58 || Rindu.

171 9 0
                                        

Langit gelap dengan cahaya rembulan yang ditemani kilauan bintang dan sejuknya hembusan angin di sela dedaunan yang bergoyang diatas pohon sana, suara nyanyian serangga kecil begitu riang terdengar melengkapi malam ini.

Dibalik jendela yang tertutup rapat, terlihat seorang pemuda yang merenung seraya menatap langit malam dengan tatapan sayu. embusan nafas terdengar lirih, beriringan dengan menetesnya butiran bening dari kelopak mata yang berembun. Bibir kecil itu bergetar dengan alis yang mengerut di pelipisnya. Mata yang memerah tanda siap untuk kembali meneteskan mutiara.

Telapak tangan lebar itu mulai terangkat guna menangkup wajah yang selalu terlihat tenang, dan malam ini memperlihatkan rapuhnya. Pintu kamar yang semula tertutup rapat, kini perlahan mulai terbuka dan menampakkan sosok pemuda yang lebih tua beberapa bulan darinya. Si pemuda April mulai membawa kakinya melangkah untuk menghampiri pemuda Oktober yang tampaknya tidak menyadari akan kehadirannya di kamar itu.

Tangan kekar miliknya terangkat guna menepuk pundak rapuh itu perlahan. Pemuda Oktober tersentak lalu menatap si April yang tersenyum sehingga lengkungan bulan sabit tercipta di wajah tampan miliknya.

"Ada apa? Kok nangis?." Tanyanya.

Pemuda itu perlahan membawa pandangannya menatap lantai yang dingin di bawah sana. Ia menunduk dengan butiran bening yang kembali mengalir dari kelopaknya. Jovan tersenyum, lalu menyimpan kedua telapak tangannya di kedua bahu sang Adik yang bergetar.

Setelah mulai merasa lega, pemuda itu perlahan kembali mengangkat kepalanya dan pandangan keduanya pun bertemu.

"Bang."

Suara yang serak dan terdengar lirih itu memanggil sang Abang. Pemuda April itu bergumam sebagai respon untuk si Adik, dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.

"Duduknya di sana, yuk? Biar lebih nyaman ngobrolnya." Ajak Jovan lalu menarik Gevin untuk duduk di tempat tidur.

"Ada apa?." Lanjutnya bertanya.

"Bang,"

"Hm?."

"Gimana rasanya di sayang dan dapat perhatian dari orang tua?."

Jovan terdiam ketika mendengar pertanyaan yang lolos dari belahan bibir Adiknya. Pertanyaan itu membuat hati Jovan memcelos mendengarnya. Ia bingung harus menjawab apa.

"Kenapa gue gak pernah ngerasain hal itu? Gue kangen sama mereka, tapi mereka benci sama gue. Gue pengen ngerasain apa yang kalian rasain. Gue pengen dipeluk Bunda, di sayang Ayah, main sama Abang. Tapi gue gak bisa dapetin itu semua,"

"Gue udah berusaha supaya gue bisa jadi yang terbaik, gue selalu berusaha supaya mereka mau ngelirik gue. Tapi nyatanya mereka gak pernah ngehargain usaha gue. Apa gue harus mati dulu supaya mereka ngelirik gue kayak Bang Asa? Apa gue harus punya penyakit serius dulu supaya mereka peduli sama gue kayak Bang Nana? Apa gue harus kayak gitu?."

Jovan menggelengkan kepalanya ribut dengan derai air mata yang mengalir dari pelupuknya. Curahan hati dan pertanyaan Gevin sungguh membuat hatinya sakit, ia menunduk seraya menggenggam erat jemari rapuh itu. Gevin menggigit kuat bibirnya agar isak tangisnya tak terdengar oleh siapapun. Gevin sangat merindukan keluarganya, sungguh.

"Enggak, Gevin. Lo gak perlu kayak gitu, dan jangan kayak gitu. Jangan ikuti jejak Abang-abang lo itu, Gevin. Dengerin gue, ya? Hidup itu ibaratkan sebuah ayunan, dan usaha yang membuat ayunan itu mengayun lebih tinggi. Ayunan itu gak hanya bisa bergerak kalo ada bantuan seseorang yang mendorongnya, tapi juga bisa dengan kaki kita sendiri. Disaat kita membawa kedua kaki kita untuk mundur, itu tandanya kita sedang terpuruk dalam kesedihan. Tapi disaat kita mengangkat kaki kita dan ayunan pun mengayun bebas, itu tandanya kita udah lepas dari tekanan dan kita bisa merasakan kebahagiaan. Dan akan terus seperti itu,"

Our Home (√) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang