Dimalam hari, Harsa terbangun dari tidurnya. Ia mengedarkan pandangannya, dan dapat ia lihat, ke-enam sahabatnya itu tengah tertidur pulas dengan gaya yang berbeda-beda. Seperti, Naka, Leo dan Renjana tertidur dengan posisi terduduk dan bersandar di bahu sofa. Jovan dan Gevin berbaring dilantai dengan beralaskan tikar, lalu Melvin tertidur di kursi samping bangsal Harsa.
Harsa terkekeh pelan lalu menggerakkan tangannya dengan perlahan karena ia takut membangunkan Melvin yang tertidur di kursi dekat bangsalnya dengan tangannya yang menggenggam tangan Harsa.
Harsa mencoba untuk mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk, lalu perlahan ia menurunkan kakinya dan seketika ia merasakan dinginnya lantai dibawah sana. Harsa ingin ke toilet, ia ingin membuang air kecil.
Perlahan tangannya menarik tiang infus dan berjalan menuju toilet. Pusing di kepalanya tiba-tiba saja datang, yang membuat Harsa meringis tertahan. Sampailah salah satu dari sahabatnya terbangun dan melihat Harsa yang sedang berjalan dengan menarik tiang infus.
Dengan segera ia bangkit dan meraih tangan Harsa. "Lo mau kemana?." Tanyanya.
"Gue berisik ya? Maaf, lo jadi kebangun." Ucap Harsa sesal.
"Ck! Kalo mau kemana-mana itu minimal bangunin salah satu dari kita. Gimana kalo lo jatuh? Sekarang lo mau kemana? Sini gue bantu." Omelnya.
"Maaf.. Gue cuman kebelet kok." Ucap Harsa.
"Iya, pelan-pelan."
"Makasih."
"Don't say thank you to me, itu udah jadi tugas gue." Ucap Renjana tersenyum.
"Sana masuk, hati-hati awas licin." Ucapnya mewanti-wanti.
Lalu Harsa pun masuk kedalam toilet, dan Renjana yang berdiri menunggunya. Beberapa menit kemudian, Harsa keluar dari toilet, dengan sigap Renjana langsung menuntunnya kembali.
"Gue bosen, pengen jalan-jalan diluar, boleh gak?." Ucap Harsa meminta persetujuan dari Renjana.
"Gak usah ngadi-ngadi deh lo, udah sana tidur lagi."
Harsa menghembuskan nafasnya pasrah, lalu ia berjalan mendekati kasurnya. Renjana termenung sesaat, lalu ia pun menatap punggung Harsa.
"Gak usah lama-lama." Ucap Renjana tiba-tiba, yang membuat Harsa menatapnya bingung.
"Lo bosen kan? Pengen jalan-jalan ke luar? Ya udah, gak usah lama-lama." Ucap Renjana yang mengerti dengan tatapan bingung Harsa. Seketika senyuman lebar terukir di wajah Harsa.
"Serius?." Tanyanya memastikan.
"Hm."
Lalu Renjana mendekati Melvin yang sedang tertidur dan membangunnya.
"Bang, si Asa pengen jalan-jalan diluar, boleh?." Ucap Renjana meminta ijin pada Melvin yang sudah membuka matanya.
"Iya, tapi jangan lama-lama ya?." Jawab Melvin yang dianggukki oleh Renjana.
"Hayu." Ajak Renjana menarik tangan Harsa lembut dan merebut tiang infus itu dari tangan Harsa.
•
•
•
Awalnya, keduanya sedang berkeliling disekitar ruangan Harsa. Namun Harsa meminta untuk berkeliling menelusuri koridor rumah sakit yang ramai dilalui oleh orang-orang, dan Renjana pun menurutinya.
"Banyak orang ya disini." Ucap Harsa.
"Ya iyalah, mereka itu lagi nunggu keluarganya yang lagi sakit. Mungkin." Sahut Renjana.
Disaat keduanya melewati kerumunan, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, bahkan ada juga yang sampai memuji ketampanan keduanya.
"Mas ganteng ini mau pada kemana atuh, malem-malem begini?." Tanya Ibu-ibu yang sedang duduk di kursi yang mereka lewati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Home (√)
Teen FictionKatanya.. Orang asing akan menjadi keluarga, dan keluarga akan menjadi asing. Itu ternyata memang bener adanya. Kami adalah 7 mimpi yang berusaha untuk bangkit dan berdiri di kaki kami sendiri. Di bawah derasnya air hujan, kami tertawa guna menutupi...
