⚠Ingat, no plagiat⚠
-Awali membaca dengan vote, akhiri membaca dengan komentar(terserah sih kapan kalian memberi komentar)-
•
•
•
Pagi yang cerah untuk memulai hari tidak membuat si kembar senang. Aura suram dan enggan meninggalkan mansion begitu terasa tapi tidak dipedulikan oleh sang kepala keluarga.
Wajah Enzi menampilkan ekspresi angkuh, senyum miring pun tercetak jelas. "Sampai kapan kalian hanya diam di samping mobil? Pergi sana," usirnya dengan lembut.
Diam karena terseret oleh Enzi yang tiba-tiba menggendong dirinya disaat menikmati tontonan, 004 menatap lurus pada 'Kakak-kakak'nya. Walau kembar dan memakai pakaian kembar pula, perbedaan mereka begitu kental.
"Ayolah, kami hanya ingin bersama Athala." Lucas bersedekap dada, kesal dipaksa bersekolah.
Enzi memutar matanya malas. "Kalian bisa bertemu setelah sekolah. Pergi sekarang atau Ayah akan menyuruh penjaga untuk menyeret kalian?" Ancaman begitu mulus keluar dari bilah bibirnya dan membuat ekspresi putra kembarnya itu semakin masam.
Memasuki mobil, dua bocah itu segera membuka jendela. Melambaikan tangan seolah akan pergi untuk waktu yang sangat lama.
Terkekeh akan kelakuan mereka, Enzi menuntun tangan putra bungsunya untuk melambaikan tangan juga. "Bye-bye, Kakak-kakak!" ujar Ayah beranak tiga untuk mewakili putra bungsunya.
Mobil yang ditumpangi si kembar telah melewati gerbang dan Enzi yang menggendong 004 segera memasuki mansion. Dirinya hanya melihat kedua putranya itu pergi sekolah ditemani si bungsu.
004 pasrah saja digendong ke sana kemari, lagi pula dirinya hanya bisa diam jika tidak diperintah. Ya, perintah.
Orang-orang yang telah bersamanya kini tidak tahu akan 'Perintah' untuknya. Segala hal tentang dirinya, jiwanya, telah terikat rantai tak kasat mata yang dibuat para peneliti gila di kehidupan masa lalu dan terbawa ke kehidupan sekarang.
Ikatan yang masih juga mengikat erat di lehernya hingga perasaan tercekik tidak bisa dihilangkan dengan mudah. Trauma yang mengakibatkan mentalnya terguncang dan hancur.
"Sayang, kamu kenapa?"
Ciuman lembut Enzi berikan di pipi kanan putra bungsunya, Athala. Dirinya bertanya karena suasana hati putranya itu nampak suram walau ekspresi wajahnya hanya datar. Mungkin ini firasat.
004 sempat terkejut tapi tidak ada ekspresi yang ditampilkan. Melirik dan memalingkan muka, 004 perlahan meremat lengan Enzi yang melingkar di punggungnya agar dirinya tidak terjatuh di gendongan.
Kembali ciuman lembut mendarat di pipi 004 Karena Enzi merasa gemas akan rematan tidak berasa milik putranya. Rematan itu entah untuk menghilangkan stres atau menghilangkan kekesalan terhadapnya tapi bagi Enzi itu menggemaskan.
Memantulkan tubuh 004 pelan ke kanan juga ke kiri, Enzi tersenyum tipis hingga para pelayan wanita terpesona olehnya. "Bungsu Ayah yang manis, waktunya mandi. Kamu bangun terlambat hari ini dan membuat waktu mandi mu dimundurkan," ujarnya mengingat jadwal si bungsu.
Tidak peduli ucapan Enzi, 004 mengingat keanehan yang terjadi padanya juga keluarga dari raga yang ditempatinya. Semua hal seperti kasih sayang dan perhatian harusnya menjadi milik Athala, si pemilik raga sesungguhnya.
Namun, kenapa dirinya yang menerima?
Bukankah seharusnya sama saja?
Pusing, otak kecilnya yang selalu memikirkan rumus matematika sialan harus berkelahi dengan teka-teki kehidupan misterius yang dialaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
004: Give Me A Life
FantasyJangan sia-siakan makanan atau akan ada sosok yang memakanmu.
