus malas menyandarkan sebelah pipinya pada sisi pintu. Kedua tangannya bergelayut pada gagang pintu itu sambil menatap Jay tak berselera.
"Tapi akunya lagi gak mau main, mas Jay.." katanya dengan ogah-ogahan.
Jay ikut cemberut, "Yahhh, kenapa?"
"Mager."
"Padahal mau gue jajanin cilor sampe enek," balas Jay membuat bocah di depannya itu mulai terpancing.
"Yang di taman kota itu, mas Jay?" tanya Jungwon mendadak bernyawa.
Jay mengangguk membuat Jungwon sedikitnya tergiur. Bibir tipisnya terbuka hendak bersuara tapi mengatup lagi seakan ragu.
"Pengen sih, tapi mager," keluh bocah itu. "Mainnya di rumah aja ya, mas. Gapapa kan? Entar kalo mau jajan gofood aja."
"Lah hayuk saya mah," sambar Jay tanpa pikir panjang.
Kakinya melangkah masuk mengikuti Jungwon dengan patuh. Mendapati rumahnya sepi, lantas Jay menyeletuk, "Pada kemana, Won?"
"Ke rumah bibi, mas. Entar malem baru pulang," jawab bocah itu seraya menuntun Jay ke ruang tengah. "Mau gofood apa, mas?"
"Uwon maunya apa?"
"Lagi pengen kebab."
"Beli aja yang di Sultan Arab. Dagingnya lebih tebel terus luarannya juga enak," usul Jay sambil duduk merapat mengintip Jungwon yang sibuk menggulir layar hp nya.
"Radja kebab juga enak, mas Jay."
"Tapi saosnya terlalu asem, kurang like gue."
"Yaudah Sultan Arab aja. Minumnya kita bikin lemon tea ya, mas?"
"Iya. Mau bikin sekarang?"
Jungwon mengangguk membuat Jay bangkit berinisiatif membantu. Ia melangkah lebih dulu ke arah dapur yang letaknya sudah dihapal luar kepala. Jangan kira, kesibukan Jay kalo gak ngampus ya ngapelin Jungwon.
Ibarat kata, kejarlah Jungwon sampai ke negeri cina.
"Buset Won, kulkas lu isinya coklat semua? Lu jualan apa gimana dah?" komentar cowok itu tertawa tak habis pikir melihat banyaknya bungkus coklat berbeda-beda merk tersusun asal di pintu kulkas. "Gue minta satu ya?"
"JANGAN!" Jungwon melesat dengan cepat. Menghadang tangan Jay yang hendak mengambil sebungkus coklat berbungkus ungu itu.
"Kenapa sih pelit amat!" cibir Jay sinis.
"Itu coklat spesial buat seseorang, mas Jay gak boleh minta," repet Jungwon beralih pada tumpukan coklat berbentuk koin di space paling bawah. Ia memberikan beberapa untuk Jay. "Mas Jay yang ini aja. Ini juga enak kok," lanjutnya ikut mencomot satu biji kemudian memakannya.
Mahasiswa ilmu hukum itu reflek menganga menatap Jungwon nanar. Ia jelas tau siapa orang spesial yang dimaksud.
"Bang Heeseung ya?"
Jungwon diam saja tak menyahut, bocah itu malah sok menyibukkan diri seakan menghindar membuat Jay tersenyum dengan masam.
Jujur, hatinya perih. Ada rasa iri dalam dirinya mengetahui betapa Jungwon sangat menyukai abang sekaligus sahabatnya itu.
Heeseung gak ngapa-ngapain aja Jungwon udah bucin, sementara Jay harus mengarungi 5 benua dulu itupun gak dianggap.
"Sesuka itu ya lu sama bang Heeseung, Won," kekeh Jay dengan miris.
Si mahasiswa itu berusaha sesantai mungkin agar tak terlihat menyedihkan walaupun hatinya sudah seperti disayat-sayat. Tangannya kemudian beralih membuka freezer, mengeluarkan es batu dari sana.
Hening kembali menyelimuti mereka. Jungwon makin bungkam. Sementara Jay sudah tak tahan seakan dadanya membuncah ingin meluapkan segalanya.
"Lu gak mau ngeliat gue sekali aja kah, Won?" lirih Jay sambil tangannya sibuk menghancurkan es batu dengan ulekan cobek.
Jungwon sontak menoleh mengernyitkan dahinya. "Apa, mas Jay?"
"Enggakkk."
Bocah SMA itu mendengus kecil. Membalikkan badan kembali menyibukkan diri menuangkan air ke dalam panci untuk direbus.
Hening menyelimuti keduanya. Tidak ada suara lain selain dari kegiatan mereka membuat lemon tea.
Padahal lebih dari itu, ada sesuatu yang tidak Jay ketahui.
Bahwa suara debaran jantung Jungwon lebih mendominasi saat ini. Jungwon dengar, tapi memilih berpura-pura karena tak ingin ada rasa canggung antara dirinya dengan mahasiswa hukum itu. Jungwon tau Jay menyukainya lebih dari ia menyukai Heeseung. Jungwon sadar dengan perjuangan Jay selama ini.
Tapi ia sadar, Jay baik dan perhatian bukan hanya pada dirinya saja.
Jay itu friendly. Jungwon belum siap merasakan cemburu setiap hari.
Satu Kelas
Extra chapter; to be continued
KAMU SEDANG MEMBACA
Satu Kelas [END]
FantasySungjake fanfiction. A story by kiminuwwwww. BxB! Note: Mohon maaf jika ada kesamaan latar tempat, waktu, dan peristiwa. Fanfic ini murni karangan dari penulis. Terimakasih.
![Satu Kelas [END]](https://img.wattpad.com/cover/368025516-64-k311921.jpg)