"Seberapa jauh seseorang boleh peduli sebelum itu berubah jadi sesuatu yang tidak seharusnya?" El selalu terlihat seperti jawaban. Tenang, rapi, dan seolah tidak pernah salah langkah.
Tapi manusia jarang sesederhana penampilannya.
Di balik sikapnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Rooftop di hampir sore ini menjadi saksi seorang laki-laki yang raganya tengah disana tapi pikirannya tengah berkeliling. El menghembuskan nafas gusar, merasa masalahnya kali ini tidak jelas. Berlebihan. Lebih dari itu, pikirannya meminta ia mencoba sesuatu yang baru. Mungkin merokok atau minum bahkan. Sesuatu yang dulu pernah di ajarkan oleh temannya tapi sama sekali tidak pernah ia lakukan.
Mereka bilang itu bisa membuatnya terbang atau apapun. Itu bahkan tidak masuk akal baginya, tapi kali ini dirinya benar-benar sangat ingin mencobanya. El menunduk memperhatikan sekolah yang sudah mulai sepi, hanya ada beberapa siswa dan seorang satpam di sift sore.
Sore ini langit sangat cerah. El mendongak menikmati angin yang menyapu rambut-rambutnya pada kening. Pikirannya mulai sadar, hanya pengecut yang lari dari masalah. Laki-laki ini harus menyelesaikannya. Tangannya masuk kedalam saku. Beberapa kali bernafas dengan teratur sebelum langkahnya memilih turun untuk pulang.
Hanya tersisa dua motor, miliknya, dan entah milik siapa. El bergegas pergi.
Jalanan sore ini agak lenggang, dan tanpa pikir panjang, El menambah kecepatan motornya. Kepalanya mendadak membawanya pada ayah Calla, gadis yang ikut terseret dalam masalahnya. El pikir dirinya akan urung pulang sekarang. Dirinya tengah sibuk memperhatikan jalanan, melihat pedagang makanan apapun yang setidaknya bisa dibelinya.
Tiba-tiba juga gerimis turun. Padahal sebelumnya langit sangat cerah. El berdecak pelan, ia memilih menepi, sekaligus mencari makanan di minimarket.
Laki-laki ini mengambil barang asal. Air mineral, beberapa roti, dan entah makanan apa kini sudah berkumpul di keranjangnya. Mulai berjalan, melepas tasnya, kemudian mengantri untuk membayar barangnya. Perhatiannya teralih pada ponsel yang hampir seharian ini tidak belum dibukanya.
Tangan itu meraihnya, mematikan dnd mode, dan menyalakan data seluler. Banyak pesan-pesan masuk sekaligus dan beberapa panggilan telepon. Seusai membayar barang yang di belinya, tangan El mulai bergulir pada ponsel genggamnya.
Ada beberapa pesan masuk dari Zeno.
Panggilan masuk ketika El baru saja membaca pesan tidak jelas Zeno.
“El?”
“Apa?”
“Astaga, lo daritadi kemana si?” Nada suaranya naik satu oktaf. “Kalla masuk hari ini, lo bilang dia absen, dan gue rasa dia aneh.” El menjauhkan ponselnya, memastikan nama yang tertera benar-benar nama sahabatnya.
“Kalla masuk?”
“Masuk. Itu yang mau gue tanyain. Lo tau dia absen darimana?”
“Dia udah pulang?” Bohong kalau El Tidak merasa khawatir. Tadi pagi saja Calla seperti mayat hidup di mata El. “Aneh gimana sikapnya?”
“Aneh yang, ah lo tau nggak sih, jepit rambut?”
“Nggak usah ngelantur.”
“Gue nggak ngelantur el—”
“Dia udah pulang belum—”
“Lo sebenernya ada urusan apa sama Kalla?”
“Zen.” Pertanyaan yang bagus memang, tapi di telinga El, itu lebih merujuk pada tuduhan, tuduhan yang menanyakan apa yang sudah El perbuat pada gadis itu.
“El, lo itu—”
Tut
Sambungan itu El matikan secara sepihak. El harus memastikan Calla baik-baik saja sekarang.
Ia keluar dari minimarket dengan menenteng sebuah plastik putih yang sudah penuh. Tetapi sebentar, langkahnya terhenti. Pandangannya bergulir pada gadis yang berdiri di seberangnya. Tubuh gadis itu setengah maju dan setengah ragu. Seperti seolah pikirannya entah dimana.
Pandangannya teralih. Tubuh gadis itu terang tersorot lampu kendaraan dibarengi dengan suara klakson yang meraung keras.
“Kal!”
Srek
Duk
Dada El naik turun yang menandakan dirinya tengah mati-matian mengatur nafas. Plastik di tangannya jatuh seperti Calla yang masih diam. Tangan gadis itu menekan aspal kasar tempatnya duduk.
Tidak ada tangisan, Calla hanya seperti menemukan kesadarannya kembali. Gadis ini menoleh dan langsung bertemu tatap dengan El. Mulutnya sedikit terbuka, nafasnya terputus-putus.
“Maaf.” Hanya satu kata yang keluar dari bibir Calla. Motor tadi melaju cepat, tapi sisa anginnya seperti masih terasa. Calla merasa dirinya menekan aspal terlalu kuat, sepertinya batu-batu halus itu baru saja menembus kulit tangannya.
“Lo kenapa nyebrang sambil ngelamun?” Suara El rendah, rasa panik di nadanya lebih dominan di banding kemarahannya. “Kal, itu bahaya.”
Calla menunduk. Tangan di sisi tubuhnya masih menekan aspal kuat. El bangun dan memposisikan dirinya berjongkok di depan Calla. Tangannya gemetar bahkan hampir limbung pada percobaan pertama.
“Kal, gue tau ini nggak gampang, tapi seenggaknya jaga diri lo sendiri juga. Gue nggak tau ada kejadian apa waktu lo milih buat berangkat tadi, dan hampir ketabrak lo ini kejadian keberapa waktu lo milih buat pulang sendiri.” El mengembuskan nafas pelan. “Ada gue, lo bisa andelin gue selagi ayah lo belum sadar, hubungin gue Kal, recokin gue, selagi itu bikin lo lebih aman. Gue—”
“Apa hubungannya?” Calla mendongak mendapatkan wajah El yang keningnya mengernyit. “Apa hubungan komanya ayah aku dan kamu? Kenapa kamu sepeduli itu?”
Waktunya tidak pas. Bahu El melemas. “Ayok gue antar—” tangan yang berusaha meraih pergelangan tangan Calla di tepis kasar. Persis seperti kalimatnya yang berhenti di tenggorokan. “Kal—”
“Jelasin.” Itu bukan permintaan, tapi keputusan final dari Calla.
“Gue jelasin nanti. Kaki lo keseleo, itu nggak bisa di paksa jalan.”
El sibuk dengan Calla. Membantunya berdiri, membersihkan bagian rok nya, dan mengambil plastik belanjaan yang terjatuh. Ia bukan tidak peduli, dirinya bahkan sadar tatapan tajam yang Calla layangkan.
Plastik itu El serahkan pada Calla, yang mau tidak mau gadis itu terima. “Gue pesenin taxi. Lo naik taxi, gue di belakang. Gue masih ada urusan habis ini.”
“Sampai kamu jelasin, nggak usah sok peduli.”
Kalimat terakhir sebelum Calla masuk kedalam taxi yang El pesan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
━━━━━━━━━ ✢ ⟡ ✢ ━━━━━━━━━
Haduhhh... Curi-curi waktu bangett :c tapi El bakal jelasin gasii?