22

247 18 8
                                        

⚠No Plagiat and Remake⚠
-Awali dengan vote, akhiri dengan komentar-

Selimut membungkus tubuh. Terasa hangat seolah sedang dipeluk erat. Aroma lembut lavender dari pewangi membawa rasa aneh, seolah ada yang menggelitik perutnya. Nyaman. Ini pertama kalinya ia merasa aman setelah sekian lama.

Perlahan mata yang sebelumnya terpejam pun terbuka menampilkan sepasang netra berwarna hitam layaknya malam. Siapa pun yang melihat pasti akan tenggelam, menikmati kilauan indah yang terpancar.

Sang pemilik netra hitam tersebut ialah Athala Birendra Bimantara, dengan raganya yang dikuasai oleh sebuah jiwa. Jiwa seorang kelinci percobaan dari penelitian. Tanpa nama. Namun, jiwa itu dikenal sebagai 004.

004 bangkit dari tidurnya. Ia menyadari jika ini pertama kalinya semasa tidur itu berlalu begitu saja tanpa ada bayangan rasa sakit masa lalunya.

"Oh, kamu sudah bangun?"

Menoleh ke asala suara, 004 mendapati seorang pemuda dengan surai cerah membawa nampan berisi makanan. Pemuda itu menampilkan senyum lembut yang jarang ditunjukkan pada semua orang.

"Yasha ...." 004 berusaha untuk memanggil pemuda yang mulai berjalan ke arahnya setelah mendengar usahanya.

Ayasha, pemuda dengan surai pirang itu mendekat. Nampan berisi makanan yang dibawanya ia taruh ke nakas di samping kasur. Kecupan selamat pagi Ayasha berikan pada 004 yang sedari tadi memperhatikan dirinya.

"Tampaknya kamu tidak bermimpi buruk hari ini, benar?" Ujarnya pelan sesaat ia memberikan kecupan kecil di pipi lembut 004 yang mulai berisi.

Anggukan 004 berikan sebagai jawaban. Namun, melihat dahi Ayasha yang berkerut seolah menginginkan jawaban lain pun ia berbisik pelan, "Iya. Tidak mimpi buruk."

Senyum tipis itu berubah menjadi senyuman lebar yang tampak manis. "Bagus sekali!" Puji Ayasha. Ia kembali memberikan kecupan di pipi 004.

Pipi 004 memerah. Ia perlahan juga menampilkan senyum tipis di wajahnya. "Yasha, bolehkah aku bertanya?" Ujarnya meminta izin.

"Katakan, apa yang ingin kamu tanyakan?"

"Kenapa saat aku melihatmu tersenyum lebar ke arahku, jantungku langsung berdebar? Apakah aku rusak?" 004 bertanya ragu, tapi melihat raut wajah Ayasha yang justru tertawa pelan membuatnya bingung.

"Dengar, kamu tidak rusak, Athala. Jantungmu berdebar melihatku tersenyum karena kamu senang, bahagia," jelas Ayasha dengan pengertian.

Ayasha tersenyum. Melihat sosok remaja yang tengah berpikir tentang apa yang tengah dirasakan membuat Ayasha cukup terhibur. Ia pun gemas. Diciumnya berulang kali wajah sosok 004 hingga untuk pertama kalinya anak itu menolak dicium karena risi.

"Baiklah, cukup." Ayasha berucap pada dirinya sendiri setelah puas mengecup wajah anak di hadapannya itu. "Makanlah makanan yang kubawakan, Athala," ujarnya sembari bangkit dari duduknya untuk segera pergi.

"Bekerja?" tanya Athala memastikan dan tentu saja jawabannya adalah iya. "T-tidak bisakah kamu berada di sisiku hari ini?"

Mata biru Ayasha menatap sepasang manik hitam yang menaruh perhatian padanya. "Maafkan aku, hm? Walaupun ini permintaan pertamamu, Athala, aku tidak bisa mengabulkannya. Pekerjaan kali ini tidak bisa aku tinggalkan begitu saja," jelas Ayasha pelan. Jari jemarinya dengan hati-hati merapikan rambut 004 yang berantakan.

"Kalau begitu, aku pergi, Athala."

Melihat Ayasha yang menghilangkan di balik pintu, 004 mengusap dada sebelah kirinya. Jantung yang tadinya berdebar saat melihat senyum Ayasha, sekarang seolah berdenyut sakit melihat kepergiannya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 29 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

004: Give Me A LifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang