19

870 57 4
                                        

⚠No Plagiat and Remake⚠
-Awali dengan vote, akhiri dengan komentar-

Di sebuah ruangan mewah terdapat seorang paruh baya tengah mengerjakan tumbukan kertas yang memiliki nilai tinggi. Kacamata bertengger apik di hidung mancungnya.

Merasa lelah akan pekerjaannya, Enzi melepaskan kacamatanya dan mulai memijat pelipisnya saat rasa pusing mulai mendera. "Thio, tolong buatkan aku teh," ujarnya yang ditujukan pada sang tangan tangannya.

Namun, hanya keheningan menyapa telinganya, tidak ada balasan dari sang tangan kanan. "Thio!" Kini Enzi mulai meninggikan suaranya tapi tetap tidak ada jawaban. Sebelah alis Enzi terangkat. Ada sesuatu yang salah di sini.

Dalam keheningan yang menimpa Enzi saat merasakan suatu hal akan terjadi, jam yang berdetak tiba-tiba berhenti dan dengan sekejap semuanya menjadi gelap.

Apa yang terjadi?

Ruangan kerjanya berubah menjadi suatu kegelapan tanpa ujung. Namun, kakinya seolah dapat menapak di kegelapan yang tengah dialaminya.

"Apa yang-"

Belum juga Enzi menyelesaikan ucapannya, suara teriakan yang begitu nyaring hingga memekakkan telinga membuat Enzi jatuh berlutut.

Teriakan penuh tangis rasa sakit yang begitu luar biasa dirasakan walau hanya dengan membayangkan. Enzi jatuh berlutut karena teriakan itu.

Menutup telinganya rapat hingga keluar darah karena begitu kuat dalam menurup telinga tidak memberi pengaruh. Teriakan-teriakan itu seolah berada di dalam kepalanya, bukan di sekitarnya.

Darah mengalir dari telinga Enzi karena teriakan-teriakan yang memekakkan telinga itu belum juga berhenti hingga pada akhirnya mata Enzi yang tertutup akibat rasa sakit perlahan terbuka saat merasakan ada yang mendatanginya.

Masih dalam keadaan menunduk, kaki kecil yang tidak memiliki alas sebagai pelindung itu terlihat begitu banyak memiliki luka dan kotor hingga Enzi merinding jijik dibuatnya.

Semenjak kaki kecil itu mendatanginya, teriakan-teriakan itu perlahan menghilang. Hah, anak ini penenang teriakan itu?

"Siapa kau?" Enzi bertanya angkuh. Mata hitamnya menyorot tajam, memandang rendah wajah sosok di depannya sebelum terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Wajah, tidak. Seluruh tubuh sosok di depannya itu hancur, berlumur darah juga debu. Dari ujung bibirnya sobek hingga pipi.

Kedua tangan anak itu terulur menangkup wajah Enzi hingga darah dari tangannya melumuri wajah Enzi. "Ayah.." Panggilnya. Suaranya terdengar rusak dan tersendat.

"Ayah!"

Lagi anak itu memanggil. Di setiap panggilannya, nada anak itu semakin meninggi hingga pada akhirnya teriakan-teriakan itu kembali memekakkan telinga Enzi yang tidak bisa bergerak dengan wajahnya digenggam erat oleh sosok di depannya.

"Hentikan! Cukup! Hentikan sialan!" Enzi berseru karena tidak lagi kuat mendengar semua teriakan-teriakan yang memekakkan telinga itu.



Gelas kecil berisi alkohol pecah saat menghantam lantai membuat Enzi terbangun tergesa dari tidurnya. Pusing mendera hingga kepalanya terasa berat.

Memijat pelipisnya pelan, Enzi melirik ke arah meja yang terdapat tumpukan berkas serta surat-surat penting. Sepertinya dirinya kelelahan dan mabuk saat mengurus semua berkas itu.

Terdiam sembari memperhatikan tumpukan berkas miliknya, Enzi seketika terpikirkan dengan mimpi yang baru saja dialaminya. Mimpi buruk yang seolah semua itu nyata.

004: Give Me A LifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang