⚠No Plagiat and Remake⚠
-Vote dan Komen ya-
•
•
•
"Luu, kamu mau kemana?"
Angin berhembus kencang memasuki kamar Lucas melalui jendela yang sengaja dibuka. Beberapa kali langit nampak bercahaya, seakan sebentar lagi langit memuntahkan riaknya.
Terdiam beberapa saat, Lucas berbalik menatap kembarannya yang memasuki kamar miliknya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Senyum lembut terlukis di wajahnya.
"Hm, besok aku harus ke luar kota untuk mengecek perusahaan cabang milik Ayah. Jadi, aku harus bersiap," ujar Lucas sembari menggenggam tangan hangat adiknya itu saat hendak menyentuh koper miliknya.
Rucas menunduk, berpikir jika Lucas akan meninggalkannya begitu lama. Namun, usapan lembut di punggung tangannya mengalihkan perhatiannya.
"Jangan sedih, ini tidak akan lama dan aku akan membelikanmu oleh-oleh yang kamu sukai," hibur Lucas sembari tersenyum manis.
Membalas senyum manis Lucas, Rucas memeluk kembarannya itu erat. Firasat buruk menghinggapi dirinya.
"Kembalilah dengan selamat."
Keesokannya, Lucas benar-benar telah pergi tanpa memberitahu Rucas terlebih dulu. Hingga saat Rucas terbangun dari tidurnya, Lucas telah menghilang dari pelukannya dan sambutan di pagi hari tidak ada senyum tengil dari saudara kembarnya itu.
"Bahkan dia tidak memberikan surat sebagai tanda telah pergi," gumam Rucas dengan emosi campur aduk.
Menggenggam selimut putih yang menutupi dirinya dan membalutnya dari udara dingin, Rucas meringkuk. Air mata tidak bisa dirinya tahan hingga isakan pun memecahkan keheningan.
•
Taman mansion yang luas dengan tumbuhan cantik tertata rapi begitu memanjakan mata 004. Bunga warna-warni yang namanya tidak 004 kenali begitu harum saat dicium.
Tangan 004 digenggam erat oleh Rucas. Dirinya tidak tahu apa niat yang diinginkan dari putra kedua Enzi itu. Namun, dengan diajaknya ia berjalan melintasi taman mansion, membuatnya seolah tersihir.
Saat melintasi bagian pinggir taman yang terdapat dinding tinggi berhias bunga merah cantik dan kemudian terdengar lantunan lagu yang begitu lembut saat di dengar.
Lantunan syahdu dari kata-kata manis yang teruntai menjadi satu itu terdengar dari Rucas. 004 merasa begitu tenang saat mendengarnya.
Angin semilir yang lembut menyapa mereka berdua saat lantunan telah usai, seakan angin merasa senang dengan lagu yang dibawakan Rucas. Pohon-pohon yang saling bertubrukan akibat angin pun bagaikan tepukan tangan.
Secercah cahaya tercurah membawa perasaan manis di hati 004. Uluran tangan Rucas yang menggenggam lembut membawanya 004 pada euforia sesaat.
Lama berjalan, 004 dapat melihat apa yang berada di depan mereka sekarang. Sebuah gazebo yang dibangun di atas air. Airnya begitu jernih hingga dapat melihat ikan hias di dalamnya.
"Ayo.."
Rucas menarik lembut tangan adiknya menuju gazebo. Menuntun adik bungsunya melewati jembatan kayu, Rucas dapat melihat binar samar di mata adiknya.
Duduk memandangi pemandangan yang tersedia di depan mereka, Rucas sesekali melirik 004 hingga akhirnya memilih bersuara.
"Dulu tempat ini selalu aku dan Lucas kunjungi saat liburan musim panas. Sebelum kamu diculik, kamu hanya akan berada di kamar, enggan untuk keluar," ujar Rucas menceritakan masa lalunya.
Biasanya 004 hanya akan diam dan tidak menunjukan respons menarik, kini menatap penuh pada Rucas yang bercerita. Rucas yang diperhatikan terkekeh kecil, lucu sekali.
KAMU SEDANG MEMBACA
004: Give Me A Life
FantasiJangan sia-siakan makanan atau akan ada sosok yang memakanmu.
