⚠No plagiat and remake⚠
-Vote dan Komen ya..-
•
•
•
Gemuruh langit terdengar begitu berisik tapi bagi remaja yang tengah memandangi langit itu merasa bahwa langit memahami dirinya. Menggantikan dirinya berteriak karena rasa aneh menyeruak dalam dirinya.
Tangan kecil yang begitu rapuh miliknya menyentuh kaca jendela perlahan. Kaca itu memantulkan bayangan dirinya secara samar.
004 yakin jika wajah raga yang ditempatinya ini awalnya sangat manis. Namun, karena ulahnya yang tidak pernah makan secara teratur juga jarang keluar dari ruangan membuat raga ditempatinya ini terlihat menyeramkan.
Pipi yang awalnya berisi kian menirus. Bibir kusam dengan kulit putih merona menjadi putih pucat seperti kulitnya dulu sebelum merasuk ke raga Athala.
Menyeramkan.
Berbalik dan menatap pintu kamar yang sedikit terbuka membuat 004 tertarik untuk keluar. Menoleh ke arah jendela yang menampilkan pemandangan hujan semakin mendorong keinginan itu lebih besar.
Lorong gelap dan cahaya remang sebagai penerangan sedikit mengingatkan 004 akan masa lalunya saat ditarik paksa untuk mencoba obat yang mereka buat. Mengingat hal itu membuat 004 merasa lorong yang dirinya lewati terasa panjang.
Tidak ada seorang pun di lorong ini, kecuali dirinya. Namun, sebuah cahaya dari ruangan yang tidak jauh darinya membuatnya penasaran.
Memastikan tidak orang selain dirinya, 004 memasuki ruangan yang membuatnya penasaran secara perlahan. Entah apa yang membuatnya penasaran tapi sekarang rasa penasaran itu lenyap saat melihat sosok yang dikenalnya.
Rucas yang berbaring dengan tangan terinfus juga alat pernapasan, ini seperti 004 melihat dirinya sendiri setelah mencoba bersuara. Mata kakak dari raga Athala yang terpejam terlihat damai tapi 004 yakin jika aslinya terasa sakit.
Merasa tidak mendapatkan hal menarik selain hanya Rucas yang berbaring lemah, 004 melangkahkan kakinya untuk segera pergi, kembali ke tujuan awalnya.
Namun, baru tiga langkah untuk keluar, 004 dapat mendengar dua orang tengah berbicara dari balik pintu. Segera saja 004 bersembunyi di bawah kasur milik Rucas.
"Bagaimana bisa Tuan Enzi menolak untuk memindahkan Tuan muda Rucas ke rumah sakit?" Pernyataan kesal itu membuat 004 melebarkan matanya.
Suara yang selalu terngiang di kepalanya. Suara yang menghantui dirinya sejak keluar rumah sakit.
Ari, sosok yang bersama Liam melihat tangan di bawah kasur dari tuan muda kedua itu segera mengarahkan Liam ke sofa samping yang agak jauh dari terlihatnya tangan di bawah kasur.
Terkekeh menyesuaikan keadaan, Ari mengusap punggung Liam untuk menenangkan. "Ayolah, Liam. Santai. Lagi pula kamar Tuan muda Rucas sudah sesuai standar rumah sakit sama seperti kamar Tuan muda Athala."
Liam menghembuskan napasnya kasar sembari matanya menatap kasihan pasiennya. Namun, sorot terdalam di matanya terlihat bahwa Liam muak dengan segalanya yang tampak melelahkan.
Sedangkan tubuh 004 terlihat bergetar hebat sembari perlahan menutup mulutnya, berjaga-jaga jika dirinya merintih tanpa sadar akibat rasa sesak yang dialaminya.
"Jika tidak bisa mendapat persetujuan Tuan Enzi, maka aku harus mendapat persetujuan Tuan muda Lucas karena ini menyangkut kembarannya," ujar Liam menyampaikan hal yang di pikirannya dan berdiri hendak menelepon tuan muda pertama Bimantara.
Ari yang mendengarnya sontak menggeleng dan menarik Liam kembali duduk. "Hey, Tuan muda Lucas pasti sibuk saat ini. Dan lebih baik kau istirahat, Liam. Kau terlihat stres."
Memijit pangkal hidungnya teratur, Liam mengangguk tapi kemudian menggeleng. "Tidak, aku perlu menjaga Tuan muda Rucas. Dia Pasienku," tolak Liam pelan.
"Biar aku yang menjaganya dan kau istirahat saja," tawar Ari dengan senyum ramah khasnya.
Saat Liam hendak kembali menolak, Ari segera saja mengeluarkan ekskresi khawatir. "Liam, jika kau tidak istirahat, kau yang akan sakit hingga tidak bisa menjaga Tuan muda Rucas. Aku bisa menjaganya untukmu untuk saat ini karena kondisi Tuan muda Athala telah membaik," jelas Ari yang membuat Liam ragu menolak.
"Baiklah jika kau memaksa. Terima kasih, Ari. Aku akan beristirahat sekarang," ujar Liam ragu tapi segera berjalan keluar menuju kamarnya.
Seusai Liam pergi, Ari memastikan agar Liam tidak kembali lagi dan segera menjemput Tuan muda ketiga Bimantara yang tengah bersembunyi di bawah kasur. Napasnya tidak beraturan juga badannya bergetar.
"Tuan muda Athala, semuanya baik-baik saja sekarang. Saya ada di sini.." ujar Ari menenangkan saat uluran tangannya di tolak.
004 menatap Ari dengan ketakutan, pupil matanya terus bergerak gelisah. Namun, perkataan lembut dan penuh pengertian dari Ari melelehkan pertahanannya.
"Atur napas anda, Tuan muda. Saya di sini untuk menjaga anda," ujar Ari yang mulai menarik 004 perlahan ke dekapannya. "Di sini, saya di sini. Menjaga anda pada pelukan saya."
Melirik pada sosok Tuan muda kedua di atas kasur, Ari meyakinkan diri untuk pergi sebentar mengantarkan Tuan muda bungsu ke kamarnya. "Kamar Tuan muda Athala tidak jauh dari sini, pasti tidak masalah," batinnya yakin.
Dalam perjalanan menuju kamar yang Tuan muda bungsu, Ari bertepatan dengan Ravael. Mata pengasuh itu tampak begitu tajam menatap Ari tapi seolah masih mencoba menjaga kesopanannya.
"Dokter Ari, bagaimana anda bisa bersama Tuan muda Athala?" tanya Ravael yang membuat Ari terkesan curiga.
Melirik pada 004 yang telah tertidur, Ari menjawab sopan pada yang lebih di bawahnya sembari memberikan umpan balik. "Tuan muda saya temukan berjalan di lorong. Bagaimana bisa anda membiarkan Tuan muda sendirian?"
Tubuh Ravael terlihat tegang sekilas tapi segera mengendalikan diri, membuat kecurigaan Ari semakin menjadi. "Itu adalah kelalaian saya. Mohon maafkan saya, Dokter Ari," ujar Ravael dengan nada tenang dan sopan.
"Biarkan saya saja yang kini membawa Tuan muda Athala," ujar Ravael membuat Ari mengencangkan dekapannya tapi tak ayal memberikannya walau di dalam dirinya begitu ragu.
"Saya akan memeriksa kondisi Tuan muda besok pagi." Setelah mengatakan hal itu Ari segera pergi tapi baru beberapa langkah sebuah bunyi keras mengagetkan mereka.
Entah karena keluarga Bimantara dikutuk atau tidak, alarm bahaya kediaman terdengar begitu keras. Ari dan Ravael saling menatap dan segera saja berlari keluar tapi sebelumnya Ari harus mengecek sang tuan muda kedua yang telah dititipkan padanya.
Baru juga sampai pada kamar sang tuan muda kedua, ponsel yang ingin Ari gunakan sebagai perantara untuk meminta bantuan untuk membawa tuan muda justru berdering menampilkan notifikasi bahwa keamanan mansion lama Bimantara telah di retas dan menimbulkan kerusuhan.
Napas tidak beraturan Ari terdengar keras dan keringat dingin membanjiri tubuhnya. Menyapu rambut lepeknya ke belakang, Ari tertawa bodoh.
"Sialan, kediaman ini semakin kacau."
Memastikan bahwa sosok pasien milik Liam baik-baik saja, Ari segera duduk untuk menenangkan dirinya sembari beristirahat. Tetapi, baru juga selesai menghela napas, sebuah dering telepon menganggunya.
"Tuan muda Athala diculik!"
Seruan dari seberang membuat mata Ari melebar tidak percaya. Mengepalkan tangannya untuk meredam kemarahan hingga darah mengalir dari sela-sela jari, Ari segera mematikan sambungan telepon.
"Fuck."
•
•
•
Aku up karena mataku lumayan membaik dan..
Aku nggak percaya dari tadi ada notifikasi vote..
Dari yang awalnya cuman dikit jadi banyak banget!
Terima kasih untuk kalian!
Love you!
Nah, tingkatin jadi ada notifikasi komen ya.. Hihi..
Ah iya.. Aku nggak nuntut tapi jangan jadi silent readers, apresiasi penulis dengan vote dan komen kalian ya.. Pilih salah satu dari vote atau komen, kalian adalah penyemangat para penulis..
KAMU SEDANG MEMBACA
004: Give Me A Life
FantasiJangan sia-siakan makanan atau akan ada sosok yang memakanmu.
