•
•
•
Suhu udara yang terasa begitu dingin dan kini sudah mulai pergantian tugas antara matahari dengan bulan. Namun, semua orang yang berada di kediaman Bimantara tidak peduli karena fokus terhadap pencarian tuan muda bungsu Bimantara.
Para pelayan membersihkan kekacauan akibat alarm yang diretas tadi malam dengan hati-hati juga teliti. Suasana kediaman Bimantara terasa berat tapi mereka harus fokus, karena bagaimanapun mereka tidak ingin menjadi sasaran kemarahan sang Tuan.
Enzi yang selama ini menyibukkan diri dengan segala berkas kantor juga berkas dari dunia bawah hanya terbaring di sofa kamarnya sembari membawa botol alkohol di tangannya. Perasaannya campur aduk, merasa marah akan dirinya yang bodoh tapi enggan mengakuinya.
Sial, kenapa semua ini terjadi?
Keluarganya sedari dulu memang sudah hancur. Namun, kenapa semakin rumit jika mencoba memperbaiki hubungan mereka? Rasa ragu lebih dominan.
Lucas dan Rucas, dirinya tidak terlalu memperhatikan mereka karena mereka sudah besar. Tidak masalah, kan?
"Bersuaralah, minta tolong kepada Ayah."
Racauan tidak jelas juga suara yang lemah milik Enzi memecah keheningan di kamarnya sendiri. Meneguk kembali alkohol di tangannya dan seusai meminum alkohol, Enzi memukul kepalanya menggunakan tangan lainnya.
"Bodoh, bodoh! Sialan!"
Dari penyelidikan singkat dengan menginterogasi semua bawahan yang berada di mansion lama Bimantara tadi malam tentang penculikan Athala sang putra bungsu, Ravael sendiri yang menculik putranya itu.
Pengasuh sedari kecil yang selamat dari tangan Athala sewaktu menggila dengan alasan kurang jelas itu menculik putranya dengan rapi, tidak ada jejak yang tertinggal.
Meminta bantuan pada si putra sulungnya begitu susah. Semua panggilannya tidak terjawab. Dasar anak bangsat, meninggalkan Ayahnya sendiri dengan semua masalah yang terjadi.
Mengusap wajahnya sendiri dengan kasar, Enzi berjalan terhuyung ke arah kamar putra keduanya. Saat sampai, dirinya menemukan Liam tengah memeriksa putranya itu.
Liam yang melihat kehadiran Enzi tentu merasa senang. Mencoba berjalan mendekat ke arah sang Tuan, Liam segera berhenti dan mengernyit kala mencium aroma alkohol yang begitu kuat.
"Tuan, selamat datang."
Sambutan hangat Liam tidak dipedulikan karena Enzi terus berjalan menuju Rucas yang masih memejamkan mata. Liam hanya diam, memperhatikan apa yang akan Enzi lakukan. Pikirnya Enzi akan mengusap lembut wajah putra keduanya itu yang selalu mendambakan kasih sayangnya.
Namun, itu hanya pemikiran Liam karena yang sebenarnya terjadi adalah Enzi memukul wajah Rucas yang masih mengenakan alat bantu pernapasan. Mata Liam terbelalak dan tentu mulai menghentikan aksi Enzi yang semakin tidak terkendali.
"Tuan, apa yang anda lakukan?!"
Menghentikan aksi Enzi yang sedang dalam pengaruh alkohol membuat tubuh Liam tersentak mundur karena tidak sengaja terkena pukulan.
Alat bantu pernapasan Rucas dilepas paksa. Infus yang masih melekat kuat di tangan Rucas juga dicabut kasar hingga darah mengucur deras.
"Dia kembaran si anak sialan itu. Mereka mirip, memukul salah satunya juga tidak masalah."
Pernyataan Enzi terdengar gila dan tidak masuk akal membuat Liam berseru keras, menjaga aktingnya dengan baik. "Hentikan! Walau mirip mereka berbeda!"
Ari segera datang saat mendengar keributan di kamar tuan muda kedua Bimantara. Buru-buru Ari mencoba melerai Enzi bersama Liam. Sial, sang Tuan Besar telah gila.
KAMU SEDANG MEMBACA
004: Give Me A Life
FantasyJangan sia-siakan makanan atau akan ada sosok yang memakanmu.
