Jennie melangkah keluar dari pesawat, menyambut udara dingin Moskow yang menusuk kulitnya. Bandara Internasional Sheremetyevo terlihat sama seperti dulu, dengan aksara Kiril yang menghiasi setiap sudut, membawa kembali kenangan masa lalu yang telah susah payah Jennie kubur.
Di masa remajanya, Jennie pertama kali menginjakkan kaki di bandara ini dengan penuh harapan, mengejar cinta pertamanya yaitu Victor. Kenangan itu mengalir seperti film di kepalanya: kilatan senyum Victor ketika mereka bertemu di terminal, gemuruh kebahagiaan saat mereka berjalan berpegangan tangan di sepanjang koridor.
Kini, di tempat yang sama, Jennie kembali. Tapi kali ini, bukan untuk mengejar cinta, melainkan untuk melepaskannya.
"Tempat ini terasa asing bagiku."
Suara berat itu akhirnya mengalihkan atensi Jennie. "Itu karena kau baru kembali setelah sekian lama. Setelah beberapa hari berlalu, kau akan terbiasa."
"Terbiasa dengan lingkungannya atau terbiasa tanpamu?" tanya Harvey bergurau. Dia tampak sedikit tertawa ketika menanyakannya.
Dan Jennie menjawab, "Terbiasa tanpaku."
Lalu tak berselang lama kemudian, butiran salju tampak turun dari kelamnya langit, hinggap di mantel tebal yang mereka kenakan, namun tak bisa mengusik keseriusan mereka yang sedang menatap satu sama lain.
"Mendengarmu berucap seperti itu, membuatku takut." lirih Harvey sambil melepaskan syalnya untuk dipakaikan pada Jennie. "Apa setelah kembali dari sini, kau berniat untuk melupakanku?"
"...."
Jennie terdiam, tak mampu menjawab.
"Apa impian yang kau ceritakan padaku waktu itu, ingin kau wujudkan dengan orang lain?" tanya Harvey lagi.
"Tidak."
"Lalu?"
Jennie tampak berjalan lebih dulu. "Aku tidak pernah bilang ingin melupakanmu, aku juga tidak pernah bilang ingin terbiasa tanpamu. Aku hanya... aku hanya ingin kau menjalani kehidupanmu dengan baik selama tidak bersamaku."
"Jane, jangan terlalu mengkhawatirkanku. Aku akan baik-baik saja disini." jawab Harvey sambil sedikit berlari untuk menyesuaikan langkah mereka. "Apa kau tak ingin membuat permintaan? Ini hari pertama salju turun di Moskow."
"Kau percaya dengan hal-hal seperti itu?" tanya Jennie setelah mengeratkan mantelnya.
"Tidak," geleng Harvey pelan. "Tapi apa salahnya jika kita mencoba? Kalau terkabul, itu bagus. Kalau tidak, 'kan bisa dicoba lagi tahun depan."
Penjelasannya yang polos itu pun membuat Jennie tersenyum. "Sepertinya itu bukan ide yang buruk." jawabnya seraya berhenti berjalan. Tak lupa, dia juga menyatukan kedua tangannya dengan mata tertutup rapat.
Kemudian, sambil melakukan hal yang serupa, Harvey bertanya dengan suara berbisik. "Kau meminta apa?"
"Rahasia. Kau meminta apa?"
"Mana boleh dibilang, nanti tidak terkabul!"
Tahu begitu, kenapa dia repot sekali bertanya? Mencoba mengabaikan celotehan tak bergunanya, Jennie pun mulai memanjatkan permintaannya dengan serius.
"Tuhan, aku tidak ingin meminta apapun untuk hidupku, tapi kabulkanlah apapun yang Harvey minta padamu."
Dan disampingnya, Harvey meminta dengan sungguh-sungguh. "Aku ingin hidup selamanya dengan cintaku. Beri aku kesempatan untuk membahagiakannya lebih lama, dan berikan dia kesempatan untuk menjalani kehidupannya sebagai istri dan ibu."
"Sudah?"
Harvey mengangguk. "Sudah."
Jennie pun mengulurkan tangannya sambil menunjukkan senyum manis. "Ayo pulang ke rumahmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐎𝐌𝐌𝐘 𝐉𝐀𝐍𝐄 ✓
Cinta"Mommy" -(n) a hot female version of Daddy Di dalam hidupnya, Gracella Jennifer Jane hanya pernah jatuh cinta sekali. Itu pun cinta yang menjadi luka untuknya karena pria itu lebih memilih wanita lain. Memutuskan berpaling dan mengobati rasa sakit...
