misaligned ~8

177 82 40
                                        

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━

El datang untuk menjelaskan? Tapi tidak. Laki-laki itu hanya mendongak dan bertemu tatap dengan Calla sepersekian detik. Matanya seperti memastikan keadaan Calla yang kini diam dengan tangan berpegangan pada pagar pembatas. El mengubah padangan ke depan sebelum kemudian memilih berjalan dan menaiki motornya lagi.

Calla hanya memperhatikan bagaimana laki-laki itu tertatih. Rambutnya acak-acakan, pemandangan aneh untuk pertama kalinya setelah mengenal El beberapa hari lalu, Calla melihatnya berantakan. Seberantakan malam ini di depannya.

Motor El menjauh meninggalkan Calla di balkon kamarnya. Tebakan Calla benar, laki-laki itu pasti tidak akan menjelaskan apapun kepadanya. Calla memilih tidak langsung masuk kedalam kamarnya. Gadis ini masih berpegangan pada pagar, rambutnya berayun, awan semakin mendung dengan petir yang mulai bersahut-sahutan.

Merasa tidak ada yang salah dengan keadaannya sekarang, dan merasa kalau El tidak harus menjelaskan apa-apa kepadanya. Mungkin itu lebih baik menurut El dan menurut takdir.

Kakinya sekarang terasa nyeri, gadis ini lebih kesulitan berjalan dripada tadi. Dengan langkah pelan akhirnya Calla sampai di tempat tidur. Ia berpegangan pada sudut tempat tidurnya kemudian menghembuskan nafas pelan.

Dirinya harus tetap tidur malam ini.


━━━━━━━━━ ✢   ⟡   ✢ ━━━━━━━━━


Calla bangun karena suara ketukan pintu kamarnya, ia menoleh. Suara wanita paruh baya menyusul memasuki indra pendengarannya.

“Non, udah bangun?”

Gadis ini mengerjap pelan merasakan kakinya yang semakin berat. Bengkaknya tidak berkurang sama sekali. Calla duduk perlahan sambil mengatur nafasnya yang terasa pendek-pendek. “Udah, masuk aja.”

Knop pintu di tarik turun. Bibi yang bekerja di rumahnya masuk dengan seorang wanita paruh baya lagi. Wanita itu membawa tas besar pada sisi lengannya. Penampilannya terlihat seperti terapis langganan keluarga.

“Maaf, saya boleh lihat kakinya? Katanya kemarin habis terkilir?” Suara halus wanita itu mengalun, bertanya dengan sopan.

Tapi reaksi Calla berbeda, ia mengernyit karena seingatnya dirinya tidak memanggil terapis. Matanya mengarah pada bibi dapur di samping wanita itu. Senyumnya terukir, dan Calla dengan cepat menyimpulkan bahwa bibi dapur yang memanggil terapis tersebut.

Ia akhirnya mengangguk, bibi dapur keluar dari kamar Calla dan melanjutkan pekerjaannya. Dirinya tidak banyak omong pagi-pagi. Suasana sepi rumah masih membuat pikiran gadis itu agak berantakan.

MISALIGNED Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang