⚠No Plagiat and Remake⚠
-Awali dengan vote, akhiri dengan komentar-
Bulan si penguasa malam kini berada di puncak kejayaannya dan bentuknya yang bulat sempurna itu telah tiga kali 004 lihat selama siklus bulan berjalan, dengan kata lain 004 berada di bawah naungan Arekta dan Ayasha selama 3 bulan.
Selama itu 004 hanya mengalami kemalangan sebelum Ayasha mengulurkan tangannya. Pemuda dengan surai pirang itu selalu memperhatikan dirinya begitu hati-hati. Perlakuannya lembut dan tutur katanya menenangkan, sangat memikat hati, kan?
Namun, di segala sisi manapun, 004 merasa di setiap perlakuan Ayasha yang lembut serta tatapan mata dari sepasang netra biru Ayasha yang kesepian terlihat seperti memperlakukan orang lain dan bukan dirinya.
Sepasang manik gelap 004 menatap jendela kamar dengan pandangan yang tidak dapat diartikan. Tentunya 004 bingung dengan apa yang dirasakannya saat ini karena dirinya belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Namun,
Kenapa rasanya sakit?
Lagi-lagi seperti ini, saat berada di bawah asuh Enzi dan si kembar juga dirinya pernah merasakan perasaan semacam ini. Rasa menginginkan yang lebih.
Membicarakan tentang sosok yang memperhatikannya, sepertinya 004 mengingat orang yang memperlakukan dirinya dengan lembut juga. Memeriksanya, mengajari beberapa hal baru, dan memberikan hal-hal enak seperti Ravael sebelum membawanya kemari.
Ari, bagaimana kabarmu? Tidakkah kamu akan memeriksa diriku yang pesakitan ini?
"Kenapa belum tidur, hm?" Ayasha yang melihat 004 hanya memandang langit setelah dirinya mendapat panggilan dari seseorang pun bertanya.
Athala diam beberapa saat dan hanya menggeleng pelan sebagai balasannya karena tidak tahu harus membalas seperti apa. Dirinya belum pernah ditanya seperti itu.
Melihat Ayasha yang mendekat untuk berbaring di sampingnya tidak membuat 004 terganggu untuk kembali menatap langit malam yang hanya diisi dengan bulan purnama.
Dapat dirasakan tangan yang melingkar di perut 004. Pelaku yang melingkarkan tangan diperutnya pun hanya memejamkan mata untuk menikmati suasana yang tenang saat ini karena lelah akan pekerjaan.
"Entah apa yang kamu pikirkan Athala, aku berharap semua itu tidak akan pernah terjadi. Yang terjadi hanya akan ada senyuman di wajahmu," ujar Ayasha yang telah kembali membuka mata dan mulai memperhatikan netra kelam milik 004 yang sedari tadi melihat bulan bersinar di antara kegelapan malam.
Ayasha menarik tubuh 004 secara tiba-tiba untuk berbaring bersamanya. "Kamu adalah bulan bagi kami. Cahaya di antara kegelapan kami."
Karena mereka berbaring berhadapan, 004 memberanikan diri untuk menatap netra biru Ayasha yang begitu memikat. Hal yang ingin ditemukan tentu tidak 004 dapat dan hanya sebuah kebingungan dirinya tangkap.
Apa yang dirasakan Ayasha?
Kesepian, rasa sakit, serta ketiadaan yang pada akhirnya terlihat memiliki secercah harapan walau itu hanya seutas tali rapuh.
004 mengulurkan tangannya. Jari-jemarinya mengelus lembut pipi Ayasha. "Aku bulan?" Tanya 004 dengan begitu pelan hingga seperti lirihan.
"Ya, bulan. Cahaya dalam kegelapan kami. Harapan kami." Ayasha berucap sembari mencium tangan 004 yang sedari tadi mengelus wajahnya dengan begitu lembut.
Ayasha menyatukan dahi mereka hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Bahkan, mereka bisa saling merasakan deru napas masing-masing.
"Tapi, tubuhku tidak ada cahaya?" 004 berujar ragu.
KAMU SEDANG MEMBACA
004: Give Me A Life
FantasyJangan sia-siakan makanan atau akan ada sosok yang memakanmu.
