Diantara banyaknya luka yang dia terima
setidaknya dia masih punya sahabat yang selalu menyayanginya.
~Alka~
“Bisa jelasin ini dari siapa?” Milan menyerahkan kartu ucapan itu kepada Risa.
“Kamu pasti tau itu dari siapa” Risa membalasnya sambil tersenyum.
Milan bela-belain untuk datang pagi ke sekolah walaupun sebelumnya dia juga selalu pagi, tapi untuk hari ini, ada hal penting yang harus dia pastikan, bahkan tadi sebelum risa sempat meletakkan tasnya ke kursi Milan lebih dulu menarik tangannya menuju taman samping yang bersebelahan dengan lapangan basket.
“Aku pengen dengar penjelasan dari kamu langsung tentang ini”
“Kamu pasti sudah tau kalau itu dari Alka kan” pertanyaan sekaligus pernyataan yang sudah Milan duga sebelumnya.
“Kalian penghianat di persahabatan kita” Ada nada kecewa yang tersirat didalamnya.
“Bukan seperti itu Milan”
“Tapi Risa kenapa harus dia? Kenapa harus Alka? Kamu tau situasi aku sama dia itu bagaimana, Aku kira kamu paham bagaimana posisiku, tapi kamu sama saja dengan yang lainnya” ucap Milan kecewa.
“Karena aku tau kamu pasti ngak bakalan mau dengan ikhlas nerima hadiah dari dia, makanya kami masukin dia pas waktu beli hadiah dengan begitu kamu ngak akan nolak kadonya karena kami berkuntribusi di situ” jelas Risa.
“Milan aku lihat Alka tulus untuk kali ini, Dia dengan serius meminta tolong kepada aku dan yang lainnya, kamu tau sendiri kan dia seperti apa” Risa mencoba meyakinkan Milan tentang hal itu.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Risa panjang lebar Milan sudah mulai mengerti sekarang, Alka mungkin akan mencoba mendekatinya lewat para sahabatnya sekarang “Seperti apa lagi luka yang sedang Lo rancang buat Gue Al?” Monolog nya didalam hati.
Setelah banyaknya Air mata yang tumpah dan banyaknya rasa sakit beserta kecewa yang ia rasa apakah itu belum cukup untuk Alka? dia harus berusaha keras untuk mempertahankan kewarasannya setiap hari demi terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.
“Sekarang kamu sudah tau kan alasannya, terserah apa keputusan kamu selanjutnya aku akan dukung” Risa berucap sambil menepuk-nepuk pelan punggung sahabatnya.
“Yang sudah terjadi apakah bisa diubah lagi? Tidak kan, yang berlalu biarkan berlalu, tapi kedepannya kalian ngak boleh lagi seperti ini” ucap Milan tegas.
“Aku bukannya ngak mau dia ada diantara kita, aku selalu sakit karena dia, aku lemah kalau sudah menyangkut tentang dia, aku ngak tau lagi harus ngapain dan bertindak seperti apa” Milan mencurahkan semua rasa pulu dihatinya.
Mendengarkan itu Risa memeluk sahabatnya itu dengan erat “Aku hargai keputusan kamu, karena yang tau terbaik buat kamu adalah diri kamu sendiri” Risa semakin mengeratkan pelukannya.
“Jangan jatuh karena hujan gerimis seperti ini karena kamu pernah berhasil melewati badai beserta petir sebelumnya” lanjut Risa menyemangati.
Kalau boleh jujur Milan ingin sekali mengakui isi hatinya yang juga menyukai Alka, tapi sayangnya lukanya sudah terlalu dalam sehingga sulit untuk disembuhkan walaupun dengan pengorbanan yang telah dilakukan Alka untuknya sekalipun toh Alka juga tidak berpendirian ia mengatakan mencintai Milan sedangkan dia sendiri mempunyai seorang kekasih, apakah itu layak disebut dengan cinta apalagi sebuah pengorbanan.
“Apakah aku sejahat itu dimatamu?” Dari tadi dia mendengarkan dialog dari keduanya.
Setelah itu dia berjalan kekelas dengan pikiran yang kalut, dia tidak berfikir bakalan separah ini luka yang ia berikan, setidaknya sekarang dia bertekat untuk mengobati sedikit demi sedikit luka gadis itu.
💫💫💫
Sekarang sudah jam istirahat yang menandakan ruang kelas menjadi kosong karena hampir seluruh penghuninya akan berada di kantin ataupun di tempat lain dengan kesibukan masing-masing.
Sedangkan Milan gadis itu dia tidak bergerak sama sekali dari tadi sehabis jam pelajaran ke dua usai, dia tetap berdiam diri di dalam kelas dan menolak ajakan dari Risa, Alya, dan Rea dengan alasan belum lapar.
Masih di tempat yang sama dan posisi yang sama sampai akhirnya dia merasakan kram di perutnya dia mengecek kalender di hp nya, dia lupa kalau hari ini adalah hari dia istimewa, dengan langkah lesu Milan berjalan ke toilet sekolah yang letaknya lumayan agak jauh dari ruang kelasnya yaitu harus melewati banyak kelas dan juga harus berjalan melewati Mushalah sekolah.
“Ish kok gue bisa lupa kalau hari ini jadwalnya ya”
“Mana gue ngak ada persiapan sama sekali lagi” Gerutunya di sepanjang lorong yang ia lewati.
Sambil memegangi perutnya yang semakin kram Milan mencoba untuk mempercepat langkahanya menuju toilet.
Tak jauh dari milan seseorang juga berjalan berlawanan arah dengan Milan, Dia Alka, seseorang yang mati-matian coba Milan hindari. Takdir memang selalu membuat mereka terus bertemu tapi bukan untuk bersatu dan bahagia melainkan untuk terluka lalu menderita bersama.
Tepat saat mereka berada di koordinat yang sama hanya berjarak dua langkah Milan menghentikan langkahnya “Terima kasih untuk kadonya”
Alka berbalik menghadap Milan “Terimakasih juga karena mau nerima”
“Sssh” Milan memegang erat perutnya yang terasa sangat sakit, ini bukan sekali atau dua kali ia merasakan hal ini tapi sudah sering ia mengalami hal itu sebelumnya.
Saat Alka hendak berbalik dan pergi tapi dia urungkan karena ia mendengar ringisan dari Milan.
“Lo kenapa? Ada yang sakit?” Alka terlihat cemas
“Nggak, Gue ngak apa-apa”
“Lo pucat Milan, masih bilang nggak sakit” spontan Alka menutup mulutnya karena sadar terkesan membentak.
“Maaf gue nggak bermaksud sumpah, gue hanya khawatir lihat lo”
Milan hampir tertawa karenanya tapi dia bisa dengan mudah mengubah ekspresinya menjadi biasa saja “No problem, gue fine kok”
Milan sedikit terkekeh “Simpan rasa khawatir lo buat kekasih lo” setelah itu dia pergi meninggalkan Alka yang mematung di tempat.
Cukup lama Milan di dalam toilet sehingga terdengar ketukan dari luar, Milan membuka pintu toilet itu di luar terlihat Risa dengan wajah cemasnya.
“Milan kamu kenapa, Sakit apa?” Dia menggoyang-goyangkan badan Milan untuk memeriksa keadaan sahabatnya.
“Lah siapa yang bilang aku sakit? Aku ngak sakit kok” sanggah Milan.
“Alka bilang ke aku kalau kamu sakit , karena kamu masuknya ke toilet cewek makanya dia nyari aku buat samperin dan cek kondisi kamu” jelas Risa
“Ngak ada aku sakit Risa, cuman sedikit kram perut aja karena mau data bulan” Milan memberi pengertian.
“Serius aku cemas banget tadi sama kamu”
“Nah sekarang nggak boleh cemas lagi kan udah lihat aku baik-baik aja kan” sambil mencubit pelan hidung Risa.
Risa menjauhkan tangan Milan yang mencubit hidungnya “Ihh sakit tau”
“Iya-iya maap deh, ayo balik kekelas”
“Tapi kamu oke kan?”
“Im fine Risa, udah ah yok nanti buruan bell” Milan menarik tangan Risa agar mengikutinya. Diantara banyaknya luka yang ia terima setidaknya dia masih punya sahabat yang selalu menyayanginya.
Hallo... Para readers....
Bagaimana menurut kalian di part ini?
Jangan lupa untuk
Vote
Komen
And follow ya
Thank you
See u di chapter selanjutnya 😇😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Love story Alka
Teen Fictiontidak semua kisah cinta itu berjalan dengan indah, ada juga yang penuh sandiwara dan air mata, sama seperti kisah cinta seorang Milan lexiana allegra dengan seorang Alka diraga Alviando. "Jangan terlihat seperti kamu yang paling tersakiti di dunia i...
