Selesai acara, Seonghwa keluar dari venue barengan sama keluarganya Jihoon dan Hyunsuk. 3 Orang dewasa itu saling ngobrolin soal pementasan barusan.
Beda sama Donghyun dan Yewang yang lebih milih buat ngobrol berdua aja.
Soalnya yang lagi bareng sama uncle Seonghwa bukan Wish atau Minwoo, tapi Theo. Dan selama ini mereka ketemu, Theo ga pernah ngomong sepatah kata pun ke mereka :')
Di otaknya Yewang, kalo kokonya aja udah takut buat ngajak ngobrol, ya apalagi dia?! Jadi mending dia ga usah banyak tingkah T.T
Theo jalan paling depan, sementara Donghyun sama Yewang di belakangnya. Baru para orang dewasa di paling belakang.
Sampe di luar, Theo udah ngeliat Wish lagi ngobrol sama 2 bapak-bapak.
Theo jalan lebih lambat, sengaja biar ga mengganggu adeknya ngobrol. Tapi Wish keburu sadar sama keberadaan dia, jadi Wish ngangkat tangannya sambil senyum ke Theo, dan ngomong ke dua bapak-bapak itu.
Theo mau ga mau jadi harus nyamperin, dan dia senyum ke orang yang diajak ngobrol sama Wish, "Malam, om Rano" dia ngulurin tangannya buat salaman
Cowok sipit itu ngejabat balik tangan Theo, "Ah, hello Theo... Kamu tadi duduk di section mana? Kok ga ketemu ya?"
"Di section diamond, om"
"Ah! Pantes ga ketemu. Saya di gold."
"Oh iya... Ngomong-ngomong, kak.. Kenalin, ini suaminya om Rano." Wish ngasih gestur ke cowok yang lebih paling pendek di antara mereka berempat
Cowok itu senyum dan malah ngulurin tangannya duluan ke Theo, "Hai, Choi In."
"Theo." Theo ngejabat tangan In sambil senyum, "kakaknya Wish. Nice to meet you."
"Rano!"
Pas banget abis kenalan, mamanya langsung manggil Rano, dan nyamperin mereka dan ngeliat In, "Oh hai, In!"
Beda sama Theo, senyumnya Seonghwa lebih lebar dan cara bicaranya juga keliatan lebih excited.
"Kalian cuma berdua aja? Romin?"
Rano nunjuk ke arah gedung theatre, "Masih di backstage. Biasa."
--^^--
"--did a great job, kids. Ga cuma string instrument aja, tapi semuanya. The woodwind, brass, also the percussion."
Romin ga ngerti banyak soal orchestra, tapi emang tadi pertunjukannya bagus sih untuk orang awam kayak dia :))
Abis bapak-bapak itu ngomong, cewek yang pake dress merah dan nenteng purse item di sebelahnya nambahin, "Choir-nya juga bagus. Kalo ga salah yang choit tuh bahkan ada yang anak SMP kan ya?"
"Yeah! Yeah!" salah satu guru yang bertanggung jawab, nunjuk 2 murid. Cewek cowok, terus ngomong, "mereka masih kelas 9"
Cewek ber-dress merah itu ngacungin 2 jempolnya ke arah anak-anak choir, "keep it up, choir! Your voice gave me chills."
Anak-anak itu ngebales pujiannya dengan ngomong makasih.
"Nah... Yang ini, Romin.. Dari The Ruler."
Pas dikenalin ke anak-anak murid itu, Romin senyum, sebisa mungkin berusaha ga ngedengerin anak-anak yang nyebut dia cakep :")
"Let's all say thanks to The Ruler yang udah mensponsori seragam kalian."
Pas anak-anak itu bilang makasih, Romin rasanya pengen kabur. Masih ga terbiasa dengan perhatian yang diarahkan semuanya ke dia.
Jadi dia cuma bisa senyum sambil berharap dia ga keliatan terlalu canggung T.T
Padahal cuma disuruh buat setor muka doang tapi entah kenapa rasanya kayak ga selesai-selesai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unhinged People Works
Fanfiction"Uuuu~ Look at our matching bracelets!" "Semoga langgeng ya kalian~" "Match made in heaven!" "Jangan sampe putus yaa~" "Pertama, kita ga pacaran. Kedua.. ini borgol, bangsat!" ● Kelanjutan dari Upaya Parenting Wagu. Saat para anak-anak pekerja bawah...
